Segigih apapun manusia mengejar sesuatu yang tidak ditakdirkan untuknya, ia tidak akan pernah menjadi miliknya.
Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang memang sudah ditetapkan untuk kita, sekuat apapun dunia menghalangi, ia akan tetap datang pada waktunya. Inilah hakikat takdir yang sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh, catatan agung Allah SWT yang tidak bisa diubah oleh siapa pun.
Allah SWT berfirman: “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki) dan di sisiNyalah terdapat Ummul-Kitab (Lauhul Mahfuzh).” (QS. Ar-Ra’d: 39)
Ayat ini mengajarkan bahwa segala sesuatu sudah berada dalam genggaman Allah. Tugas manusia hanyalah berusaha, berdoa, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mendapati orang yang berusaha sekuat tenaga untuk meraih sesuatu—baik itu pekerjaan, pasangan, atau rezeki—namun tetap saja tidak tercapai.
Sebaliknya, ada orang yang mungkin usahanya terlihat lebih sederhana, tetapi apa yang ia harapkan justru datang dengan mudah.
Hal ini bukan berarti usaha tidak penting. Islam justru menekankan pentingnya berikhtiar. Rasulullah saw bersabda:
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, janganlah berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, tentu hasilnya akan begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Qaddarallahu wa maa syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi).’” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan dua hal: pentingnya usaha, sekaligus kewajiban menerima dengan ikhlas hasil akhir yang telah ditetapkan Allah.
Dalam urusan rezeki: Ada orang yang bekerja keras dari pagi hingga malam, namun rezekinya terasa sempit. Sementara ada orang lain yang bekerja dengan cara sederhana, tetapi pintu rezekinya terbuka luas. Firman Allah SWT menguatkan hal ini:
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya…” (QS. At-Talaq: 3)
Dalam urusan jodoh: Kita mungkin sudah berusaha sedemikian rupa untuk mempertahankan seseorang, tetapi jika memang ia bukan takdir kita, sekuat apa pun ikhtiar akan berakhir pada perpisahan. Namun jika memang sudah tertulis, jodoh itu akan datang bahkan melalui jalan yang tak pernah kita duga.
Dalam perjalanan hidup: Ada orang yang bercita-cita menjadi dokter, tetapi Allah menakdirkannya menjadi guru yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Ada pula yang gagal dalam satu bidang, tetapi justru sukses di bidang lain yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Lapang Dada Menerima Takdir
Menerima takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar maksimal dan tawakal yang sempurna. Ketika hasil tidak sesuai harapan, itulah momen untuk melatih hati agar ridha terhadap ketentuan Allah.
Kekalahan, kegagalan, atau kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, itu adalah pintu untuk membuka jalan baru yang lebih baik. Dalam bahasa para ulama:
“Apa yang luput darimu tidak pernah ditakdirkan untukmu, dan apa yang menjadi milikmu tak akan pernah meleset darimu.”
Maka, jangan pernah berputus asa dalam berusaha, namun jangan pula berlebihan dalam menggantungkan hati pada hasil.
Semua sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Kita hanya perlu melangkah dengan ikhtiar, doa, dan tawakal, sambil yakin bahwa apa yang datang kepada kita adalah yang terbaik menurut Allah SWT. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments