Suasana di Gedung Dakwah Muhammadiyah Laren nampak begitu semarak pada Minggu (21/12/2025). Hal tersebut tak lepas dari hadirnya puluhan perempuan berkemajuan yang tergabung dalam Corp Muballighot ‘Aisyiyah (CMA) Cabang Laren.
Mereka berkumpul bukan sekadar untuk mendengar ceramah, melainkan untuk mengasah keterampilan retorika melalui agenda Praktik Kulim (Kuliah Lima Menit).
Kegiatan ini menjadi ruang bagi para muballighot untuk melatih mental, kedalaman materi, hingga cara berkomunikasi yang efektif di hadapan jamaah.
Ruang Belajar yang Hangat dan Kritis
Di bawah atap Gedung Dakwah yang menjadi pusat pergerakan tersebut. Sesuai dengan kesepakatann Forum CMA di bulan Nopember, bahwa pada Desember, perwakilan satu Peserta dari tiga ranting tampil ke depan untuk menyampaikan kuliah tujuh lima menit atau yang sering di sebut dengan kulim.
Di samping itu, hal ini sesuai dengan kesepakatan Waktu lima menit menjadi tantangan tersendiri. Yaitu, bagaimana menyampaikan pesan yang padat, berisi, namun tetap menyentuh hati tanpa bertele-tele.
Dengan begitu indahnya mereka menyampaikannya sehingga waktu yang di berikan bukan lima menit, bahkan sampai 10 menit.
Materi yang mereka bawakan sangat beragam, mulai dari penguatan akidah, Akhlak, hingga kunci kebahagiaan.
Lebih dari Sekadar Bicara
Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Laren, Nur Hidayati SPd, menekankan bahwa praktik ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan berbicara. Ada tiga esensi utama yang ditekankan dalam praktik di Gedung Dakwah ini:
1. Penguasaan Dalil: Setiap muballighot dilatih untuk teliti dalam menyitir ayat Al-Qur’an dan Hadist yang sahih.
2. Kekuatan Karakter: Membangun kepercayaan diri agar saat terjun ke ranting-ranting atau majelis taklim, mereka tampil sebagai sosok yang mencerahkan dan menggerakkan.
Hal yang paling menarik dalam praktik ini adalah sesi pencerahan oleh seorang Muballigh Senior, yaitu Ustadz Masroin Assafani MAg.
Setelah peserta selesai berpidato, beliau memberikan masukan yang membangun. Mulai dari intonasi suara, gestur tubuh, hingga sistematika penyampaian materi.
Semangat fastabiqul khairat sangat terasa. Tidak ada senioritas yang kaku; yang ada adalah semangat untuk saling memperbaiki diri demi tegaknya dakwah amar ma’ruf nahi munkar di wilayah Laren.
Melalui praktik kultum di Gedung Dakwah Muhammadiyah Laren ini, Corp Muballighot ‘Aisyiyah membuktikan bahwa dakwah memerlukan persiapan yang matang.
Mereka tidak hanya mengandalkan semangat, tapi juga kapasitas diri yang terus ditingkatkan. Dari gedung ini, harapannya lahir para singa podium perempuan yang suaranya mampu menggerakkan perubahan sosial menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Laren Berkemajuan, ‘Aisyiyah Mencerahkan.





0 Tanggapan
Empty Comments