Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menanam Harapan Melalui Guru

Iklan Landscape Smamda
Menanam Harapan Melalui Guru
Oleh : Maftuhah, M.Pd. Dosen & Wakil Ketua I STITM Paciran
pwmu.co -

Menjadi guru bukanlah sekadar memilih sebuah profesi di antara deretan karier yang menjanjikan materi.

Ia adalah sebuah keputusan untuk menapaki jalan pengabdian yang sunyi namun penuh arti.

Guru membawa lentera bagi jiwa-jiwa yang mencari arah di ruang kelas yang bersahaja.

Mereka tidak sekadar mengirimkan pengetahuan kepada para siswa.

Guru melukis harapan dan menanamkan keteladanan di dalam ruang kelas.

Mereka melangitkan doa-doa tulus yang mengetuk pintu Arsy.

Guru sejati adalah mereka yang mampu menjaga api motivasi dalam diri peserta didiknya agar tetap menyala, meski raga sendiri sering kali didera keletihan yang tak sempat diceritakan.

Mereka tetap berdiri tegak dengan penuh istiqomah, walaupun buah dari benih yang ditanam tak jarang baru akan terlihat bertahun-tahun kemudian.

Inilah esensi dari pendidikan yang sesungguhnya: sebuah proses panjang yang menuntut kesabaran tanpa batas.

Napas di Setiap Langkah Pembelajaran

Motivasi adalah napas utama dalam dunia pendidikan. Setiap pagi, peserta didik melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan membawa latar belakang yang amat beragam.

Ada anak yang datang dengan kepercayaan diri yang meluap, namun tak sedikit yang jiwanya rapuh akibat keadaan lingkungan maupun keluarga.

Di sinilah guru mengambil peran vital. Guru tidak hadir sebagai hakim yang dingin dan hanya sibuk mengadili kekurangan, melainkan sebagai penuntun (mursyid) yang menguatkan bagian-bagian yang retak.

Kalimat sederhana seperti “Saya percaya kamu bisa” atau “Teruslah berusaha, prosesmu lebih berharga dari hasilnya” sering kali menjadi obor kecil yang menyulut keberanian besar dalam diri seorang anak.

Al-Qur’an telah memberikan landasan kuat mengenai pentingnya sebuah usaha melalui firman Allah SWT:

Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Ayat ini menjadi kompas bagi setiap guru untuk menanamkan pemahaman bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian integral dari proses pendewasaan.

Guru yang hebat tidak hanya mengejar angka-angka mati di atas kertas atau peringkat kelas, tetapi mereka yang mampu menanamkan makna ikhtiar dan ketangguhan mental dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Energi Spiritual yang Tak Kunjung Padam

Namun, motivasi yang tulus hanya dapat lahir dari hati yang telah selesai dengan urusan duniawinya—yakni hati yang ikhlas.

Mengajar dengan ikhlas berarti melepaskan diri dari belenggu haus pujian atau sekadar menggugurkan kewajiban administratif.

Keikhlasan menjadikan seorang guru tetap mampu tersenyum meski apresiasi kadang terlambat datang, dan tetap setia mengabdi meski keterbatasan sarana kerap menghimpit langkah.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Filosofi keikhlasan ini bersumber dari perintah Sang Pencipta:

“Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ikhlas adalah energi spiritual yang memproteksi guru dari kelelahan batin (burnout).

Ia menjadi penenang saat penghargaan manusiawi terasa jauh, dan menjadi penyejuk hati ketika hasil belajar siswa belum sesuai ekspektasi.

Guru yang ikhlas memahami sepenuhnya bahwa setiap butir ilmu bermanfaat yang dibagikan adalah investasi abadi, sebuah sedekah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir deras bahkan ketika raga sang guru telah lama meninggalkan ruang kelas dan dunia ini.

Jangkar di Tengah Arus Zaman

Di atas motivasi dan keikhlasan, berdiri satu tiang kokoh bernama istiqomah.

Dalam konteks pendidikan, istiqomah adalah kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran, konsistensi dalam menebar kebaikan, dan keteguhan dalam mendidik karakter.

Saat ini, guru dihadapkan pada tantangan yang kian kompleks: perubahan kurikulum yang cepat, disrupsi digital yang masif, hingga pergeseran moralitas di era media sosial.

Tanpa istiqomah, seorang guru akan mudah terombang-ambing dan kehilangan arah.

Allah SWT menegaskan keutamaan sikap ini dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Ahqaf: 13)

Pendidik menunjukkan istiqomah dengan hadir tepat waktu dan menyiapkan materi secara sungguh-sungguh.

Mereka juga memberikan kesabaran ekstra saat menghadapi berbagai perilaku peserta didik.

Dampak dari guru yang istiqomah mungkin tidak terlihat spektakuler dalam semalam, namun konsistensi tersebutlah yang pada akhirnya membentuk watak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.
Menanam untuk Masa Depan

Pada akhirnya, guru adalah seorang penanam ulung. Ia menanam benih nilai, menyemai akhlak, dan menyirami mimpi-mimpi di ladang jiwa peserta didik.

Seorang penanam mungkin tidak selalu berkesempatan menyaksikan saat panen tiba, tetapi ia memiliki keyakinan iman bahwa setiap benih kebaikan yang dirawat dengan cinta pasti akan menemukan waktunya untuk bersemi dan berbuah manis.

Menjadi guru yang mampu memotivasi, memiliki keikhlasan yang menyala, dan memegang teguh istiqomah adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh peluh.

Namun, di balik lelah tersebut, terdapat kemuliaan yang tak terlukiskan.

Di sanalah pendidikan menemukan ruhnya, dan di sanalah sosok guru menjadi cahaya yang tak pernah padam—menerangi lorong-lorong masa depan peradaban dengan ilmu yang barakah dan teladan yang nyata.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu