Suasana malam di Muhammadiyah Development Training Center (MDTC) Panceng, Gresik, tampak berbeda dari biasanya. Lokasi yang biasanya tenang mendadak berubah meriah oleh gelaran pentas seni dalam rangka Kemahiran Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) Kwarda Kabupaten Gresik, Kamis malam (15/1/2026).
Di bawah sorotan lampu panggung dan dinginnya udara perbukitan, para peserta menampilkan kreativitas terbaiknya dengan penuh semangat.
Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian datang dari SD Muhammadiyah Melirang. Mengusung tema arakan sunat massal, sepuluh murid tampil percaya diri mempersembahkan seni kreasi berjudul “Karnaval Arakan Sunatan.” Cerita yang dibawakan bersumber dari kearifan lokal Desa Melirang dan disajikan dengan nuansa tradisi yang hidup, ceria, dan penuh warna.
Suasana panggung mendadak hening ketika Nail maju membuka pertunjukan. Dengan suara merdu dan penuh penghayatan, ia melantunkan prolog yang menggugah, mengajak penonton memasuki kisah penuh makna tentang tradisi masyarakat. Alunan suara lembut Nail menjadi gerbang pembuka menuju cerita yang kaya nilai budaya.
Dalam pementasan tersebut, Salis memerankan tokoh anak yang akan disunat. Ia didampingi Evan, Akbar, Haikal, dan Adam yang tampil sebagai punggawa arakan. Tristan dan Abi memperkuat suasana dengan menjadi penari jaranan yang lincah dan kompak.
Sementara itu, Amar dan Hafiz tampil energik sebagai pemain Ganong, menghadirkan keriuhan yang membuat penonton berkali-kali tersenyum. Kolaborasi peran ini berhasil menghadirkan alur cerita yang komunikatif, menghibur, sekaligus mencerminkan kekayaan seni tradisi.
Pelestarian Budaya Lokal
Kepala SD Muhammadiyah Melirang, Fichrul Efendi menyampaikan kebanggaannya atas penampilan para siswa.
“Pentas seni ini menjadi ruang belajar yang luar biasa. Anak-anak tidak hanya berlatih tampil di depan umum, tetapi juga belajar mencintai budaya lokal, bekerja sama, dan membangun percaya diri,” ujarnya.
Koordinator Kemahiran, Fatimatus Zahra menambahkan bahwa pensi menjadi sarana penguatan karakter bagi peserta didik.
“Melalui kegiatan kemahiran HW, nilai kemandirian, kepemimpinan, dan kreativitas tumbuh secara alami. Pensi malam ini membuktikan bahwa pembinaan kepanduan mampu melahirkan generasi yang berani dan berbudaya,” tuturnya.
Salah satu pemain jaranan, Tristan Al Jaras, mengaku sangat senang dapat tampil di hadapan penonton.
“Awalnya grogi, tapi setelah naik panggung rasanya senang sekali. Kami jadi lebih berani dan kompak. Semoga ke depan bisa tampil lebih baik lagi,” ungkapnya polos.
Pentas seni malam kemahiran ini menjadi penutup yang berkesan, mempererat kebersamaan sekaligus meneguhkan semangat pelestarian budaya lokal di kalangan generasi muda. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments