Di tengah tantangan generasi muda dalam menjaga adab, Pimpinan Komisariat (PK) IMM Shalahuddin Al-Ayyubi mengambil langkah lebih peduli dengan menggelar Kajian Ramadan.
Bertempat di Hall Kampus STIT Muhammadiyah Tempurejo Ngawi, Minggu pagi (02/03/2026), kegiatan bertajuk “Birrul Walidain di Era Digital: Adab Anak Sekarang” ini menjadi oase spiritual sekaligus alarm bagi generasi Z.
Aman Ridho Hidayat, dosen STIT Muhammadiyah, yang hadir sebagai narasumber membedah realitas pahit di mana layar gawai kerap menjadi “dinding pemisah” antara anak dan orang tua.
Ia menyoroti fenomena anak muda yang lebih asyik menggulir layar TikTok atau mengejar validasi di dunia maya daripada memberikan perhatian tulus kepada orang tua yang berada tepat di samping mereka.
Dalam pemaparannya, Ridho menegaskan bahwa nilai birrul walidain di era digital semakin menghadapi ujian dengan hadirnya gawai, media sosial, serta gaya hidup serba instan.
Karena itu, idealnya generasi muda harus mampu menjaga keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata.
“Di zaman yang serba cepat ini, adab kepada orang tua kian menyusut. Anak-anak cenderung menghabiskan waktu dengan media sosial dan game daripada berbincang dengan orang tua. Interaksi virtual pun kini lebih sering daripada berkunjung atau bertatap muka langsung,” ujarnya.
Diskusi semakin memanas saat melengkapi paparan dengan data terbaru dari survei We Are Social 2025.
Data tersebut menunjukkan remaja Indonesia menghabiskan rata-rata sembilan jam per hari di depan layar.
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret ancaman terhadap terkikisnya empati dan kesadaran spiritual generasi muda.
Ridho kemudian menguatkan argumennya dengan merujuk QS Al-Isra ayat 23: “wa bil walidaini ihsana”.
Ia menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua bukanlah sekadar pilihan moral, melainkan mandat langsung dari Allah SWT yang derajatnya bahkan lebih utama daripada jihad fi sabilillah.
“Birrul walidain bukan pilihan. Ini perintah tegas dari Allah. Bahkan kemuliaannya disebut lebih utama daripada jihad fi sabilillah. IMM harus menjadi pelopor dalam menjaga nilai ini,” tegasnya.
Ketua panitia, Muhammad Ridwan Hafidz, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Darul Arqam Dasar (DAD) tahun lalu.
Melalui tema ini, ia berharap kader IMM tidak hanya cerdas secara intelektual di dunia digital, tetapi juga tetap membumi dengan menjunjung tinggi adab.
“Era digital memberi banyak manfaat, sekaligus tantangan serius dalam menjaga nilai birrul walidain. Kader IMM harus mampu menjadi kader persyarikatan dan umat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat,” ujarnya.
Kajian yang berakhir menjelang Dhuhur ini meninggalkan pesan mendalam: bahwa kemuliaan seorang pemuda tidak diukur dari jumlah followers-nya, melainkan dari seberapa tunduk dan hormat ia di hadapan kedua orang tuanya.***






0 Tanggapan
Empty Comments