Hal jaza’ul ihsani illal ihsan
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)
Jangan biarkan hati kita gundah gulana, meski apa yang sedang kita alami terasa sangat menyesakkan dada. Karena sesungguhnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan segala sesuatu hanya demi kebaikan hidup kita.
Percayalah sepenuhnya pada Allah. Jangan beri ruang bagi keraguan, apalagi keluh kesah. Sebab di balik setiap ujian, selalu ada kejutan indah yang Allah siapkan. Saat kita yakin bahwa takdir tak akan pernah tertukar, maka hati menjadi tenang, langkah terasa ringan, dan hidup penuh makna.
Hidup bukan sekadar urusan untung dan rugi. Ada tiga hal yang tak boleh hilang dalam perjuangan kita di dunia: doa, sabar, dan ikhlas. Tiga hal sederhana yang menjadi penopang jiwa, penuntun langkah, dan penenang hati.
Bayangkan seorang ayah muda yang baru saja kehilangan pekerjaannya. Istri dan anak-anaknya menatap penuh tanya, sementara ia sendiri menatap langit tanpa jawaban. Dalam doa malamnya ia berbisik, “Ya Allah, aku tak tahu apa rencana-Mu, tapi aku yakin Engkau tak akan menelantarkan kami.”
Beberapa bulan kemudian, tanpa disangka, ia mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik — tak hanya gajinya meningkat, tapi juga waktunya lebih leluasa untuk keluarga dan ibadah.
Begitulah cara Allah menunjukkan janji-Nya: “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 6)
Kadang, kita terlalu cepat menilai. Padahal, Allah sedang menulis kisah yang indah, hanya saja halaman berikutnya belum kita buka.
Waktu yang Tak Pernah Kembali
Waktu terus berputar. Ia datang tanpa suara, pergi tanpa pamit. Dulu kita anak-anak yang bermain tanpa beban. Kini, kita dewasa dengan sejuta tanggung jawab. Suatu hari nanti, semua kisah kita akan menyejarah — menjadi bagian dari catatan hidup yang kelak akan dibuka di hadapan Allah.
Maka, selama masih diberi waktu, jadikan setiap detik bermakna. Gunakan untuk menebar kebaikan, memperbaiki kesalahan, dan menolong sesama. Waktu adalah satu-satunya “modal hidup” yang tidak bisa dibeli atau diperpanjang.
Ada orang yang usianya panjang, tapi manfaatnya pendek. Ada pula yang hidupnya singkat, tapi jejak kebaikannya abadi. Yang membedakan bukan lamanya hidup, melainkan bagaimana ia mengisinya.
Kita semua sedang menulis sejarah — bukan dengan tinta di kertas, tapi dengan amal di kehidupan. Orang yang lulus ujian hidup dengan kesabaran akan ditinggikan derajatnya di sisi Allah. Sedangkan yang gagal bersabar akan terpuruk dalam kekecewaan.
Namun Allah tak pernah menutup pintu bagi siapa pun. Setiap kali kita jatuh, pintu taubat selalu terbuka.
Imam Al-Ghazali berkata, orientasi hidup yang bertumpu pada dunia hanya akan menghasilkan “mata’ al-ghurur” — kesenangan semu yang cepat pudar.
Ketenangan sejati (sakinah an-nafsi) hanya akan hadir jika orientasi hidup diarahkan kepada taqarrub ilallah, mendekat kepada Allah melalui tobat, zuhud, sabar, dan ma’rifah.
Tak heran, para ahli tasawuf sering merintih dalam doa-doa panjang mereka:
“Yaa Rabbi, Yaa Ilahi… Hamba-Mu yang lemah ini tidak bersedih jika Engkau tidak mengabulkan keinginannya.
Tapi ampunilah hamba, bila hamba lalai mensyukuri anugerah yang telah Engkau berikan.”
Betapa dalam makna doa itu. Kadang kita terlalu fokus pada apa yang belum kita punya, hingga lupa mensyukuri yang telah kita genggam. Padahal, rasa syukur adalah pintu yang membuka banyak keajaiban hidup.
Kebaikan yang Kembali
Suatu hari, seorang wanita tua menumpang di pinggir jalan. Tak ada yang berhenti, sampai seorang pemuda sederhana menepi dan menawarinya tumpangan.
“Terima kasih, Nak,” katanya lirih. “Saya hanya ingin pulang.”
Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendapat panggilan kerja dari perusahaan besar. Ia tak tahu bahwa pemilik perusahaan itu adalah anak dari wanita tua yang ia bantu. Begitulah cara Allah membalas kebaikan — tidak selalu langsung, tapi selalu tepat.
“Barang siapa menanam kebaikan, maka ia akan memetik buahnya, cepat atau lambat.”
Marilah kita membahagiakan orang lain. Mungkin hanya dengan senyum, perhatian kecil, atau sekadar mendengarkan keluhannya. Karena setiap kebahagiaan yang kita tebarkan akan kembali kepada kita dengan cara yang tak terduga.
Allah akan memberi “rezeki” berupa orang lain yang akan membahagiakan kita — di saat kita merasa lemah, di saat dunia terasa sempit.
Berusahalah untuk selalu memberi, sebab setiap kali kita memberi, kita sedang menerima.
Bukan dalam bentuk materi, tapi dalam bentuk ketenangan hati dan keberkahan hidup.
Allahumma Sholli ‘Ala Muhammad, Wa ‘Ala Aali Muhammad
Yaa Allah, sampaikanlah shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan keluarganya.
Bimbinglah kami untuk selalu bersyukur, bersabar, dan berzikir kepada-Mu.
Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.
Rabbana taqabbal minna, innaka Antas-Samii’ul ‘Aliim.
Yaa Allah, terimalah dari kami amalan-amalan kami.
Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments