Coba kita renungkan,
setiap hari kita bernapas, tanpa pernah kita minta.
Mata kita masih bisa melihat cahaya,
telinga kita masih mendengar suara,
lidah kita masih bisa mengecap rasa,
kaki kita masih kuat melangkah,
dan hati kita masih bergetar saat menyebut nama-Nya.
Itu semua hadiah, meski sering kita anggap biasa.
Pernahkah kita berhenti sejenak untuk benar-benar merasakan betapa besar kasih sayang Allah?
Kita sering sibuk menatap ke atas, iri pada yang lebih,
hingga lupa menunduk sejenak untuk melihat betapa banyak yang sudah kita miliki.
Betapa sering kita mengeluh tentang apa yang hilang,
namun jarang menghitung apa yang masih tersisa.
Berapa kali Allah menyelamatkan kita dari jalan yang salah?
Berapa kali Ia menutup aib kita di hadapan manusia yang gemar menghakimi?
Berapa kali Ia biarkan kita terluka, hanya agar kita sadar,
bahwa tempat terbaik untuk bersandar adalah sujud?
Nikmat-Nya tak selalu berupa materi,
kadang Ia hadirkan dalam bentuk perlindungan,
kesempatan kedua, atau rasa tenang di hati.
Tak terhitung, bukan?
Andai setiap helai rambut kita menjadi pena,
dan samudera menjadi tinta,
niscaya tak akan cukup untuk menuliskan seluruh nikmat-Nya.
Maka jangan hanya melihat pada hilang, atau luka, lihatlah pada apa yang tersisa.
Jangan hanya menghitung kecewa, hitunglah nikmat yang tak pernah ada habisnya.
Hidup ini bukan sekadar tentang apa yang kita genggam,
melainkan tentang kesadaran bahwa semua adalah karunia-Nya.
Setiap pagi yang kita buka dengan napas baru,
adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.
Setiap malam yang kita tutup dengan istirahat,
adalah bukti kasih sayang Allah yang memberi kita jeda.
Apakah kita sudah cukup bersyukur?
Ingatlah, Allah tak pernah sekalipun mengingkari janji-Nya.
Siapa yang bersyukur, akan ditambah nikmatnya.
Siapa yang bersabar, akan ditinggikan derajatnya.
Siapa yang kembali pada-Nya, akan ditenangkan hatinya.
Bersabarlah.
Sebab di balik segala luka, Allah sedang menyusun sesuatu
yang lebih indah dari yang pernah kita bayangkan.
Kadang kita merasa doa belum terkabul,
padahal Allah sedang menyiapkan jawaban terbaik
di waktu yang paling tepat.
Syukurilah setiap detik kehidupan,
sebab bisa jadi apa yang kita anggap remeh hari ini,
adalah kerinduan kita di esok hari.
Dan jangan pernah lupa,
bahwa nikmat terbesar bukanlah harta, jabatan, atau pujian,
melainkan iman yang menuntun kita pulang kepada-Nya. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments