Aceh Tamiang bukan sekadar titik di peta bagi Ardian Dwi Ananta, S.Kep.Ns. Wilayah itu adalah medan ujian—antara lumpur, jembatan berlubang, dan nyali yang harus tetap menyala demi kemanusiaan, Jumat (13/2/2026)
Sebagai relawan DMC RSA Bojonegoro yang tergabung bersama MDMC Jawa Timur, Ardian tak hanya berperan sebagai tenaga kesehatan. Ia juga dipercaya menjadi driver kendaraan medis, tugas yang justru menjadi tantangan paling ekstrem selama 13 hari respon bencana banjir dan longsor di Aceh Tamiang.
Setiap perjalanan menuju lokasi pelayanan kesehatan adalah pertaruhan. Jalanan berlumpur, tanjakan berbatu, turunan licin, hingga jembatan yang nyaris amblas menjadi pemandangan harian.
“Beberapa jembatan benar-benar berlubang. Kami harus mengepaskan roda depan dan belakang agar tidak terperosok. Salah hitung sedikit saja, bisa berbahaya,” tutur Ardian.
Tak jarang, kendaraan relawan terjebak lumpur. Dua kali mobil medis yang dikemudikannya tak mampu bergerak. Namun di situlah kemanusiaan kembali bicara. Warga sekitar berbondong-bondong membantu mendorong, tanpa diminta, tanpa pamrih.
“Gotong royong warga Aceh Tamiang luar biasa. Mereka yang justru terdampak, tapi tetap membantu kami agar bisa menolong yang lain,” katanya.
Mobilisasi logistik pun menjadi tantangan tersendiri. Jarak tempuh sekitar tiga jam menuju pusat kota membuat belanja kebutuhan hanya bisa dilakukan tiga hari sekali. Ardian harus memastikan kendaraan aman, logistik sampai, dan tim relawan tetap bisa menjalankan tugas.
Di balik kemudi, Ardian belajar satu hal penting: mengemudi bukan hanya soal mengantar manusia, tapi juga mengantar harapan. Setiap roda yang berputar di atas lumpur adalah doa agar pelayanan kesehatan tetap sampai ke tangan para penyintas.
“Selama niat kita menolong, Allah selalu kirimkan pertolongan lewat tangan-tangan baik,” ujarnya.
Aceh Tamiang mungkin akan pulih perlahan. Namun kisah Ardian—yang menembus lumpur demi kemanusiaan—akan tinggal lama di ingatan mereka yang diselamatkan.






0 Tanggapan
Empty Comments