Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menakar Keuletan Guru Kelas 1 Madrasah di Bulan Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Menakar Keuletan Guru Kelas 1 Madrasah di Bulan Ramadan
Oleh : Nur Inayati Guru Kelas MI Muhammadiyah 08 Pelangwot Laren, Lamongan
pwmu.co -

Bulan ramadan bukan sekadar transisi perpindahan waktu makan atau menahan dahaga dari fajar hingga terbenamnya matahari.

Bagi seorang pendidik, khususnya mereka yang mengampu murid kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI), ramadan adalah panggung ujian profesionalisme sekaligus ladang spiritualitas yang teramat luas.

Di ruang-ruang kelas yang riuh, “keuletan” bukan lagi sekadar kata sifat dalam kamus, melainkan napas yang dihembuskan dalam setiap interaksi dan detak kesabaran yang senantiasa dijaga.

Menjadi guru kelas 1 adalah mandat yang unik sekaligus menantang.

Mereka tidak hanya bertugas mentransfer ilmu akademis, tetapi juga berperan sebagai orang tua kedua bagi anak-anak yang baru saja bertransisi dari fase bermain menuju dunia sekolah yang lebih terstruktur.

Ketika tugas ini dijalankan di tengah kekhusyukan ibadah puasa, dimensi tantangannya bertransformasi menjadi sebuah seni ketabahan yang luar biasa.

Mengajar sebagai Manifestasi Ibadah

Keuletan seorang guru di bulan ramadan bermula dari satu titik sentral: keikhlasan.

Tanpa ketulusan hati, membimbing anak usia enam hingga tujuh tahun saat perut sedang kosong dan tenggorokan kerontang akan terasa seperti beban yang menghimpit.

Namun, bagi guru yang memiliki keuletan spiritual, setiap pelafalan huruf hijaiyah, pengejaan “A-B-C”, hingga bimbingan jari-jari mungil dalam menulis angka, dipandang sebagai investasi pahala yang berlipat ganda.

Manifestasi keikhlasan ini terpancar nyata saat mereka menyambut siswa di gerbang madrasah.

Meski jam tidur berkurang demi mengejar keberkahan sahur dan qiyamul lail, senyum tulus tetap terkembang sempurna.

Mereka sadar betul bahwa energi positif seorang guru adalah bahan bakar utama bagi semangat belajar siswa.

Di bulan suci ini, niat mengajar mengalami sublimasi—dari sekadar pemenuhan profesi menjadi bentuk pengabdian tertinggi kepada Sang Pencipta melalui pelayanan tulus kepada manusia-manusia kecil.

Kesabaran Tanpa Batas di Ruang Kelas

Jika keikhlasan adalah pondasinya, maka kesabaran adalah pilar penyangganya.

Murid kelas 1 memiliki karakteristik yang eksentrik: energi yang meluap-luap, rasa ingin tahu yang meletup, namun dengan kontrol emosi yang masih fluktuatif.

Dinamika kelas bisa berubah dalam sekejap—dari tawa ceria menjadi tangisan karena pensil yang patah, perselisihan memperebutkan penghapus, hingga keriuhan lari-larian saat materi sedang dipaparkan.

Di luar ramadan, menghadapi dinamika ini sudah cukup menguras stamina.

Di dalam bulan puasa, level kesulitannya meningkat secara eksponensial.

Rasa lemas dan kantuk yang menyerang orang dewasa sering kali memperpendek sumbu kesabaran.

Namun, di sinilah keuletan guru diuji dan dibuktikan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Seorang guru kelas 1 yang ulet akan memilih untuk menarik napas dalam-dalam daripada melepaskan bentakan.

Mereka memahami bahwa anak-anak ini mungkin belum sepenuhnya menyelami esensi puasa.

Dengan kelembutan, guru merajut pengertian tentang mengapa ketertiban harus tetap dijaga.

Kesabaran ini bukan berarti pembiaran terhadap kekacauan, melainkan upaya mendisiplinkan dengan kasih sayang yang tetap utuh meski energi berada di titik nadir.

Strategi Kreatif: Manajemen Energi dan Kebijaksanaan

Keuletan tidak berarti bekerja secara sporadis atau membabi buta.

Guru yang cerdas akan melakukan rekayasa strategi pembelajaran demi menjaga kualitas pedagogis tanpa harus menguras fisik secara berlebihan.

Beberapa adaptasi kreatif yang dilakukan antara lain:

  1. Metode Dongeng: Mengurangi metode ceramah yang menguras pita suara dengan lebih banyak membacakan buku cerita bertema Islami atau narasi moral yang memikat imajinasi anak.
  2. Optimalisasi Media Visual: Memanfaatkan teknologi video pendek atau alat peraga visual untuk menarik atensi siswa tanpa harus banyak berteriak atau berpindah posisi secara agresif.
  3. Aktivitas Mandiri Terarah: Merancang kegiatan seperti mewarnai kaligrafi atau menyusun balok yang melatih motorik halus, memungkinkan guru melakukan pengawasan dalam suasana yang lebih tenang dan meditatif.

Melalui adaptasi ini, guru tidak hanya menjaga kebugaran fisiknya, tetapi juga menghadirkan variasi belajar yang menyenangkan. Ini adalah bentuk keuletan yang dibalut dengan kebijaksanaan intelektual.

Menjadi Teladan dalam Keterbatasan

Bagi murid MI kelas 1, guru adalah prototipe “superhero” yang mereka tiru secara total.

Saat mereka melihat sang guru tetap bersemangat, tetap rapi, dan tetap santun meski sedang berpuasa, secara implisit guru tersebut sedang menanamkan nilai-nilai karakter yang jauh lebih berharga daripada teks di buku pelajaran.

Guru memberikan bukti nyata bahwa puasa bukanlah alasan untuk memelihara kemalasan atau memaklumi temperamen yang buruk.

Keuletan pendidik menjadi hidden curriculum (kurikulum tersembunyi) tentang bagaimana seorang muslim sejati bersikap di tengah keterbatasan.

Pelajaran tentang ketangguhan mental dan integritas ini akan terpatri dalam sanubari siswa hingga mereka dewasa nanti.

Mahkota Keuletan

Ramadan pada akhirnya akan berlalu, namun jejak keuletan yang ditinggalkan oleh guru kelas 1 akan terus membekas dalam memori kolektif siswanya.

Keikhlasan yang menjadi akar dan kesabaran yang menjadi dahan telah membuahkan atmosfer belajar yang menyejukkan hati.

Dibalik wajah-wajah letih saat menanti adzan Maghrib, tersimpan kepuasan batin yang tak ternilai karena telah berhasil menjaga amanah pendidikan di tengah ujian fisik yang nyata.

Keuletan guru di bulan Ramadan adalah bukti sahih bahwa mendidik bukan sekadar persoalan transfer ilmu pengetahuan, melainkan transfer jiwa dan karakter.

Mereka adalah pahlawan sunyi yang dalam setiap tetes keringatnya terselip doa-doa tulus untuk masa depan generasi bangsa.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu