Di tengah dinamika ekonomi yang terus bergerak, Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2025 KSPPS BTM Mulia bukan sekadar forum laporan dan evaluasi. Di Bale Sang Pencerah, Sabtu (24/1/2026), forum ini menjelma menjadi ruang perenungan tentang bagaimana ekonomi bisa menjadi jalan dakwah, dan koperasi menjadi alat pemberdayaan umat.
Hal itu tergambar dalam sambutan Anwar SE MM, dari Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan. Dengan nada tenang namun penuh keyakinan, ia menegaskan bahwa keberadaan KSPPS BTM Mulia adalah bagian dari gerakan dakwah ekonomi Muhammadiyah.
“BTM Mulia ini bukan semata lembaga keuangan. BTM adalah dakwah ekonomi. Melalui inilah masyarakat diedukasi agar bertransaksi secara sehat, adil, dan sesuai syariah,” tuturnya.
Anwar mengingatkan bahwa kekuatan besar Muhammadiyah tidak bertumpu pada figur atau kehebatan individu, melainkan pada sistem yang kokoh. Amal usaha yang tersebar luas dan jaringan yang terbangun rapi menjadi penopang utama organisasi ini tetap tegak dan berkelanjutan.
“Kekuatan Muhammadiyah ada pada sistem. Bukan pada siapa orangnya, tetapi pada bagaimana sistem itu berjalan,” tegasnya.
Prinsip inilah yang kemudian diterjemahkan dalam visi Majelis Ekonomi PDM Lamongan, yakni mendorong lahirnya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang ekonomi, termasuk pembentukan BTM atau koperasi syariah di setiap Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Lamongan.
Anwar lalu berbagi kenangan ketika pertama kali mengunjungi BTM Mulia beberapa tahun silam. Saat itu, aset koperasi masih berada di kisaran Rp7 miliar. Kini, setelah kembali hadir pada RAT 2025, ia menyaksikan lompatan pertumbuhan yang signifikan.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada Dewan Pengawas Syariah dan pengurus. BTM Mulia berkembang dengan baik,” ujarnya.
Ia bahkan memaparkan analisis menarik. Saat pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 4,9 persen dan Jawa Timur sedikit di atasnya, BTM Mulia justru mencatat pertumbuhan sekitar 15 persen—angka yang mencerminkan kepercayaan anggota sekaligus efektivitas pengelolaan.
Namun, pertumbuhan tersebut, menurut Anwar, harus diimbangi dengan tata kelola yang kuat. Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip GRC (Governance, Risk, and Compliance) dalam mengelola lembaga keuangan syariah.
“BTM harus dikelola dengan tata kelola yang baik, manajemen yang dipatuhi, serta kepatuhan penuh terhadap prinsip syariah,” pesannya.
Baginya, ukuran keberhasilan BTM Mulia tidak hanya pada besarnya aset, tetapi juga pada pertumbuhan anggota, kesehatan lembaga, dan luasnya manfaat yang dirasakan umat.
“Semoga BTM Mulia tidak hanya tumbuh asetnya, tetapi juga anggotanya. Dan yang terpenting, tetap sehat serta memberi manfaat bagi anggota dan umat di Kabupaten Lamongan,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments