Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Melampaui Diagnosis Ganda: Komorbiditas Kecemasan, Alkohol sebagai Sindrom Neurobiologis Perilaku Tunggal

Iklan Landscape Smamda
Melampaui Diagnosis Ganda: Komorbiditas Kecemasan, Alkohol sebagai Sindrom Neurobiologis Perilaku Tunggal
pwmu.co -
Era Catur Prasetya dr SpKJ

Opini oleh: Era Catur Prasetya dr SpKJ
RS Muhammadiyah Lamongan – Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya

PWMU.CO – Pada PINKAN ke-7 yang berlangsung hari ini di Bandung (7/7/2025), saya berkesempatan menyampaikan perspektif baru dalam memahami hubungan kompleks antara gangguan kecemasan dan gangguan penggunaan alkohol.

Selama bertahun-tahun, dunia kedokteran jiwa telah memandang kedua kondisi ini sebagai entitas terpisah yang kebetulan terjadi bersamaan-sebuah pendekatan yang kita kenal sebagai “dual diagnosis” atau diagnosis ganda.

Paradigma Lama yang Perlu Direvisi

Dalam praktik klinis sehari-hari di RS Muhammadiyah Lamongan, saya sering menjumpai pasien yang datang dengan keluhan kecemasan yang kemudian terungkap juga mengalami masalah dengan alkohol, atau sebaliknya.

Pendekatan konvensional mengharuskan kita untuk menegakkan dua diagnosis terpisah: gangguan kecemasan dan gangguan penggunaan alkohol, kemudian merencanakan dua jalur pengobatan yang berbeda.

Namun, observasi klinis yang mendalam dan perkembangan riset neurosains terkini menunjukkan bahwa realitas yang dihadapi pasien jauh lebih kompleks.

Kecemasan dan penggunaan alkohol tidak hanya “berdampingan” secara kebetulan, melainkan saling berinteraksi dalam jaringan neurobiologis yang sama, menciptakan satu sindrom yang terintegrasi.

Landasan Neurobiologis yang Mendasari

Dari perspektif neurobiologis, baik gangguan kecemasan maupun gangguan penggunaan alkohol melibatkan sistem neurotransmitter yang sama, terutama sistem gamma-aminobutyric acid (Gaba). Alkohol bekerja sebagai depresan sistem saraf pusat dengan meningkatkan aktivitas GABA, neurotransmitter inhibitori utama di otak.

Pada saat yang sama, gangguan kecemasan seringkali terkait dengan disfungsi sistem GABAergik yang menyebabkan ketidakseimbangan antara eksitasi dan inhibisi neural. Hal yang menarik adalah bagaimana otak beradaptasi terhadap paparan alkohol kronis.

Toleransi yang berkembang menyebabkan sistem GABA menjadi kurang responsif, yang justru memperburuk gejala kecemasan ketika efek alkohol menghilang.

Ini menciptakan siklus yang berbahaya: kecemasan mendorong penggunaan alkohol sebagai “self-medication,” sementara penggunaan alkohol kronis justru memperparah kecemasan.

Sirkuit Neural yang Terlibat

Riset neuroimaging modern telah mengidentifikasi sirkuit neural spesifik yang terlibat dalam kedua kondisi ini. Amigdala, struktur otak yang berperan penting dalam pemrosesan emosi dan respons ketakutan, menunjukkan hiperaktivitas pada gangguan kecemasan. Menariknya, alkohol menekan aktivitas amigdala dalam jangka pendek, memberikan efek anxiolytic yang dirasakan pasien.

Namun, paparan alkohol kronis menyebabkan neuroadaptasi yang mengubah fungsi amygdala dan sirkuit yang terkait, termasuk prefrontal cortex yang bertanggung jawab untuk kontrol inhibisi dan pengambilan keputusan. Perubahan ini tidak hanya mempertahankan gangguan kecemasan, tetapi juga memperkuat pola penggunaan alkohol kompulsif.

Implikasi Klinis: Pendekatan Terintegrasi

Pemahaman ini membawa implikasi mendalam bagi praktik klinis. Alih-alih menangani kecemasan dan gangguan penggunaan alkohol sebagai dua masalah terpisah, kita perlu mengembangkan pendekatan terintegrasi yang mengakui keduanya sebagai manifestasi dari satu sindrom neurobiologis-perilaku.

Dalam pengalaman klinis saya, pasien yang mendapat terapi terintegrasi menunjukkan outcome yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang mendapat pengobatan terpisah untuk setiap kondisi.

Ini masuk akal karena intervensi yang hanya fokus pada satu aspek sering gagal mengatasi mekanisme neurobiologis yang mendasari kedua kondisi tersebut.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Strategi Pengobatan yang Direvisi

Berdasarkan pemahaman ini, strategi pengobatan perlu direvisi. Penggunaan benzodiazepine untuk mengatasi kecemasan pada pasien dengan riwayat gangguan penggunaan alkohol, misalnya, perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati mengingat kedua substansi bekerja pada sistem GABA yang sama dan berpotensi menyebabkan cross-tolerance atau bahkan cross-addiction.

Sebagai gantinya, pendekatan farmakologis yang lebih holistik dapat melibatkan penggunaan obat-obatan yang memiliki efek dual-action, seperti gabapentin yang memiliki efek anxiolytic sekaligus membantu mengurangi craving alkohol. Antikonvulsan tertentu juga menunjukkan efektivitas dalam menangani kedua kondisi ini secara bersamaan.

Terapi Psikologis yang Terintegrasi

Dari sisi psikoterapi, Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang dimodifikasi untuk mengatasi kedua kondisi secara bersamaan menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Pasien belajar mengidentifikasi pemicu kecemasan yang mendorong penggunaan alkohol, sekaligus mengembangkan strategi coping yang lebih adaptif.

Mindfulness-based interventions juga menunjukkan efektivitas dalam memutus siklus kecemasan-alkohol dengan meningkatkan kesadaran terhadap sensasi fisik dan emosi tanpa harus bereaksi secara impulsif dengan menggunakan alkohol.

Tantangan dan Masa Depan

Meskipun konsep sindrom neurobiologis-perilaku tunggal ini menjanjikan, implementasinya menghadapi beberapa tantangan. Sistem layanan kesehatan yang masih tersegmentasi, keterbatasan sumber daya, dan resistensi terhadap perubahan paradigma merupakan hambatan yang perlu diatasi.

Namun, dengan semakin banyaknya evidensi yang mendukung pendekatan ini, saya optimis bahwa dunia kedokteran jiwa akan segera mengadopsi perspektif yang lebih holistik ini.

Kolaborasi multidisiplin antara psikiater, psikolog, dan neuroscientist akan menjadi kunci dalam mengembangkan protokol pengobatan yang lebih efektif.

Penutup

Memahami komorbiditas kecemasan-alkohol sebagai sindrom neurobiologis-perilaku tunggal bukan hanya perubahan konseptual, tetapi revolusi dalam cara kita mendekati dan menangani kondisi yang kompleks ini.

Dengan mengintegrasikan pengetahuan dari neurosains, farmakologi, dan psikologi klinis, kita dapat memberikan pelayanan yang lebih komprehensif dan efektif bagi pasien-pasien kita.

Sebagai klinisi, tanggung jawab kita adalah terus memperbarui pemahaman dan pendekatan kita berdasarkan evidensi terkini, demi memberikan yang terbaik bagi pasien yang mempercayakan kesehatan mental mereka kepada kita.(*)

Dr Era Catur Prasetya adalah dokter spesialis kesehatan jiwa yang berpraktik di RS Muhammadiyah Lamongan dan dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Beliau aktif dalam penelitian dan pengembangan pendekatan terintegrasi untuk gangguan komorbid.

Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu