Suasana forum Tanwir ke-XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang biasanya kental dengan diskusi serius, mendadak cair dan bergemuruh oleh tawa. Pemicunya tak lain adalah munculnya pantun-pantun tak terduga yang terjadi di atas panggung utama dari tokoh-tokoh kebangsaan yang hadir.
Momen langka itu terjadi di sela-sela rangkaian acara Pembukaan dan Penutupan Tanwir di UMM Dome, beberapa hari yang lalu. Alih-alih hanya menyampaikan pidato formal, para tokoh ini memilih cara yang lebih elegan dan berbudaya untuk menyapa ribuan kader IMM.
Adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM, Riyan Betra Delza, yang memulai pantun di tengah sambutannya, dan langsung memantik tepuk tangan dari ribuan kader IMM yang memadati Dome UMM.
“Pak Bahlil datang dengan wibawa, datangnya sebelum maghrib, mahasiswa IMM penuh daya, seperti beringin solid dan positib,” ujarnya saat memberikan sambutan di Pembukaan Tanwir.
Tidak hanya 1 pantun, ia membawakan 2 pantun untuk menyambut kedatangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia yang berkenan hadir di Pembukaan Tanwir Malang. “Jalan ke kampus bawa bendera, warna kuning bikin bahagia, IMM sangat luar biasa, apalagi bang Bahlil sudah tertawa,” ucapnya yang langsung disambut riuh rendah oleh kader IMM.
Selain dihadiri oleh Menteri ESDM, Pembukaan Tanwir Malang turut dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang juga mendapatkan sambutan pantun hangat dari Ketua Umum DPP IMM, Riyan Betra Delza.
“Mentari pagi sinarnya megah, burung berkicau penuh harmoni, IMM berjuang dengan gagah, bersama Bu Khofifah membangun negeri,“ katanya.
Saat Penutupan Tanwir Malang, rentetan pantun lagi-lagi muncul menggelorakan semangat para kader-kader IMM. Ketua Umum DPP IMM, Riyan Betra Delza, menghadiahkan 2 pantun sebagai simbol keakraban kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Listyo Sigit Prabowo.
“Mahasiswa itu pejuang sejati, bukan cuman pandai dalam berorasi, bersama Kapolri kita berkomitmen tinggi, bangun bangsa dengan aksi dan prestasi. Jas merah tanda berani, kampus putih lambang yang suci, pemuda hebat di negeri ini, siap dukung Kapolri yang presisi,” katanya.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, yang hadir membersamai Penutupan Tanwir Malang, juga mendapatkan lantunan pantun dari Ketua Umum DPP IMM, Riyan Betra Delza.
“Matahari terbit perlahan, lahannya di Pasuruan, bang Yandri semakin terdepan, harapan baru bagi rakyat pedesaan,” ucapnya.
Tak mau kalah, Mendes PDT Yandri Susanto yang memberikan pidato setelahnya seakan menjawab pantun tersebut dengan nasihat yang lebih filosofis. “Langit cerah setelah hujan reda, angin berhembus sejuk terasa, ayo mahasiswa Muhammadiyah teruslah berkarya, membangun desa membangun Indonesia,” tuturnya.
Momen berbalas pantun ini menjadi bukti bahwa Tanwir Malang bukan hanya sukses secara substansi, tetapi juga secara suasana. Ia berhasil membungkus gagasan-gagasan besar kebangsaan dengan balutan budaya yang luhur.
Hal ini membuktikan bahwa energi kolektif tak selamanya harus berwujud serius dan kaku. Ia juga bisa berwujud tawa, keakraban, dan kecerdasan yang berbalut sastra, persis seperti yang dipertontonkan para tokoh bangsa di Tanwir Malang.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments