Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mendekati Garis Akhir, Saatnya Percepat Langkah Ibadah di Ujung Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Mendekati Garis Akhir, Saatnya Percepat Langkah Ibadah di Ujung Ramadan
Foto: Pexels
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Ramadan hampir mencapai garis akhirnya. Justru di saat seperti inilah seorang mukmin seharusnya semakin bersemangat dalam beribadah. Sebagaimana seorang pelari yang melihat garis finish di depan mata, ia tidak melambat, tetapi justru mempercepat langkahnya agar mencapai akhir dengan hasil terbaik. Ia mengerahkan sisa tenaga, menahan lelah, bahkan mengabaikan rasa sakit, demi satu tujuan: finish dengan kemenangan.

Begitulah semestinya seorang Muslim memandang akhir Ramadan. Hari-hari yang tersisa bukan untuk bersantai, tetapi momentum terakhir untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya. Jika di awal Ramadan kita masih menyesuaikan diri, maka di akhir Ramadhan seharusnya kita sudah berada pada puncak kesadaran dan kesungguhan.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memberikan teladan nyata bagaimana bersungguh-sungguh di akhir Ramadhan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)

Bayangkan suasana rumah Rasulullah pada sepuluh malam terakhir. Malam yang biasanya sunyi berubah menjadi penuh dengan zikir, doa, tilawah, dan tangisan harap kepada Allah. Beliau tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya, mengajak mereka meraih keberkahan bersama. Ini menjadi pelajaran bahwa kesalehan bukan hanya personal, tetapi juga kolektif.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mencontoh ini dengan cara sederhana. Seorang ayah yang biasanya lelah sepulang kerja, di sepuluh malam terakhir berusaha bangun lebih awal, mengajak istri dan anak-anak untuk shalat malam bersama.

Atau seorang mahasiswa yang biasanya begadang untuk tugas, kini mengalihkan waktunya untuk i’tikaf di masjid, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa. Bahkan seorang pedagang yang tetap sibuk di siang hari, menyempatkan malamnya untuk mendekat kepada Allah dengan lebih khusyuk.

Ini menunjukkan bahwa semakin dekat dengan akhir Ramadhan, Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam justru meningkatkan ibadahnya, bukan mengendurkannya. Terlebih lagi, pada malam-malam tersebut terdapat Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Allah Wa Ta’ala berfirman:“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Artinya, satu malam yang kita isi dengan ibadah di akhir Ramadan bisa bernilai seperti ibadah seumur hidup. Betapa luar biasanya kesempatan ini. Namun ironisnya, tidak sedikit orang justru mulai lalai di fase ini—sibuk dengan persiapan lebaran, belanja, atau bahkan lebih banyak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang bernilai.

Karena itu, sungguh merugi orang yang melemah di penghujung Ramadhan. Padahal bisa jadi satu malam ibadah di akhir Ramadhan lebih bernilai daripada puluhan tahun amal. Ibarat seorang siswa yang sudah belajar sepanjang semester, tetapi justru lengah saat ujian akhir—maka hasil akhirnya bisa mengecewakan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Selain itu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga mengingatkan bahwa nilai amal sangat bergantung pada akhirnya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari no. 6607)

Dalam riwayat lain Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya amal itu dilihat dari bagaimana akhirnya.” (HR. Bukhari no. 6493)

Dalam kehidupan, kita sering melihat contoh nyata. Ada seseorang yang memulai usaha dengan penuh semangat, tetapi karena tidak konsisten hingga akhir, usahanya gagal. Sebaliknya, ada yang mungkin biasa saja di awal, tetapi karena tekun hingga akhir, justru meraih keberhasilan. Begitu pula dengan Ramadhan—penentu keberhasilannya bisa jadi terletak di penghujungnya.

Maka jangan sampai kita menjadi orang yang semangat di awal, namun lemah di akhir. Jangan sampai Ramadhan yang telah kita jalani dengan susah payah, justru kehilangan maknanya karena kita tidak mampu menjaga ritme ibadah hingga garis akhir.

Mari kita isi sisa Ramadhan ini dengan kesungguhan: memperbanyak qiyamul lail, memperdalam tilawah Al-Qur’an, melapangkan sedekah, serta memperbanyak doa—terutama doa agar dipertemukan dengan Lailatul Qadar dan diterima seluruh amal ibadah.

Seperti pelari yang menatap garis finish dengan penuh harap, mari kita songsong akhir Ramadhan dengan langkah yang lebih cepat, hati yang lebih khusyuk, dan tekad yang lebih kuat.

Semoga Allah memberikan kepada kita husnul khatimah dalam Ramadhan, menutupnya dengan amal terbaik, dan menerima seluruh ibadah kita. Āmīn. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡