Perbedaan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah kerap terjadi di Indonesia.
Perbedaan tersebut muncul karena metode penentuan awal bulan Hijriah yang tidak sama.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, sedangkan pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan metode rukyat dan hisab dengan kriteria imkanur rukyat.
Akibatnya, tanggal 1 Ramadan terkadang tidak dimulai pada hari yang sama.
Perbedaan tersebut sering menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam.
Salah satu yang paling sering muncul ialah mengenai malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan, yang diyakini sebagai waktu kemungkinan turunnya Lailatul Qadar.
Jika awal Ramadan berbeda satu hari, lalu bagaimana cara menentukan malam ganjil untuk mencari Lailatul Qadar?
Al-Qur’an menjelaskan kemuliaan malam tersebut dalam Surah Al-Qadr. Allah Swt. berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar memiliki keutamaan yang sangat besar.
Ibadah pada malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Petunjuk mengenai waktu pencarian Lailatul Qadar dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad saw. Rasulullah bersabda:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi dasar utama bahwa Lailatul Qadar berpeluang terjadi pada malam-malam ganjil, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan.
Namun, para ulama menegaskan bahwa malam tersebut tidak dapat dipastikan secara mutlak.
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmah disembunyikannya waktu Lailatul Qadar ialah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir, bukan hanya pada satu malam tertentu.
Bagaimana jika awal Ramadan berbeda?
Menurut para ulama, perbedaan awal Ramadan tidak mengubah prinsip utama pencarian Lailatul Qadar.
Setiap Muslim mengikuti hitungan Ramadan sesuai dengan awal puasa yang ia jalani.
Artinya, jika seseorang memulai Ramadan lebih dahulu atau lebih lambat satu hari, maka ia tetap menghitung malam ganjil berdasarkan kalender Ramadan yang ia ikuti.
Dalam penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, malam ganjil dihitung berdasarkan urutan hari puasa masing-masing.
Jika seseorang berpuasa sejak tanggal yang ditetapkan Muhammadiyah, maka malam ke-21, 23, dan seterusnya dihitung dari awal tersebut.
Hal serupa juga dijelaskan oleh ulama fikih klasik.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menyatakan bahwa yang dimaksud malam ganjil adalah ganjil menurut hitungan Ramadan yang dijalani oleh seseorang.
Dengan demikian, perbedaan awal puasa tidak menjadi masalah dalam praktik ibadah.
Di sisi lain, sebagian ulama juga menganjurkan agar umat Islam memperbanyak ibadah pada seluruh sepuluh malam terakhir.
Dengan cara itu, peluang mendapatkan Lailatul Qadar menjadi lebih besar.
Rasulullah saw. sendiri memberi teladan dengan meningkatkan intensitas ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam sebuah hadis disebutkan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ
Artinya: “Apabila memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Nabi menghidupkan malam, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah tidak hanya fokus pada satu malam tertentu, tetapi menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah.
Dengan demikian, perbedaan awal Ramadan antara Muhammadiyah dan pemerintah tidak perlu menimbulkan kegelisahan.
Setiap Muslim tetap dapat mencari Lailatul Qadar dengan mengikuti hitungan Ramadan yang ia jalani.
Yang terpenting ialah memperbanyak ibadah, seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
Para ulama sepakat bahwa esensi Lailatul Qadar bukan sekadar menemukan tanggalnya, tetapi meraih keberkahan ibadah pada malam-malam terakhir Ramadan.
Oleh karena itu, semangat meningkatkan kualitas ibadah menjadi kunci utama dalam meraih kemuliaan malam yang lebih baik daripada seribu bulan tersebut.***






0 Tanggapan
Empty Comments