Masjid tidak boleh sepi dari generasi muda. Kehadiran mereka menjadi tanda hidupnya peradaban Islam dan masa depan dakwah yang berkelanjutan.
Di tengah arus zaman yang kian digital, banyak anak muda lebih betah nongkrong di kafe atau berselancar di dunia maya ketimbang mengisi waktu di rumah Allah.
Kondisi inilah yang memunculkan keresahan sekaligus ide-ide segar agar masjid kembali menjadi pusat peradaban, tempat ibadah sekaligus ruang kreativitas yang ramah bagi generasi muda.
Itulah pesan segar yang disampaikan Ustaz Khoirul Abduh, M.Si, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, dalam majelis ilmu di Masjid Babussalam, Mojokerto, Ahad (21/9/2025). Dia bahkan menggagas ide menjadikan halaman masjid seperti kafe dengan wifi, namun tetap berorientasi ibadah.
Sejak awal, Ustaz Abduh menegaskan bahwa majelis taklim bukan sekadar forum kumpul, melainkan jalan membuka pintu surga.
“Kenapa saya katakan majelis ini majelis ilmu? Karena membuka kunci pintu surga itu harus dengan ilmu,” ujarnya di hadapan jamaah yang dilansir di kanal Youtube Pak Win.
Ustaz Abduh mencontohkan banyaknya kesalahan yang terjadi saat ibadah umrah akibat kurangnya pemahaman.
Ada jamaah yang sudah tahalul sebelum waktunya, ada pula yang salah dalam niat ihram karena tidak tahu batas miqat. “Beragama tanpa ilmu itu bahaya, bisa menjerumuskan,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk tidak berhenti menuntut ilmu agar ibadah semakin berkualitas.
Dalam bagian lain, Ustaz Abduh menyinggung soal maraknya perpecahan di tubuh umat Islam. Menurutnya, salah satu sumber masalah terbesar adalah penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, terutama melalui media sosial.
“Allah sudah mengingatkan dalam surat Al-Hujurat ayat 6, jika ada berita datang maka tabayyunlah. Tapi umat Islam sering ikut-ikutan menyebar kabar tanpa klarifikasi. Akibatnya mufaraqah, pecah belah,” jelasnya.
Dia mengingatkan agar umat berhati-hati menggunakan gawai, karena sekali salah menyebar kabar bohong, bisa menimbulkan fitnah dan memicu konflik.
Ustaz Abduh juga menyoroti lemahnya umat Islam dalam ranah politik, ekonomi, dan sosial. Padahal, jumlah umat Islam di Indonesia sangat besar.
“Kita kalah bukan karena jumlah kita sedikit, tapi karena terpecah belah. Padahal Allah sudah melarang bercerai-berai dalam surat Ali Imran ayat 103,” tegasnya.
Ustaz Abduh menyinggung fenomena umat yang lebih sering terjebak dalam perdebatan emosional ketimbang substansi.
“Kadang kita lebih sibuk bertengkar soal simbol politik, sementara substansi ekonomi umat tertinggal jauh. Padahal kalau kita bersatu, kekuatan kita sangat besar,” tambahnya.
Ustaz Abduh mengingatkan, Rasulullah saw telah memberi teladan dalam menjaga persatuan. Setelah Nabi wafat, para sahabat berbeda pendapat mengenai kepemimpinan. Namun, mereka menyelesaikannya dengan musyawarah penuh adab.
“Perbedaan itu pasti ada, tapi bagaimana kita mengelolanya itu yang penting,” ucapnya.
Bagi Ustaz Abduh, prinsip musyawarah dan menjaga ukhuwah harus menjadi pijakan umat Islam hari ini, baik dalam politik maupun kehidupan sehari-hari.
Ustaz Abduh juga menyinggung dimensi sosial dari ibadah salat. Menurutnya, ukuran salat bukan hanya rukuk dan sujud, tetapi bagaimana ia mencegah perbuatan keji dan mungkar.
“Kalau salatnya benar, mestinya lingkungan juga merasakan. Ukurannya sederhana, kalau sandal jamaah aman di masjid, berarti salatnya sudah memberi efek sosial,” paparnya.
Dia mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada ritual, melainkan menjadikan ibadah sebagai sarana memperbaiki akhlak, keluarga, dan masyarakat.
Menyoroti kondisi masjid yang semakin sepi dari generasi muda, Ustaz Khoirul mengajak takmir untuk kreatif dalam berdakwah.
“Kalau perlu halaman masjid dibuat kafe dengan wifi terbaik. Tapi saat azan, kafenya tutup dan semua diarahkan ke masjid. Itu bisa jadi metodologi dakwah baru,” ujarnya disambut tawa jamaah.
Menurutnya, dakwah tidak melulu harus di atas mimbar. Kreativitas dalam menyapa generasi muda sangat penting, selama tidak keluar dari tuntunan syariat.
“Selama tidak melanggar syariat, inovasi dakwah justru bisa memperluas keberkahan,” tambahnya.
Tausiyah ditutup dengan ajakan untuk meneladani Rasulullah dalam mengelola masyarakat majemuk. Nabi berhasil membangun Madinah melalui Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang mengatur kehidupan bersama antaragama dan antarsuku.
“Piagam Madinah itu diakui dunia sebagai tata negara terbaik sepanjang sejarah. Rasulullah bisa menjadi pemimpin semua golongan, bukan hanya untuk umat Islam. Itu yang harus kita contoh,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments