Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengapa Proses Bimbingan Melampaui Deadline?

Iklan Landscape Smamda
Mengapa Proses Bimbingan Melampaui Deadline?
Oleh : Nurudin Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Alamat IG/tiktok/tread/X: nurudinwriter
pwmu.co -

“Pak, maaf mengganggu. Besok pengumpulan naskah skripsi jam 12 ya? Saya baru selesai bagian analisis data, boleh konsultasi sekarang?”

Pesan itu masuk pukul 22.47 WIB. Di sisi lain layar, seorang dosen yang baru saja menutup laptopnya menarik napas panjang.

Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia sudah hafal pola yang seperti satu ini.

Deadline besok pagi, konsultasi malam ini. Populer dengan sebutan SKS atau Sistem Kebut Semalam.

Sistem ini bukan cuma budaya mahasiswa saat ujian, tapi juga menjalar ke ruang bimbingan.

Fenomena ini bukan cerita baru di dunia kampus.

Dosen yang sudah mengajar puluhan tahun pasti telah merasakan kasus ini.

Setiap semester, selalu ada fase yang menjadikan ruang dosen, kotak masuk email, hingga WhatsApp mendadak ramai menjelang tenggat waktu.

Mahasiswa yang selama berminggu-minggu tampak tenang, tiba-tiba mengalami kepanikan.

File dikirim dengan nama “Revisi_Fix_Final_Banget_5”.

Pesan dengan prolog kalimat yang sarat permohonan maaf.

Dan pada penutupnya biasa dengan kalimat, “Mohon bantuannya ya, Pak/Bu, ini urgent.” Atau yang mirip seperti itu.

Bagi mahasiswa, SKS kerap menjadi jurus pamungkas untuk bertahan hidup.

Betapa tidak? Tumpukan tugas organisasi, jadwal magang yang padat, hingga pekerjaan paruh waktu (part time) demi tambahan uang saku sering kali menyita seluruh waktu.

Belum lagi drama kehidupan pribadi—seperti urusan asmara—yang tak kalah menguras energi.

Di tengah hiruk-pikuk itu, revisi proposal atau skripsi seringkali dipandang sebagai beban yang bisa ‘nanti dulu’.

Namun tanpa sadar, kata ‘nanti’ itu tiba-tiba saja berubah menjadi ‘besok harus dikumpul’.

Masalahnya, dosen tidak hanya hidup untuk satu mata kuliah, apalagi hanya untuk satu mahasiswa.

Mereka harus membagi fokus untuk membimbing puluhan orang, mengisi jam terbang di berbagai kelas, menghadiri rapat, hingga menjalankan penelitian.

Itu pun belum termasuk urusan domestik bersama keluarga yang juga menuntut perhatian.

Bayangkan jika dalam satu malam, ada lima mahasiswa yang mengirim pesan serupa dengan desakan yang sama.

Bukankah itu cukup untuk membuat kepala pening—bahkan mungkin memicu vertigo?

Bukan karena mereka enggan membantu, tetapi karena waktu bukanlah karet yang bisa ditarik ulur sesuka hati.

Yang sering luput untuk mereka pahami, konsultasi sesungguhnya bukan sekadar formalitas tanda tangan.

Idealnya, proses bimbingan adalah dialog dua arah yang butuh waktu untuk membaca, mencermati, dan memberi masukan yang lengkap.

Bayangkan apa yang terlintas di pikiran dosen ketika naskah setebal 50 halaman tiba-tiba mendarat di meja kerja hanya beberapa jam sebelum deadline?

Tentu ini berada pada posisi yang serba salah.

Jika dibalas kilat tanpa ditelaah secara detail, kualitas bimbingan tentu menjadi taruhan.

Namun, jika diminta revisi mendalam, mahasiswa sering kali merasa ‘dipersulit’.

Tak jarang kemudian situasi ini berujung pada curhatan ke sesama teman tentang dosen yang dianggap sulit ditemui atau enggan membaca.

Di sinilah miskomunikasi kerap terjadi. Mahasiswa merasa sudah berjuang mati-matian meski di detik terakhir, sementara dosen merasa sang mahasiswa kurang menghargai prosesnya.

Keduanya sama-sama lelah, namun jarang ada ruang untuk duduk bersama dan membedah pola yang terus berulang setiap tahun ini.

Padahal, menariknya, kebanyakan dosen tidak keberatan dengan tulisan mahasiswa yang belum sempurna.

Mereka jauh lebih menghargai proses bertahap daripada hasil yang instan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Draf kasar yang dikirim jauh hari sebelum deadline seringkali justru mendapat respons yang lebih detail dan hangat.

Sebab di sana, dosen tidak hanya melihat tumpukan kertas, tetapi melihat niat tulus untuk berkembang—bukan sekadar formalitas untuk menggugurkan kewajiban.

Namun lagi-lagi budaya “deadline adalah motivasi terbaik” itu terlanjur mengakar.

Mungkin ada sensasi adrenalin saat detik-detik terakhir.

Ada kepuasan tersendiri ketika tugas selesai tepat sebelum sistem ditutup.

Sayangnya, dalam konteks bimbingan akademik, pola “serba mendadak” ini berdampak yang jauh lebih luas.

SKS bukan hanya soal mahasiswa yang begadang demi mengejar deadline.

Lebih dari itu pola ini bisa merusak kualitas diskusi, mendangkalkan kedalaman analisis, dan merenggangkan hubungan profesional antara dosen dan mahasiswa.

Dosen yang terus-terusan dihadapkan pada konsultasi mendadak lambat laun akan kehilangan energi untuk memberikan masukan optimal.

Di sisi lain, mahasiswa yang terbiasa kejar tayang cenderung terjebak pada pola pikir ‘yang penting selesai’ ketimbang ‘benar-benar paham’.

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membentuk mentalitas kerja yang reaktif, bukan proaktif.

Padahal, dunia profesional jauh lebih menghargai perencanaan yang matang daripada aksi ‘heroik’ di detik terakhir yang penuh risiko.

Namun, bukan berarti beban kesalahan sepenuhnya tertuju pada mahasiswa.

Ada kalanya jadwal dosen memang sangat padat, balasan pesan yang memakan waktu lama, hingga arahan yang terasa abu-abu.

Ketika jembatan komunikasi tidak terbangun sejak awal, mahasiswa sering kali merasa ragu untuk berkonsultasi secara mencicil.

Akibatnya, mereka memilih menunggu hingga naskah ‘cukup jadi’, yang sayangnya momen itu sering kali bertabrakan dengan tenggat waktu.

Meredam Drama Tengah Malam

Lalu, bagaimana cara memutus lingkaran setan SKS ini? Kuncinya terletak pada transparansi dan kesepakatan di awal proses bimbingan.

Mahasiswa perlu proaktif bertanya mengenai waktu terbaik untuk konsultasi, durasi umpan balik, hingga format revisi yang diharapkan.

Sebaliknya, dosen pun dapat menetapkan aturan main yang jelas—misalnya dengan mewajibkan naskah dikirim minimal tiga hari sebelum diskusi dimulai.

Dengan adanya kontrak belajar yang jelas, proses bimbingan bukan lagi menjadi beban yang dikebut dalam semalam, melainkan perjalanan akademik yang bermartabat.

Perubahan yang kecil dan sederhana sebenarnya mampu memberi dampak besar.

Cukup dengan mengirimkan outline lebih awal —sebelum seluruh bab lengkap— merupakan strategi cerdas.

Menyusun daftar pertanyaan spesifik sebelum bertemu dosen juga membuat waktu konsultasi jauh lebih efisien dan asyik.

Selain itu, penting untuk membangun timeline pribadi yang realistis—bukan sekadar berlandaskan optimisme buta.

Hal-hal sederhana inilah yang akan meredam ‘drama tengah malam’ yang kerap membuat kedua belah pihak merasa tertekan.

Pada akhirnya, hubungan antara dosen dan mahasiswa bukanlah relasi atasan dan bawahan, melainkan antara mentor dan pembelajar.

Proses bimbingan sejatinya adalah ruang untuk tumbuh, bukan arena kejar-kejaran waktu layaknya balapan MotoGP.

Meski deadline itu penting, namun kualitas proses jauh lebih menentukan nilai dari hasil akhir yang dicapai.

Konsultasi dadakan menjelang deadline mungkin terasa heroik bagi sebagian mahasiswa, namun bagi dosen, hal itu sering kali hanya menjadi beban tambahan dalam daftar pekerjaan yang sudah menumpuk.

Jika menginginkan bimbingan yang lebih bermakna, mahasiswa perlu mulai meninggalkan ‘romantisme SKS’ dan beralih ke budaya persiapan yang matang.

Sebab, kesuksesan akademik tidak diukur dari seberapa cepat kita menekan tombol ‘kirim’, melainkan dari seberapa dewasa kita mempersiapkan diri sebelum waktu benar-benar habis.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡