Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Kita Harus Peduli dengan Palestina?

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Kita Harus Peduli dengan Palestina?
pwmu.co -
Gambar Ilustrasi (Istimewa/PWMU.CO)

Oleh: Abdul Hafid – Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro

PWMU.CO – Hari ini kita masih sering menjumpai berita tentang Palestina yang masih dijajah oleh Israel. Penjajahan ini telah berlangsung selama puluhan tahun sejak awal konflik pada tahun 1917. Saat itu, Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, menulis surat singkat yang hanya berisi 67 kata. Surat tersebut ditujukan kepada Lionel Walter Rothschild, seorang tokoh komunitas Yahudi di Inggris.

Isi surat itu berdampak besar hingga saat ini, karena mengikat pemerintah Inggris untuk mendirikan rumah nasional bagi orang Yahudi di Palestina serta memberikan fasilitas untuk mencapai tujuan tersebut. Surat ini kemudian dikenal sebagai Deklarasi Balfour.

Deklarasi tersebut sangat kontroversial di mata dunia karena isinya menjanjikan dukungan dari Inggris kepada Zionis untuk mendirikan rumah nasional bagi kaum Yahudi di tanah Palestina. Kemudian, pada tahun 1948, negara yang kini menjajah dan telah membunuh ribuan, bahkan jutaan, warga Palestina itu berdiri dengan nama Israel.Sehari setelah berdirinya Israel, kelompok Zionis yang telah dilatih oleh Inggris secara paksa mengusir lebih dari 750.000 warga Palestina dari tanah air mereka. Peristiwa tragis ini dikenal sebagai Nakba, yang berarti “malapetaka”.

Penjajahan di Palestina yang berlangsung sejak 1948 hingga kini semakin meluas, menyebabkan semakin banyak korban luka-luka dan tewas di tangan penjajah. Tragedi kemanusiaan terus terjadi, termasuk pada 30 Maret 2025, ketika warga Palestina di Gaza yang lebih dahulu merayakan Idul Fitri harus menghadapi serangan bom Israel. Hari kemenangan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan berubah menjadi duka mendalam. Setidaknya 20 korban jiwa tercatat akibat serangan tersebut, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak, sebagaimana dilaporkan oleh Al Jazeera.

Sementara itu, di Indonesia dan negara lain yang tidak mengalami penjajahan, umat Muslim merayakan Idul Fitri dengan penuh ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan. Namun, kebahagiaan ini tidak boleh membuat kita melupakan saudara-saudara kita di Palestina. Sering kali muncul pertanyaan skeptis, seperti “Kenapa kita harus peduli dengan Palestina? Bukankah di negara sendiri masih banyak yang hidup dalam kesulitan?”.

Pertanyaan semacam ini seharusnya tidak perlu diucapkan, apalagi dijadikan bahan provokasi. Isu Palestina bukan sekadar persoalan agama, tetapi juga persoalan kemanusiaan. Sebagai manusia yang berakal, cukup dengan melihat penderitaan mereka, rasa simpati dan empati seharusnya tumbuh dalam hati kita. Maka, ada beberapa alasan mendasar mengapa kita harus peduli terhadap Palestina.

1. Persaudaraan Seiman

Allah subhanahu wa taala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al-hujurat: 10). Selain itu, Rasulullah juga bersabda “Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua dalil ini dengan jelas menunjukkan bahwa setiap Muslim di berbagai penjuru dunia adalah saudara. Persaudaraan seiman inilah yang menyatukan kita semua dalam ikatan ukhuwah Islamiyah, yang bukan sekadar konsep, tetapi sebuah kewajiban yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Islam mengajarkan bahwa persatuan dimulai dari persaudaraan, dan perwujudan ukhuwah Islamiyah bukan hanya sebatas ucapan, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan nyata. Meskipun kita tidak bisa secara langsung membantu saudara-saudara kita di Palestina dengan ikut melawan Israel di Palestina, kita dapat mendukung perjuangan Palestina dengan banyak cara. Salah satunya adalah dengan mendonasikan harta untuk membantu kebutuhan rakyat Palestina. Bantuan ini sangat berarti bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal, keluarga, dan sumber penghidupan akibat agresi Israel. Selain itu, kita juga dapat berkontribusi dengan memboikot produk dan perusahaan yang terafiliasi dengan Israel. Pemboikotan ini memiliki dampak besar karena merupakan bentuk protes nyata terhadap genosida yang dilakukan Israel serta sebagai penolakan terhadap produk dan perusahaan yang mendukung penjajahan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam hadits juga disebutkan bahwa sesama muslim ibarat satu tubuh, Nabi bersabda:

 مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه مسلم)

Artinya: Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No 4685).

Hadits ini mengandung makna pentingnya saling menanggung, memikul dan membantu dalam kehidupan sesama umat islam, perumpamaan seorang muslim itu ibarat satu tubuh apabila salah satu anggota ada yang sakit maka seluruhnya akan merasakannya, seperti itulah ukhuwah islamiyah ibarat satu tubuh yang saling merasakan.

2. Hubungan Palestina dengan Islam

• Salah Satu Negeri Syam

Negeri Syam adalah wilayah bersejarah yang mencakup Suriah, Yordania, Lebanon, dan Palestina. Dalam konteks sejarah, Negeri Syam memiliki keistimewaan yang erat kaitannya dengan agama, khususnya dalam tradisi Islam, Nasrani, dan Yahudi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Dalam Islam, Palestina termasuk dalam Tanah Syam yang dikenal sebagai Bumi Para Nabi karena banyak nabi yang lahir, diutus, singgah, dan berdakwah di sana untuk menegakkan nilai-nilai tauhid. Selain itu, Palestina juga menjadi tempat berkumpulnya orang-orang mulia dan berilmu. Di sana pula terletak Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, yang merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum Allah memerintahkan pemindahan kiblat ke Ka’bah di Makkah.

• Tanah yang diberkahi oleh Allah

Allah SWT menyebut Palestina sebagai tanah yang diberkahi. Dalam Surat Al-Isra ayat 1, Allah berfirman: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (QS. Al-Isra: 1).

Masjid Al-Aqsha, yang berada di Yerusalem, Palestina, disebut sebagai tempat yang diberkahi sekelilingnya. Ini menunjukkan keutamaan Palestina dalam pandangan Islam.

• Penaklukan oleh Umar bin khattab

Dahulu, Palestina berada di bawah kekuasaan Romawi Bizantium hingga akhirnya ditaklukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, Umar menunjukkan sikap toleransi yang tinggi kepada penduduk setempat tanpa membedakan agama.

Di bawah kepemimpinan Islam, umat Muslim hidup berdampingan dengan umat Kristen. Sejak awal kedatangannya, Islam tidak membawa kekerasan atau peperangan, apalagi menumpahkan darah. Sebaliknya, Islam hadir dengan membawa kedamaian dan kasih sayang.

3. Kiblat Pertama Umat Islam, Masjid Al-Aqsa, Terletak di Palestina

Kiblat pertama umat Islam adalah Masjid Al-Aqsa di Baitul Maqdis. Menurut Dr Muhammad Husain Mahasnah dalam buku “Pengantar Studi Sejarah Peradaban Islam”, ketika Rasulullah SAW dan para sahabat masih berada di Makkah, mereka melaksanakan shalat dengan menghadap ke arah Masjid Al-Aqsa.

Setelah hijrah ke Madinah dan menerima perintah shalat, Nabi SAW tetap menjadikan Masjid Al-Aqsa sebagai kiblat selama kurang lebih 17 bulan. Hal ini bertujuan agar umat Islam dapat beribadah dengan menghindari arah yang dipenuhi berhala dan sesembahan, serta menghadap ke tempat yang suci. Pada masa itu, Masjidil Haram masih dipenuhi dengan ratusan berhala yang disembah oleh kaum Jahiliyah.

Pemindahan kiblat dari Masjid Al-Aqsa ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Rajab tahun kedua Hijriyah, atau sekitar Januari 624 Masehi. Saat itu, Rasulullah SAW tengah melaksanakan shalat Dhuhur di Masjid Bani Salamah dengan posisi menghadap ke arah Masjid Al-Aqsa.

Pada saat yang sama, Rasulullah SAW mendapat perintah dari Allah SWT agar memindahkan kiblat ke arah Masjidil Haram sebagaimana tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 144. 

نَرى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّماءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضاها فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ وَحَيْثُ ما كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (١٤٤)

Artinya: Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidil Haram) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.

Turunnya ayat ini disambut dengan bahagia oleh rasul sebab arah kiblat yang dulunya sama dengan orang yahudi berpindah ke Masjidil haram. Arah kiblat yang sama sering menimbulkan konflik yang membuat umat islam berada diambang keraguan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu