
Oleh Tatag Satria Praja (Dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan)
PWMU.CO – Dalam sejarah peradaban Islam, dakwah tak pernah hadir di ruang hampa budaya. Sejak awal, Rasulullah SAW diutus kepada masyarakat Arab yang sarat dengan adat, simbol, dan struktur sosial yang kompleks. Namun, alih-alih menolak semua tradisi tersebut secara frontal, Rasul justru melakukan penyaringan: mempertahankan nilai-nilai luhur, sekaligus menghapus praktik-praktik yang bertentangan dengan tauhid dan keadilan.
Tradisi seperti menjamu tamu, menjaga silsilah keluarga (nasab), serta memegang teguh janji tetap dilestarikan. Sedangkan praktik syirik, fanatisme kabilah, dan penindasan sosial ditinggalkan. Ini menunjukkan bahwa dakwah Rasul dilakukan dengan pendekatan yang bijaksana dan penuh pertimbangan, sebagaimana diisyaratkan dalam QS An-Nahl: 125, yaitu dengan hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah yang santun.
Contoh konkret pendekatan ini tampak dalam pelarangan khamr, yang tidak dilakukan secara instan. Wahyu tentang khamr diturunkan secara bertahap, sesuai kesiapan umat. Ini menjadi bukti bahwa dakwah yang efektif tidak hanya bersandar pada teks normatif, tetapi juga strategi transformatif yang memperhatikan konteks psikologis dan kultural masyarakat.
Ahmad Dahlan dan Dakwah yang Menggugah
Semangat dakwah yang kontekstual juga menjadi ciri perjuangan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Di tengah masyarakat Jawa yang kaya simbol dan budaya, beliau tidak bersikap eksklusif. Dalam satu momen dakwah, beliau memainkan biola—alat musik modern saat itu—untuk menarik minat generasi muda. Itu bukan sekadar trik, tapi bentuk kepiawaian membaca zaman dan memahami jiwa masyarakat.
KH Ahmad Dahlan tidak hanya mengajarkan isi surat al-Ma’un, tapi mempraktikkannya dalam bentuk nyata: menyantuni anak yatim, membantu kaum miskin, dan memperbaiki kondisi sosial. Dakwahnya menyentuh hati, bukan hanya menyentuh telinga. Ia tidak berhenti pada dalil, tapi melangkah pada solusi.
AR Fachruddin dan Transformasi Budaya
Pendekatan serupa juga diwarisi KH AR Fachruddin. Tokoh Muhammadiyah yang hidup di tengah masyarakat pedesaan ini dikenal sangat bijak dalam menyikapi budaya lokal. Dalam tradisi yasinan, misalnya, KH AR hadir bukan untuk menghakimi. Beliau mendengarkan, berbaur, dan perlahan menyempurnakan bacaan serta praktik agar sesuai tuntunan syariat.
Dakwahnya tidak frontal, tetapi gradual. Tidak dengan konfrontasi, tetapi dengan sentuhan emosional dan keteladanan. Beliau memahami bahwa perubahan memerlukan proses, bukan paksaan. Bahwa hati manusia tidak bisa disentuh hanya dengan logika, tapi dengan cinta dan kesabaran.
Dakwah yang Mendidik, Bukan Menghakimi
Inilah wajah dakwah Muhammadiyah: mencerahkan, bukan memecah belah; menyucikan budaya, bukan memberangusnya. Bagi Muhammadiyah, agama bukan beban, melainkan rahmat. Maka membudayakan agama berarti menjadikan nilai-nilai Islam meresap dalam kehidupan masyarakat secara alami, tanpa kehilangan ruh kemurnian ajarannya.
Muhammadiyah tidak sedang mengamakan budaya—yakni membungkus tradisi dengan label agama tanpa kritis—tetapi membudayakan agama: menghadirkan Islam sebagai nilai hidup yang membumi, merangkul, dan membebaskan. (*)
Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan





0 Tanggapan
Empty Comments