Seringkali kita menganggap bahwa sejarah itu sarat dengan kumpulan angka tahun yang kaku dan deretan nama yang jauh dari realitas masa kini.
Namun, melalui buku Membangun Tradisi Baru: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 2000–2025, persepsi tersebut dipatahkan.
Hadirnya momentum Kajian Ramadan 1447 H di Universitas Muhammadiyah Jember, buku ini hadir bukan sekadar untuk menumpuk debu di rak perpustakaan, melainkan sebagai kompas ideologis bagi mereka yang gelisah menatap masa depan gerakan Islam di Indonesia.
Dipimpin oleh sosiolog Moh. Mudzakir, Ph.D., tim penulis berhasil menjahit fragmen perjalanan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur selama seperempat abad.
Buku ini kian berbobot dengan kehadiran Haedar Nashir yang memberikan prolog reflektif serta Biyanto yang menutupnya dengan epilog tajam.
Membacanya adalah perjalanan menyelami bagaimana “Sang Surya” tetap bersinar terang di tengah badai perubahan zaman pasca-Reformasi.
Menjawab Tantangan Zaman
Narasi buku ini dimulai dengan memotret kegamangan sekaligus peluang di era milenium.
Muhammadiyah Jawa Timur dipaksa berhadapan dengan ledakan demokrasi, revolusi digital, dan pergeseran lanskap sosial-politik yang drastis.
Penulis dengan apik menggambarkan bahwa tantangan terbesar bukanlah musuh dari luar, melainkan bagaimana menjaga api tajdid (pembaruan) agar tidak padam tertelan oleh rutinitas organisasi.
Istilah “Tradisi Baru” yang diusung bukan sekadar slogan puitis. Ia adalah antitesis dari stagnasi.
Tradisi baru yang dimaksud adalah budaya organisasi yang lebih modern, terbuka, literatif, dan reflektif.
Melalui buku ini, kita diajak melihat bagaimana PWM Jatim melakukan “bedah jantung” terhadap sistem organisasinya—mengubah cara kerja yang manual menjadi digital, serta mengubah pola pikir yang birokratis menjadi lebih profesional dan melayani.
Empat Pilar Transformasi
Buku ini membedah empat pilar utama yang menjadi rahasia kekuatan Muhammadiyah Jawa Timur.
Pertama, Konsolidasi Organisasi. Pembaca akan menemukan betapa sistematisnya penataan struktur dari tingkat wilayah hingga ke akar rumput di ranting.
Ini adalah bukti bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada sistemnya, bukan pada figuritas semata.
Kedua, Ekspansi Amal Usaha. Jawa Timur terkenal sebagai “lokomotif” Amal Usaha Muhammadiyah nasional.
Namun, buku ini memberikan perspektif baru: bahwa pertumbuhan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan bukan lagi soal kuantitas, melainkan tentang standar kualitas dan dampak sosial yang nyata.
Kita akan membaca kisah-kisah di balik layar bagaimana pengelolaan institusi-institusi raksasa ini dengan semangat kemandirian yang luar biasa.
Ketiga, Transformasi Dakwah. Di sini, pembaca akan terkesima melihat bagaimana organisasi yang berusia lebih dari seabad ini mampu “bermain” di ranah digital.
Dakwah tidak lagi terbatas pada mimbar-mimbar masjid, tetapi merambah ke ruang siber, komunitas literasi, hingga pemberdayaan ekonomi kreatif.
Keempat, Makna Ideologis. Inilah ruh dari buku ini. Penulis menekankan bahwa melakukan perubahan teknis apa pun tetap harus berpijak pada nilai Islam Berkemajuan.
Inovasi tanpa akar hanya akan menciptakan organisasi tanpa jiwa, dan buku ini memastikan pembaca memahami keseimbangan tersebut.
Mengapa Anda Harus Membacanya?
Kelebihan utama buku ini terletak pada kejujurannya.
Ia tidak hanya memajang deretan kesuksesan yang berkilau, tetapi juga berani menyisipkan dinamika internal, tantangan yang menguras energi, serta proses jatuh bangun yang memanusiakan organisasi.
Gaya bahasanya yang sistematis membuat data-data padat terasa mengalir layaknya sebuah memoar kolektif.
Memang, sebagai karya dokumentatif, ada bagian-bagian yang sarat dengan data struktural yang mungkin terasa berat bagi pembaca awam.
Namun, justru di situlah letak validitasnya. Buku ini bukan sekadar kumpulan motivasi, melainkan dokumen sejarah yang otentik dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Membangun Tradisi Baru adalah sebuah ajakan untuk bermuhasabah.
Bagi para kader muda, buku ini adalah warisan inspirasi tentang bagaimana menjadi relevan di zaman yang serba cepat.
Bagi para pimpinan dan penggerak amal usaha, buku ini adalah manual strategis tentang cara merawat pertumbuhan.
Sejarah, sebagaimana tergambarkan dalam buku ini, bukanlah masa lalu yang mati.
Ia adalah laboratorium besar tempat kita belajar dari kegagalan dan merayakan keberhasilan.
Membaca buku ini akan menyadarkan kita bahwa Muhammadiyah Jawa Timur tidak sedang menunggu masa depan; mereka sedang membangunnya.
Jika Anda ingin memahami bagaimana sebuah organisasi agama mampu bertahan dan tetap progresif di tengah arus modernitas, buku ini adalah jawabannya.***






0 Tanggapan
Empty Comments