Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, masih ada upaya kreatif untuk menjaga ingatan kolektif bangsa. SMKN 12 Surabaya melahirkan karya unik berupa “Radio Bung Tomo”.
Benda dekoratif yang cantik, fungsional, dan bercorak vintage ini bukan sekadar pemutar siaran, melainkan simbol perlawanan dan semangat juang Arek-Arek Suroboyo.
Radio tersebut didesain dengan ukuran yang proporsional, cocok menghiasi ruang tamu atau kantor, namun memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Ketika dinyalakan, radio ini otomatis memutar jingle Tiger Shark yang dahulu mengawali pidato Bung Tomo, disusul dengan kutipan-kutipan pidatonya.
Sebuah detail kecil, tetapi sarat makna: menghidupkan kembali suara yang pernah mengguncang dunia pada 1945.
Melalui radio ini, ingatan masyarakat diarahkan pada peran Bung Tomo dalam mempertahankan kemerdekaan.
Lebih jauh, karya tersebut menjadi simbol bahwa semangat juang tidak pernah usang, melainkan bisa diturunkan ke generasi berikut dalam bentuk inovasi yang membumi.
***
Tak mungkin membicarakan Bung Tomo tanpa menyebut Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya.
Radio inilah yang dahulu membantu suara Bung Tomo mengudara. “Radio Pemberontakan Bung Tomo” pada masa revolusi 1945 tak akan pernah sampai ke telinga rakyat tanpa sokongan teknis dan keberanian para insan RRI.
Sejarah mencatat, RRI Surabaya bukan hanya sarana penyiaran, melainkan juga alat perjuangan.
Bahkan, di masa kemerdekaan, RRI tetap berperan aktif dalam mendorong pengakuan resmi terhadap jasa Bung Tomo hingga beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Hubungan erat ini ibarat dua sisi mata uang: Bung Tomo dengan pidato pembangkit semangat, dan RRI dengan gelombang radio yang menggetarkan hati bangsa.
Penghargaan dari keluarga Bung Tomo kepada RRI Surabaya baru-baru ini menjadi simbol ikatan sejarah yang tak terputus.
Seperti disampaikan wartawan senior RRI, Afnani Hawari, “RRI Surabaya dan Bung Tomo memiliki ikatan kuat baik dalam juang maupun dalam kenang.”
***
Kisah Bung Tomo membawa kita pada perenungan: apa bedanya perjuangan dan kepahlawanan?
Dalam diskusi publik, tokoh agama dan masyarakat kerap menggarisbawahi perbedaan ini.
Achmad Yani, pengurus Masjid Kemayoran Surabaya, menegaskan bahwa perjuangan bersifat aktif, sebuah kewajiban untuk bertahan hidup dan menjaga kemerdekaan.
Sedangkan kepahlawanan lebih bersifat pasif, lahir sebagai konsekuensi dari perjuangan yang dilakukan.
Contoh paralel bisa dilihat pada kisah Kyai Seda Masjid yang gugur mempertahankan rumah ibadahnya di Surabaya.
Dia dikenang sebagai pahlawan karena perjuangan yang ia lakukan hingga akhir hayat.
Bung Tomo pun demikian, berjuang melalui kata-kata dan suara hingga menjadi simbol perlawanan rakyat.
Refleksi ini penting agar generasi sekarang tidak keliru memahami makna perjuangan. Pahlawan adalah gelar, tetapi berjuang adalah kewajiban yang melekat pada setiap insan bangsa.
Namun, konteks perjuangan tentu berubah seiring zaman. Jika dulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata dan menggelorakan semangat perlawanan, kini ia hadir dalam bentuk membangun pendidikan, menjaga budaya, dan memperkuat jati diri bangsa.
Seperti disampaikan A. Hermas Thony, inisiator Raperda Pemajuan Kebudayaan, perjuangan di era otonomi daerah perlu “juklak” atau petunjuk teknis agar jelas arah dan tujuannya.
Peraturan Daerah (Perda) menjadi instrumen untuk memastikan semangat kejuangan diterjemahkan dalam kerja nyata pembangunan.
Karenanya, diksi “kejuangan” bukan hanya slogan, melainkan kerangka berpikir dan bekerja. Di sinilah nilai-nilai Bung Tomo tetap relevan: menginspirasi keberanian, menyatukan bangsa, dan mengingatkan bahwa kemerdekaan selalu membutuhkan perjuangan berkelanjutan.
***
RRI Surabaya dan Bung Tomo adalah bukti bahwa suara mampu menjadi senjata yang lebih tajam daripada peluru.
Dari balik mikrofon sederhana, Bung Tomo menggugah keberanian rakyat untuk melawan penjajah. Dari gelombang RRI, semangat itu menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Kini, semangat itu hidup kembali dalam karya anak bangsa seperti “Radio Bung Tomo”, dalam penghargaan keluarga Bung Tomo kepada RRI Surabaya, serta dalam refleksi masyarakat tentang makna perjuangan.
Tugas generasi sekarang adalah menjaga api itu tetap menyala, dengan cara berjuang sesuai zamannya: melalui pendidikan, inovasi, kebudayaan, dan pembangunan bangsa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments