
Suasana Pelatihan Instruktur MPKSDI PWM Jawa Timur Wilayah Barat di Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Jumat (18/04/2025). (Nur Maslikhatun Nisak/PWMU.CO).
PWMU.CO — Rangkaian Pelatihan Instruktur MPKSDI PWM Jawa Timur Wilayah Barat di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) sejak Jumat (18/04/2025), kini telah memasuki sesi ke-7.
Salah satu sesi penting dalam pelatihan ini mengangkat tema “Pengorganisasian Pelatihan Perkaderan”, yang tersampaikan oleh tokoh kaderisasi Jawa Timur, Moh. Ernam MPdGr.
Dalam sesi ini, peserta tidak hanya berkesempatan memahami struktur organisasi pelatihan. Tetapi juga terlatih mengelola pelatihan dari hulu ke hilir secara sistemik.
Jantung Pelatihan
Sesi ke-7 menjadi jantung dari pelatihan karena menyoroti bagaimana proses pengorganisasian pelatihan perkaderan dirancang, dijalankan, dan dievaluasi secara komprehensif.
Materi ini menguraikan struktur dan pembagian tugas dalam pelatihan, mulai dari penanggung jawab, panitia pengarah, panitia pelaksana, tim instruktur, sekretaris, hingga narasumber.
Dalam pemaparannya, Moh. Ernam menjelaskan bahwa sebuah pelatihan kader yang berhasil tidak cukup hanya pada kuatnya materi. Namun sangat tergantung pada tata kelola pelaksanaannya.
“Pengorganisasian pelatihan adalah ruh dari efektivitas perkaderan. Tanpa struktur dan koordinasi yang rapi, pelatihan mudah kehilangan arah” ungkap Ernam dengan lugas.
Lebih lanjut, pelatihan ini terhadiri oleh puluhan calon instruktur dari berbagai daerah di Jawa Timur bagian barat, seperti Ponorogo, Pacitan, Magetan, Madiun, dan sekitarnya.
Mereka berasal dari beragam latar belakang: pimpinan daerah, aktivis ortom, pengelola AUM, dan kader muda Muhammadiyah.
Narasumber sesi ke-7, Moh. Ernam, terkenal sebagai praktisi kaderisasi yang telah malang melintang di berbagai jenjang pelatihan perkaderan, mulai dari ranting hingga wilayah.
Ia membawa pengalaman panjang dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pelatihan berbasis sistem koordinatif.
Melalui materi ini, para peserta tidak hanya diposisikan sebagai penyampai materi kelak, tetapi sebagai pengelola kegiatan yang siap merancang pelatihan secara utuh.
Hal ini sangat penting mengingat banyak kegiatan kaderisasi gagal karena lemahnya manajemen teknis dan koordinasi.
Sesi ke-7 ini berlangsung pada hari terakhir pelatihan, yaitu Sabtu (19/04/2025) di Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Pelatihan ini merupakan program strategis dari MPKSDI PWM Jatim yang terancang untuk memperkuat kapasitas instruktur di wilayah barat provinsi Jawa Timur.
Pemilihan UMPO sebagai lokasi kegiatan bukan hanya karena letaknya yang strategis. Tapi juga karena universitas ini memiliki infrastruktur lengkap dan reputasi yang kuat dalam menyelenggarakan kegiatan pelatihan kader Muhammadiyah.
Penyebab Gagalnya Pelatihan
Pengorganisasian pelatihan sering kali dianggap sebagai urusan teknis semata. Namun menurut Moh. Ernam, aspek ini justru sangat menentukan kualitas pelaksanaan kaderisasi secara keseluruhan.
“Banyak pelatihan gagal bukan karena materinya lemah. Tapi karena panitianya tidak solid, perannya tidak jelas, koordinasi kacau, dan tidak ada perencanaan matang” tegasnya.
Dalam materi yang tersampaikan, peserta telah berkenalan dengan struktur pengorganisasian yang ideal, antara lain:
- Penanggung Jawab (PJ): Pimpinan Persyarikatan yang mendelegasikan kepada MPKSDI.
- Steering Committee (SC): Tim pengarah yang menyusun proposal dan menentukan arah pelatihan.
- Organizing Committee (OC): Tim pelaksana yang mengurus logistik, fasilitas, administrasi, dan anggaran.
- MOT & IOT: Master of Training sebagai koordinator utama dan pengendali teknis kegiatan, serta Instructor of Training yang fokus pada aspek ibadah dan spiritualitas.
- Tim Instruktur & Narasumber: Fasilitator pembelajaran yang kompeten dalam materi perkaderan.
- Sekretaris: Pengelola administrasi, absensi, dan dokumentasi kegiatan.
Setiap unsur memiliki tugas dan fungsi yang saling melengkapi untuk menciptakan pelatihan yang berjalan efektif, efisien, dan berdampak. Tidak hanya menyampaikan teori, sesi ini terancang interaktif dan aplikatif.
Peserta terbagi menjadi kelompok kerja dan diminta mensimulasikan pengorganisasian pelatihan berdasarkan studi kasus yang diberikan.
Setiap kelompok merancang struktur panitia, menyusun timeline pelatihan, menentukan narasumber, serta merancang skenario koordinasi jika terjadi kendala di lapangan.
Praktik Pemerkaya Pemahaman
Simulasi ini menjadi ruang praktik yang memperkaya pemahaman peserta, sebab mereka dituntut berpikir secara sistemik dan operasional. Hasil kerja kelompok kemudian dipresentasikan dan mendapatkan umpan balik langsung dari narasumber dan fasilitator pelatihan.
“Latihan ini membuka wawasan saya tentang betapa rumitnya mengelola pelatihan jika tidak dipersiapkan dengan detail. Ternyata menjadi instruktur juga harus siap jadi manajer” peserta dari PDM Pacitan.
Selain itu, peserta juga mendapat bekal template teknis seperti format proposal kegiatan, flowchart struktur organisasi pelatihan, serta check list kebutuhan logistik dan akomodasi.
Sesi ini memberikan bekal penting bagi para calon instruktur untuk menjadi pengelola pelatihan yang tangguh.
Banyak peserta yang awalnya hanya fokus pada aspek materi dan penyampaian, kini mulai mendapatkan pemahaman. Bahwa keberhasilan perkaderan juga sangat ditentukan oleh perencanaan, manajemen sumber daya, serta soliditas tim pelaksana.
Dengan materi ini, MPKSDI PWM Jatim berharap ke depan, kegiatan perkaderan di daerah dapat terselenggara secara lebih profesional, tertib, dan bermakna. Hal ini penting untuk menjaga kredibilitas Muhammadiyah dalam mencetak kader-kader masa depan.
“Kita tidak boleh membiarkan kaderisasi dikelola asal-asalan. Dengan pengorganisasian yang baik, pelatihan akan menjadi pengalaman yang membekas dan menggerakkan” pungkas Moh. Ernam dalam penutup sesinya.
Melalui sesi ke-7 ini, Pelatihan Instruktur MPKSDI PWM Jatim Wilayah Barat tidak hanya mencetak pengajar. Tapi juga mencetak pengelola pelatihan yang siap memimpin proses kaderisasi dari perencanaan hingga eksekusi.
Dari Ponorogo, semangat profesionalisme dalam kaderisasi Muhammadiyah kembali ditegaskan. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran organisatoris, harapannya para peserta dapat menjadi pionir pelatihan yang tidak hanya efektif secara konten. Namun, juga kuat dalam struktur, koordinasi, dan implementasi.
Kini saatnya para instruktur membawa semangat ini ke daerah masing-masing, menyusun barisan, dan menumbuhkan kader-kader unggul bagi kemajuan Persyarikatan dan bangsa.
Penulis Nur Maslikhatun Nisak, Editor Danar Trivasya Fikri





0 Tanggapan
Empty Comments