Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengelola Rumah Sakit di Tengah Krisis: Antara Mutu, Tata Kelola, dan Solusi Konkret

Iklan Landscape Smamda
Mengelola Rumah Sakit di Tengah Krisis: Antara Mutu, Tata Kelola, dan Solusi Konkret
Rudi Utomo. Ilustrasi: Istimewa
Oleh : Rudi Utomo, S.KM., M.Kes Wakil Sekretaris MPKU PWM Jatim dan Pemerhati Kebijakan Perumahsakitan Indonesia
pwmu.co -

Rumah sakit kini bukan lagi sekadar tempat orang datang berobat. Ia dituntut gesit mengikuti regulasi yang berubah begitu cepat, piawai menjaga arus kas, sekaligus tangguh menghadapi pasien yang makin kritis dalam menilai layanan.

Di tengah pusaran itu, manajemen pun kian terhimpit oleh tarif INA-CBGs BPJS yang sering tak menutup biaya riil, ditambah ancaman audit pascaklaim yang bikin kepala pening.

Sementara itu, pasien menghendaki pelayanan bermutu, dan pemilik rumah sakit menuntut agar institusi tetap sehat secara finansial.

Lalu, apa langkah yang mesti ditempuh agar rumah sakit tidak sekadar bertahan, melainkan juga dipercaya, bermutu, dan berkelanjutan?

Mutu Layanan: Fondasi yang Tidak Bisa Dikompromikan

Mutu adalah jantung rumah sakit. Krisis keuangan atau regulasi tidak boleh menjadi alasan menurunkan standar pelayanan. Justru mutu harus dipertahankan agar kepercayaan masyarakat tidak luntur.

Pengalaman pasien—mulai dari keramahan tenaga medis, kecepatan layanan, hingga keselamatan pasien—adalah faktor utama loyalitas.

Solusi konkret yang bisa dilakukan dalam menjaga mutu layanan adalah audit mutu secara rutin, memperbaiki alur pelayanan dengan lean management, hingga digitalisasi proses pendaftaran dan antrean.

Contoh yang dapat dilakukan di RS Muhammadiyah/Aisyiyah misalnya, memperbaiki sistem triase gawat darurat sehingga pasien lebih cepat tertangani. Mutu yang konsisten seperti ini menjadi modal besar dalam membangun reputasi.

Tata Kelola: Transparan, Akuntabel, dan Berbasis Data

Tata kelola rumah sakit yang sehat tidak cukup dengan birokrasi formal. Direksi, MPKU selaku penyelenggara, dan manajemen lainnya harus memiliki garis visi yang jelas. Pengambilan keputusan harus berbasis data, bukan sekadar intuisi.

RS Muhammadiyah/Aisyiyah di Jawa Timur harus memiliki dashboard kinerja yang menampilkan data mutu, keuangan, hingga klaim BPJS secara real time. Dengan ini, manajemen bisa cepat menilai risiko, mengendalikan pemborosan, dan menyesuaikan strategi ketika ada perubahan regulasi.

Transparansi juga penting: hasil audit keuangan maupun mutu sebaiknya dilaporkan secara berkala ke pemilik atau penyelenggara (MPKU/Majelis Kesehatan), sehingga tercipta pengawasan sekaligus dukungan.

Manajemen Keuangan: Disiplin dan Kreatif

Persoalan paling pelik memang ada pada finansial. Tarif klaim sering tidak menutupi biaya, namun di sinilah dibutuhkan manajemen keuangan yang disiplin. Ada beberapa langkah nyata yang bisa ditempuh:

Pertama, optimalisasi klaim BPJS dengan tim coding & klaim khusus, serta pre-audit internal sebelum diverifikasi BPJS.

Kedua, diversifikasi pendapatan, misalnya membuka klinik eksekutif, telemedicine berbayar, medical check-up korporasi, atau kerjasama dengan asuransi swasta.

Ketiga, efisiensi cerdas, bukan pemangkasan membabi buta. RS Muhammadiyah/Aisyiyah se-Jawa Timur diarahkan oleh MPKU Jawa Timur dalam mengonsolidasikan pengadaan obat, BMHP dan pengadaan alat kesehatan melalui PT Surya Medika Timur sehingga harga lebih murah, produk berkualitas dan stok terkendali.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Keempat, manajemen kas ketat, menjaga arus kas tetap positif meski klaim sering terlambat cair.
Dengan langkah-langkah ini, rumah sakit bisa menjaga keseimbangan antara misi sosial dan kebutuhan finansial.

Pemasaran: Membangun Kedekatan dan Loyalitas

Dalam krisis, rumah sakit justru perlu lebih proaktif menjalin kedekatan dengan masyarakat. Pemasaran bukan sekadar promosi layanan, melainkan strategi membangun kepercayaan.

Program skrining gratis, edukasi kesehatan di sekolah atau masjid, hingga kampanye kesehatan di media sosial terbukti efektif membangun citra positif.

RS Muhammadiyah/Aisyiyah harus rutin mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat yang sekaligus memperkenalkan layanan unggulannya.

Media sosial juga harus dikelola serius, bukan hanya untuk publikasi satu arah, tetapi juga ruang responsif terhadap pertanyaan dan keluhan pasien. Dengan begitu, loyalitas pasien akan tumbuh secara alami.

SDM dan Budaya Organisasi: Pilar yang Sering Terlupakan

Kualitas rumah sakit sangat ditentukan oleh kualitas SDM. Krisis sering menggoda manajemen untuk memangkas SDM, padahal langkah itu bisa berakibat fatal pada mutu layanan.

Solusi yang lebih bijak adalah efisiensi melalui pelatihan lintas kompetensi, sistem reward bagi tenaga medis yang berprestasi, serta menjaga kesejahteraan karyawan agar tetap termotivasi. Tenaga kesehatan yang merasa dihargai akan bekerja dengan lebih tulus dan loyal.

Kepercayaan Publik: Kunci Keberlanjutan

Pada akhirnya, yang dibutuhkan rumah sakit adalah kepercayaan. Pasien mau kembali karena yakin mendapat pelayanan bermutu, biaya yang transparan, dan perhatian yang tulus.

Rumah sakit bisa membangun kepercayaan ini melalui keterbukaan tarif, mekanisme feedback digital yang ditindaklanjuti cepat, hingga program tanggung jawab sosial.

Krisis sebenarnya bisa menjadi momentum transformasi. Rumah sakit yang mampu melewati tekanan tarif rendah, regulasi ketat, dan tuntutan mutu akan lahir sebagai rumah sakit yang lebih tangguh.

Mutu layanan yang konsisten, tata kelola yang transparan, keuangan yang sehat, pemasaran yang humanis, dan SDM yang bersemangat akan melahirkan rumah sakit yang tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang.

Masyarakat membutuhkan rumah sakit yang bermutu, berintegritas, dan dipercaya. Dengan langkah konkret dan kepemimpinan yang visioner, rumah sakit—baik Muhammadiyah/Aisyiyah—dapat menjadi pilar kesehatan yang bermartabat, sehat secara finansial, dan berkelanjutan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu