Memiliki hati yang tenang adalah idaman setiap orang mukmin. Sebab, ketenangan akan melahirkan kebahagiaan, mengokohkan keyakinan, serta menghilangkan keraguan dalam mengamalkan ajaran Islam karena telah menjadi kebutuhan hidup.
Ketenangan juga akan membuahkan pikiran yang positif, menghindarkan diri dari hal-hal yang buruk, serta membuka peluang untuk berbuat kebaikan dengan tulus tanpa pamrih.
Ketenangan yang dirasakan seseorang maupun suatu kelompok sejatinya bersumber dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Fath ayat 4:
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Ayat ini sangat inspiratif karena menumbuhkan dorongan bagi seorang mukmin untuk senantiasa berupaya meraih ketenangan. Ketika Perang Badar Kubra, kaum muslimin hanya berjumlah 313 orang, sementara kaum kafir Quraisy mencapai sekitar 1.000 orang.
Secara psikologis, kondisi ini tentu menimbulkan kegelisahan. Namun karena iman yang kuat dan tekad pantang mundur demi membela agama Allah, kaum muslimin dianugerahi ketenangan serta pertolongan berupa bala tentara yang tidak terlihat.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam QS. Muhammad ayat 7:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Ayat ini menginspirasi kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan jalan taat dan patuh terhadap perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.
Mengingat Allah, Modal Ketenangan
Dalam Surah Ar-Ra‘d ayat 28, Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Mengingat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā akan menjadikan hati kita tenang, sebagaimana janji-Nya. Mengingat Allah tidak sekadar dengan lisan, sikap, atau perilaku semata, tetapi juga sampai pada kesadaran batin bahwa diri kita senantiasa berada dalam pengawasan-Nya.
Buah Dzikrullah
Selain melahirkan ketenangan, dzikrullah (mengingat Allah) juga memberikan beberapa dampak positif dalam kehidupan:
Pertama, diingat oleh Allah.
Orang yang mengingat Allah akan diingat oleh-Nya dalam bentuk kasih sayang, perlindungan, dan petunjuk. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 152:
“Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Seseorang yang dicintai dan dilindungi oleh Allah tentu akan merasakan ketenangan dalam hatinya.
Kedua, berpikir sebelum berbuat.
Orang yang senantiasa mengingat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā akan selalu mempertimbangkan setiap tindakan yang akan dilakukan: apakah mendatangkan rida Allah atau justru mengundang murka-Nya. Dengan demikian, ia akan memilih perbuatan yang diridai Allah dan menjauhi jalan yang menyimpang. Inilah pentingnya memperbanyak dzikir, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 41:
“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.”
Ketiga, meningkatkan amal saleh.
Mengingat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā akan menumbuhkan pikiran yang positif dan membuka peluang besar untuk berbuat kebaikan. Amal saleh dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, bahkan menjadi kebutuhan hidup. Dengan demikian, kualitas dan kuantitas amal saleh pun akan semakin meningkat dalam kehidupan sehari-hari. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments