Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menghidupkan Ruh “Sang Pencerah”: Bedah Pemikiran KH Ahmad Dahlan di SDMM

Iklan Landscape Smamda
Menghidupkan Ruh “Sang Pencerah”: Bedah Pemikiran KH Ahmad Dahlan di SDMM
Prof Dr Syamsul Shodiq MPd bersama peserta kajian Al Islam dan kemuhammadiyahan berfoto bersama di akhir sesi kajian, Kamis (26/02/2026). (Achmad Nazarudin/PWMU.CO).
pwmu.co -

SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) yang berlokasi di Jalan Amuntai No. 1 GKB menggelar kajian mendalam mengenai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) pada Kamis (26/02/2026).

Acara ini menghadirkan narasumber pakar, Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Dr Syamsul Shodiq MPd.

Lebih lanjut, kajian ini secara khusus membedah “Buku Pelajaran KH Ahmad Dahlan” karya Raden Haji Hadjid untuk menyegarkan kembali ideologi pendidik di lingkungan sekolah.

Esensi Keislaman 

Mengawali paparannya, Prof Syamsul menekankan urgensi bershalawat sebagai bentuk ketaatan karena Allah dan malaikat-Nya pun bershalawat kepada Nabi.

Memasuki inti bedah buku, beliau menjelaskan bahwa KH Ahmad Dahlan adalah sosok yang lebih banyak menulis dalam “amal” daripada kitab.

Hal ini terbukti oleh catatan Raden Haji Hadjid yang selama 8 tahun mendampingi beliau, lebih banyak mencatat implementasi nyata daripada sekadar teori.

“Keislaman bukan hanya Allah ada di dalam jiwamu, tetapi kehidupan Islam menjadi nyata melalui perilakumu” kutip Prof Syamsul menirukan pesan Sang Pencerah.

Dalam kajian tersebut, ditekankan bahwa KH Ahmad Dahlan adalah garda terdepan dalam pengimplementasian ayat Al-Qur’an.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Keseriusan beliau dalam berdakwah itulah yang membawa Muhammadiyah besar hingga saat ini.

Beliau mengajarkan bahwa hidup hanya sekali untuk bertaruh antara bahagia atau sengsara, di mana kebahagiaan hanya bisa diraih dengan keseriusan beragama, bukan dengan “menggilai” dunia dan lalai pada akhirat.

7 Filsafat Hidup KH Ahmad Dahlan

Karena keterbatasan waktu, kajian sesi ini berfokus pada 7 Filsafat Hidup yang terkandung dalam buku tersebut. Antara lain:

  1. Ilmu, Amal, dan Ikhlas: Manusia itu perasaannya mati kecuali yang berilmu. Orang berilmu bingung kecuali yang beramal. Orang beramal cemas kecuali yang ikhlas.
  2. Bahaya Keangkuhan: Kebanyakan manusia angkuh dan takabur karena cenderung mengambil kesimpulan sendiri tanpa penelitian mendalam.
  3. Kekuatan Kebiasaan: Manusia berbuat karena senang, lalu menjadi terbiasa, dan akhirnya menjadi adat/keyakinan yang sulit diubah. Maka, carilah fatwa dan bacaan yang tidak hanya baik, tapi Benar.
  4. Akal sebagai Pemersatu: Untuk mencapai persatuan, manusia harus mau menggunakan akal sehatnya.
  5. Keberanian Menegakkan Kebenaran: Banyak yang takut menegakkan kebenaran karena khawatir dijauhi lingkungan. Hal ini berakar pada masalah kualitas akhlak dan ilmunya.
  6. Organisasi Kebenaran: Kebenaran harus diorganisasikan dengan baik, karena seringkali pemimpin belum berani mengorbankan harta benda demi tegaknya umat.
  7. Ilmu adalah Pengetahuan dan Praktik: Belajar ilmu itu bertahap. Ilmu sejati terdiri dari dua jenis: pengetahuan (teori) dan praktik nyata.

Sebagai penutup, Prof. Syamsul memberikan pesan kuat bagi para pendidik. “Masalah yang berbeda harus ditangani dengan cara yang berbeda. Jika ditangani dengan cara yang sama, maka hasilnya akan tetap sama” pungkasnya.

Harapannya, kajian ini mampu memperkuat ideologi para guru SDMM dalam mendidik generasi masa depan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu