Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengenang Saat Ber-Muhammadiyah di Australia

Iklan Landscape Smamda
Mengenang Saat Ber-Muhammadiyah di Australia
pwmu.co -

Oleh : Haidir Fitra Siagian – Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Ketua PRIM NSW Australia 2021/2022

PWMU.CO – Hidup kadang menghadirkan kejutan yang tak terduga. Sesuatu bisa datang begitu saja, layaknya hujan rintik-rintik yang turun di tengah hari. Itulah yang pernah saya rasakan ketika menerima pesan dari sahabat lama, Bang Sayuti—Muhammad Sayuti, Ph.D. Beliau saat ini sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Dekan FKIP Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Ia menyampaikan hasratnya untuk bersilaturahmi ke rumah kami di Bakung, Samata, Gowa. Permintaan itu terasa istimewa. Selain karena kami sudah lama tak berjumpa, beliau juga merupakan sosok penting dalam gerakan Muhammadiyah—organisasi keagamaan terbesar keempat di dunia.

Sejak masih belia, Bang Sayuti telah menjadi kader Muhammadiyah. Saat menjadi mahasiswa, ia sudah bekerja di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan terlibat dalam pengelolaan Berita Resmi Muhammadiyah. Kini, dirinya dikenal luas, terutama saat Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan atau Syawal. Beliau menjadi sering muncul di media arus utama dan viral melalui pesan berantai hingga ke mancanegara.

Sejak tahun 2023, ketika kami masih di Australia, beliau telah mengemban tugas tersebut. Tak berlebihan jika saya katakan, perannya bisa disejajarkan dengan Menteri Agama. Tugasnya mengumumkan hasil sidang isbat, namun dari perspektif Persyarikatan Muhammadiyah.

Meski saya masih dalam kondisi yang belum sehat benar, kabar kedatangannya telah membuat hati saya bergembira dan berbunga-bunga. Sang istri pun menyambutnya dengan suka cita, apalagi selama Idul Fitri kami belum kedatangan tamu sama sekali. Secara kebetulan kami baru saja balik dari kampung halaman istri di Majene, Sulawesi Barat. Kunjungan ini pun terasa seperti menyambung kembali mata rantai persaudaraan yang sempat terputus.

Saya mengenal Bang Sayuti sejak 1998, tepatnya saat saya magang di kantor redaksi Suara Muhammadiyah, dan tinggal di belakang kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta. Kami sama-sama sebagai aktivis IRM/IPM, bersama Mas Izzul Muslimin dan Mas Taufiqurrahman. Hubungan kami pun semakin erat ketika saya harus mendampingi istri melanjutkan studi doktoral di Australia.

Selama empat tahun tinggal di Negeri Kanguru, saya menjabat sebagai Ketua Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) New South Wales. Sementara Bang Sayuti sebagai salah satu pendirinya dan sekaligus penasihat PRIM. Meski telah balik ke Indonesia, ia masih tetap menjadi bagian penting dari dinamika dakwah di luar negeri. Apalagi kami sering rapat virtual yang beliau ikuti.

Kali ini, beliau menyempatkan mampir ke rumah. Beliau datang ke Kalimantan dan Sulawesi — tepatnya ke Palopo, Enrekang, dan Bone — dalam rangka kunjungan dakwah. Pertemuan kami yang berlangsung sekitar 3,5 jam itu pun penuh dengan suasana yang hangat, penuh nostalgi. Kami tak lupa juga membicarakan kelanjutan gerakan Muhammadiyah di ranah global, terutama di Negeri Kanguru.

Pertemuan ini terasa bukan sekedar reuni biasa. Tapi menjadi ruang penyatuan semangat dan sekaligus memperkuat komitmen bersama. Kami menyadari bahwa dari kedekatan hati ini, tentunya akan lahir semangat baru untuk terus melangkah, meski arah dan medan perjuangan bisa saja berbeda.

Bang Sayuti juga berinisiatif mengajak alumni-alumni dari Australia yang kini berada di Makassar. Maka kami undanglah Doktor Hera Budi Gunawan dari Universitas Hasanuddin, dan Doktor Irsyad Dhahri Samad dari Universitas Negeri Makassar. Saat di Australia, Doktor Irsyad pernah menjabat Ketua Jamaah Pengajian Illawara (JPI). Sebuah organisasi yang menghimpun diaspora Muslim Indonesia di Wollongong. Saya sendiri pernah menjadi Sekretaris JPI dua periode, di bawah kepemimpinan Mas Heranuddin dan Mas Saeful A. Tauladani. 

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Dalam percakapan itu, terselip nostalgia kehidupan diaspora Muslim Indonesia di Australia. Mulai dari kisah perjuangan sebagai pekerja paruh waktu seperti menjadi penjaga toko, cleaning service di bank dan kantor pemerintah, hingga tentang suka-duka mahasiswa yang wafat saat bekerja. Tapi ada pula kisah manis dari itu, yaitu pernikahan lintas budaya dan komunitas lokal.

Ada satu kisah Bang Sayuti sangat membekas sebagai kenangan tak terlupakan. Ia hampir terkenai denda sekitar “tujuh juta rupiah” karena mengajari istrinya menyetir mobil tanpa lisensi instruktur resmi, meskipun telah memiliki SIM internasional. Polisi sempat menulis surat denda, tapi tiba-tiba membatalkannya.  “Entah kenapa, mungkin karena waktu itu saya terus membaca salawat dan zikir ya,” ujar Bang Sayuti. Kisah ini terasa sebagai penyadar bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tak di sangka-sangka.

Dalam silaturahmi itu, kami juga membicarakan isu strategis, yaitu tentang pendirian Sekolah Muhammadiyah di Sydney. Gagasan ini sudah ada sejak 2022, saat Bapak Dahlan Rais bersama rombongan berkunjung ke rumah Bang Iwan di Leppington, Sydney. Sekarang PP Muhammadiyah telah memberi dukungan penuh, termasuk akan membantu dalam hal pendanaan. Upaya ini bukan sekadar menghadirkan institusi pendidikan, melainkan juga membangun pusat pembinaan aqidah, akhlak, dan budaya Islam yang ramah.

Kami juga membahas Sekolah Muhammadiyah di Melbourne yang kekurangan tenaga pengajar.  Ustadz Hamim Naim (Ketua PCIM Australia) pernah menyampaikan sedang membutuhkan guru ngaji dari kalangan kader Muhammadiyah yang hafal Al-Qur’an, mampu berbahasa Inggris, serta memahami dan mengamalkan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah. Istilah sederhananya, kader Muhammadiyah yang militant dan penuh dedikasi.

Tantangan di tempat rantau memang berbeda. Pada satu sisi, ada peluang dakwah yang luas dan lingkungan yang terbuka. Namun sisi lainnya, ada kebutuhan untuk beradaptasi dengan budaya lokal, mmbangun komunikasi lintas agama dan ras, serta menjaga identitas keislaman dalam lingkungan yang sangat sekuler. Karena itu, tentu membutuhkan kader-kader tangguh yang tak hanya cerdas, tapi juga ikhlas dan bertanggung jawab. 

Perjuangan para kader Muhammadiyah di luar negeri mengingatkan saya pada pesan Kiai Haji Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Di manapun berada, kader Muhammadiyah harus bisa menghidupkan gerakan persyarikatan ini. Di Benua Selatan, para kader Muhammadiyah telah menjawab tantangan itu dengan nyata: membangun sekolah, menyusun kurikulum, membina keluarga, dan berdakwah dalam keberagaman.

Meskipun jauh dari pusatnya yang berada di Yogyakarta, semangat itu tetap menyala. Karena Muhammadiyah tidak sekadar institusi, denyut nadi perjuangannya selalu hidup dalam hati dan langkah setiap kadernya. Mereka menjadi teladan dalam membumikan nilai Islam berkemajuan yang digagas Kiai Dahlan, yaitu dengan kerja nyata, dan bukan sekadar wacana. (*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡