Teras kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Blitar mendadak ramai dengan aroma masakan yang menggugah selera pada Jumat (28/11/2025). Bukan sedang pelajaran memasak biasa, belasan siswa kelas VII dan kelas IX tengah beradu keterampilan mengolah bahan pangan lokal dalam sebuah kegiatan puncak Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertema Ketahanan Pangan.
Kegiatan yang secara spesifik diprakarsai oleh Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman nyata kepada siswa tentang pentingnya pemanfaatan sumber daya alam sekitar sebagai langkah awal menjaga ketahanan pangan keluarga dan nasional.
Di bawah bimbingan dan pengawasan ketat guru-guru profesional di bidang IPA, para siswa ditantang untuk menciptakan hidangan bernutrisi dari aneka sayuran dari kebun sekolah. Alat masak sederhana, mulai dari kompor portabel hingga perlengkapan dapur minim, digunakan untuk meniru kondisi memasak praktis.
Integrasi IPA dalam Memahami Nutrisi dan Lingkungan
Guru pengampu mata pelajaran IPA yang juga Koordinator P5, Ibu Gissa Adella P. W, S.Pd., menyatakan bahwa proyek ini adalah bentuk integrasi ilmu pengetahuan alam ke dalam isu kontekstual yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, konsep ketahanan pangan tidak hanya melibatkan aspek sosial-ekonomi, tetapi juga erat kaitannya dengan biologi, kimia, dan ekologi.
“Kami ingin siswa tidak hanya menghafal rumus atau teori di kelas. Melalui kegiatan memasak ini, mereka belajar langsung tentang kandungan gizi dalam setiap bahan lokal. Misalnya, mereka dapat membandingkan indeks glikemik ubi ungu dengan beras, atau memahami proses fermentasi tempe yang melibatkan mikroorganisme,” ujar Ibu Gissa aat ditemui di sela-sela kegiatan.
Mencetak Pelajar Pancasila yang Mandiri
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Blitar Siti Muhibbah S. Ag menyambut baik pelaksanaan kegiatan P5 yang dinilainya sukses membumikan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. Ia menekankan bahwa tema Ketahanan Pangan sangat relevan dengan kondisi global saat ini, di mana krisis pangan dan perubahan iklim menjadi ancaman nyata.
“Proyek P5 bukan sekadar tugas tambahan. Ini adalah kurikulum masa depan yang membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan bernalar kritis,” kata Siti Muhibbah S. Ag dengan nada antusias.
Menurutnya, inisiatif dari guru IPA untuk memimpin proyek ini adalah bukti bahwa mata pelajaran eksakta dapat menjadi jembatan menuju pemahaman isu-isu sosial yang kompleks. Kemampuan problem-solving yang selama ini dilatih di kelas IPA, kini diterapkan untuk memecahkan masalah praktis, yakni bagaimana menyediakan makanan bergizi dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara efisien.
“Kami melihat anak-anak sangat antusias. Mereka berkolaborasi, membagi tugas, dan yang paling penting, mereka belajar menghargai setiap butir makanan. Ini adalah perwujudan dari nilai gotong royong dan akhlak mulia,” tambahnya.
Siti Muhibbah S. Ag juga menyoroti aspek kemandirian yang menjadi fokus utama dalam proyek ini. Ia berharap, setelah mengikuti kegiatan ini, para siswa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada orang tua atau makanan instan. Mereka diharapkan memiliki kemampuan dasar untuk mengolah dan menyediakan pangan mereka sendiri.
“Ini adalah bekal hidup. Ilmu memasak dengan bahan lokal adalah keterampilan esensial yang akan membuat mereka siap menghadapi tantangan di masa depan. Pada akhirnya, ketahanan pangan dimulai dari dapur rumah tangga kita sendiri,” pungkasnya sembari mengapresiasi kerja keras para guru yang telah mendampingi siswa secara profesional.
Ia berharap Proyek P5 bukan sekadar tugas tambahan. Ini adalah kurikulum masa depan yang membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang mandiri, kreatif, dan bernalar kritis. Ketahanan pangan dimulai dari dapur rumah tangga kita sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments