Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menggagas Pentingnya Olahraga Padel di Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Menggagas Pentingnya Olahraga Padel di Muhammadiyah
Oleh : Bening Satria Prawita Diharja M.Pd Guru PJOK SMP Muhammadiyah 1 Gresik
pwmu.co -

Sejak pertama kali dikenalkan pada tahun 1969 di Mexico, olahraga “padel” tergolong sangat cepat menyebar.

Hampir seluruh Benua Eropa mengenalnya dan kemudian berkembang pesat di Spanyol.

Olahraga ini menggabungkan unsur tenis, squash, dan bulu tangkis.

Permainan padel di lapangan tertutup dengan dinding kaca berukuran panjang 20 meter, lebar 10 meter dan dengan ketebalan kaca 12 milimeter.

Karenanya olahraga ini menjadi semakin aman, walaupun terpantul atau terkena smash keras.

Kini, olahraga padel menjadi populer berkat keunikannya.

Pemain olah raga ini terdiri dari empat orang dalam format ganda—baik ganda putra, ganda putri, maupun ganda campuran.

Selain itu, sistem penilaian poinnya sama dengan olahraga tenis.

Setiap pertandingan padel dimulai dengan servis. Umumnya, para pemain menggunakan teknik underarm atau servis bawah.

Servis ini mengharuskan bola dipukul secara diagonal ke lapangan lawan, melintasi net.

Bola padel sendiri mirip dengan bola tenis, tetapi memiliki ukuran dan tekanan yang lebih kecil. Saat bermain, bola boleh memantul sekali di lapangan dan dari dinding kaca sebelum dipukul balik.

Raket padel berbeda dengan raket pada permainan net lainnya.

Bentuknya menyerupai versi besar dari raket tenis meja, terbuat dari bahan komposit padat seperti gabungan serat karbon dan fiberglass.

Di bagian intinya terdapat lubang-lubang yang terbuat dari busa (Polietilen) atau EVA (Etilen Vinil Asetat).

Material ini membuat pukulan lebih lembut dan presisi, sementara lubang-lubang tersebut berfungsi mengurangi hambatan udara sehingga bola lebih mudah dikontrol.

Selain itu, adanya dinding kaca membuat permainan padel menjadi dinamis, cepat, dan menyenangkan.

Olahraga padel mulai populer di Indonesia dan mengalami peningkatan pesat pada akhir tahun 2024 dan awal tahun 2025.

Data dari G-Sport.id melaporkan bahwa hingga Maret 2025, Indonesia sudah memiliki 161 lapangan padel permanen.

Ada peningkatan dari angka 133 di akhir 2023. Ini menjadi penanda adanya pertumbuhan pesat di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bali, Bandung hingga Surabaya.

Hal ini tak lepas juga dari dorongan FOMO (Fear of Missing Out) tren yang diketahui telah membuat banyak orang merasa “tertinggal” atau “kurang keren” jika tidak mengikuti tren.

Sarana dakwah Muhammadiyah

Muhammadiyah dapat memanfaatkan fenomena olahraga padel yang kian populer sebagai sarana untuk meregenerasi kader di berbagai lini.

Cara ini juga dapat mendukung upaya mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya melalui dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Oleh karena itu, kiprah dakwah Muhammadiyah yang dikenal moderat dan aktif dalam kegiatan sosial, termasuk olahraga, harus terus dikembangkan dengan berbagai strategi agar bisa menjangkau masyarakat luas.

Lalu bagaimana cara dakwah Muhammadiyah untuk mencapai tujuan tersebut?

Iklan Landscape UM SURABAYA

Tentunya membutuhkan kolaborasi lintas lembaga karena fenomena ini bukan hal yang mudah namun juga bukan hal yang sulit jika terjadinya kolaborasi antar lembaga untuk menangkap opportunity tersebut.

Salah satunya melalui kolaborasi lintas lembaga meliputi lembaga dakwah khusus (LDK), Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM), Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) hingga Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK).

Sebagai guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (PJOK) di SMP Muhammadiyah 1 Gresik, saya mencermati pentingnya kolaborasi antar lintas lembaga Muhammadiyah. Hal ini berpotensi membentuk sinergitas serta ekosistem dakwah akar rumput yang progresif, karena:

1. Lembaga Dakwah Khusus (LDK) dapat berperan dalam membingkai kegiatan padel sebagai media dakwah bil hal — menghidupkan semangat keislaman melalui pembiasaan ibadah, mentoring keislaman, serta menghadirkan nilai-nilai dakwah dalam setiap turnamen atau latihan.

Padel dapat menjadi pintu masuk dakwah yang santai namun bermakna bagi anak muda yang mungkin sulit dijangkau melalui metode konvensional.

2. Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) dapat memanfaatkan kegiatan padel untuk menguatkan basis jamaah di tingkat akar rumput.

Lapangan padel di lingkungan cabang atau masjid dapat menjadi ruang pertemuan sosial dan pembinaan kader yang efektif, tempat dakwah, olahraga, dan silaturahmi berbaur dalam satu atmosfer ukhuwah.

3. Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) tentu dapat menjadi penggerak utama dalam mengelola dan mempromosikan padel sebagai bagian dari gerakan budaya Muhammadiyah.

Melalui LSBO, olahraga padel bisa dikemas secara menarik — misalnya dengan menggelar Padel Muhammadiyah League, turnamen antar amal usaha, atau festival padel dakwah yang menyatukan semangat sportivitas dan nilai-nilai Islam berkemajuan.

4. Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) dapat berperan dalam membangun ekosistem ekonomi keumatan dari kegiatan padel.

Mulai dari pengelolaan fasilitas, penyediaan perlengkapan, hingga pembukaan usaha kecil di sekitar lapangan padel, semua dapat menjadi bagian dari gerakan ekonomi Muhammadiyah yang mandiri dan berkeadilan.

Dengan demikian, dakwah melalui padel tidak hanya bernilai spiritual dan sosial, tetapi juga memiliki dampak ekonomi produktif.

Melalui padel, generasi muda Muhammadiyah dapat menemukan ruang aktualisasi diri yang positif.

Nilai-nilai seperti disiplin, kerjasama, sportivitas, dan kejujuran dapat tercermin nyata sebagai bagian dari akhlak Islam dalam praktik sehari-hari.

Jika olahraga ini terintegrasi dengan kegiatan pembinaan ideologi, pelatihan kepemimpinan, dan kegiatan sosial, padel akan menjadi medium regenerasi kader yang segar dan kontekstual.

Dakwah melalui padel bukan sekadar gagasan modern, melainkan wujud nyata dari prinsip Islam berkemajuan, yaitu Islam yang menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan ruh spiritual dan moralitasnya.

Dengan kolaborasi antar-lembaga di tubuh Persyarikatan, Muhammadiyah bisa menjadikan padel sebagai gerakan dakwah gaya hidup sehat dan berakhlak, bukan hanya sekadar olahraga baru.

Padel juga dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kader muda yang tangguh, cerdas, dan berjiwa persyarikatan.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk memiliki kemampuan fisik yang seimbang.

Oleh karena itu, olahraga padel dapat menjadi sarana dakwah yang menarik dan menyenangkan.

Dakwah, sejatinya, tidak hanya tentang penguasaan teori dan penyampaian kepada khalayak umum, tetapi juga dapat memanfaatkan media seperti olahraga.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu