Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menapaki Jejak Kiai Dahlan dalam Rihlah PDA Jember

Iklan Landscape Smamda
Menapaki Jejak Kiai Dahlan dalam Rihlah PDA Jember
Menapaki Jejak Kiai Dahlan dalam Rihlah PDA Jember. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Dua bus Universitas Muhammadiyah Jember membawa peserta rihlah Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Jember menuju Yogyakarta pada Jumat–Ahad (19–21/12/2025). Sebanyak 99 peserta berangkat dengan penuh semangat dan antusiasme.

Pada hari kedua rihlah, rombongan mengawali kunjungan ke Masjid Agung Yogyakarta, masjid bersejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan lahirnya Muhammadiyah. Masjid dengan sejuta kenangan ini menjadi saksi bisu perjalanan dakwah Kiai Ahmad Dahlan.

Setibanya di lokasi, rombongan dibagi menjadi empat kelompok dengan pendamping berbeda. Memasuki area masjid, suasana terasa syahdu dan menggetarkan hati. Masjid yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I ini masih berdiri gagah dengan ornamen yang sarat makna. Setiap pilar dihiasi ukiran dan lukisan yang memiliki filosofi tersendiri.

Masjid yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-Alun Utara ini dikenal dengan nama Masjid Gedhe Kauman atau Masjid Agung Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid Gedhe Kauman merupakan simbol akulturasi budaya Jawa dan Islam.

Masjid ini dikelilingi tembok tinggi dengan gerbang utama di sisi timur berarsitektur semar tinandu. Bangunan induknya berbentuk tajug persegi tertutup dengan atap bertumpang tiga dan mustaka sebagai puncaknya. Pintu masuk utama berada di sisi timur dan utara.

Di bagian dalam sebelah barat terdapat mimbar kayu bertingkat tiga, mihrab sebagai tempat imam memimpin salat, serta sebuah bangunan menyerupai sangkar yang disebut maksura. Pada masanya, maksura digunakan sultan untuk beribadah demi alasan keamanan. Serambi masjid berbentuk limasan persegi panjang yang terbuka.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Usai dari Masjid Gedhe Kauman, rombongan melanjutkan ziarah ke makam Siti Walidah, istri pertama Kiai Ahmad Dahlan. Sosok perempuan istimewa yang menjadi penyokong utama perjuangan sang kiai, khususnya dalam gerakan pemberdayaan perempuan. Makam beliau tampak sederhana, sebanding dengan ketulusan perjuangannya.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri lorong menuju Langgar Kidul. Tepat di depan langgar tersebut berdiri bangunan sekolah yang dahulu didirikan Kiai Dahlan. Kondisinya masih terjaga seperti saat awal berdiri, meskipun kini tidak lagi digunakan karena faktor usia bangunan. Momen tak terduga terjadi ketika rombongan bertemu cucu Kiai Sangidu, ulama Keraton yang menjadi penguat dakwah Muhammadiyah.

Menyusuri Kampung Kauman Yogyakarta serasa menulis ulang catatan sejarah dalam benak setiap peserta. Di kawasan ini terdapat musala pertama yang dikhususkan bagi perempuan dan masih digunakan hingga kini. Musala tersebut tidak memiliki azan sendiri karena mengikuti panggilan azan dari Masjid Gedhe Kauman.

Masih di wilayah Kauman, rombongan juga menyaksikan Rumah Tarjih, TK ABA pertama, serta berbagai situs bersejarah lainnya. Rihlah kali ini meninggalkan kesan mendalam. Mengagumi setiap episode perjuangan Kiai Dahlan sekaligus meneguhkan kembali semangat perempuan berkemajuan untuk terus berkiprah bagi umat dan bangsa.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu