Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengimplementasikan Dakwah Kebudayaan Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Mengimplementasikan Dakwah Kebudayaan Muhammadiyah
pwmu.co -
Gambar Tim Karawitan Sekolah Dasar Swasta Rujukan (SDSR) SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Surakarta (Sumber: Suara Muhammadiyah/PWMU.CO)

Oleh: Purnawan Basundoro Dewan Pakar Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah

PWMU.CO – Entah bagaimana awal mulanya Muhammadiyah dicurigai oleh sebagian kalangan sebagai organisasi yang agak alergi dengan aspek kebudayaan, utamanya budaya tradisional. Contoh kecil mengenai hal ini adalah tampilan sebuah video di media sosial mengenai beberapa siswa SMK Muhammadiyah di Lamongan yang sedang memainkan gamelan. Unggahan video tersebut mendapatkan beragam komentar. Ada komentar yang menyatakan dukungan, tetapi tidak sedikit komentar yang menyatakan seolah-olah Muhammadiyah mengharamkan aktivitas kesenian tradisional. Komentar semacam ini menggambarkan bahwa sebagian masyarakat mencurigai bahwa Muhammadiyah kurang ramah terhadap budaya tradisional.  

Diskusi mengenai dakwah kebudayaan telah lama dilakukan di kalangan Muhammadiyah, hanya saja implementasinya sampai saat ini belum dilakukan secara maksimal. Masih ada kalangan internal Muhammadiyah yang mengambil jarak dengan aspek kebudayaan, terutama kebudayaan tradisional. Mengenai hal tersebut, Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam sebuah kesempatan mengakui bahwa banyak kalangan mencurigai Muhammadiyah antiseni dan antibudaya. Kecurigaan itu mungkin dihubungkan dengan sikap Muhammadiyah yang sejak berdiri telah berprinsip untuk bersikap kritis terhadap bercampurnya budaya terhadap ajaran agama, terutama jika budaya tersebut menyebabkan amalan keagamaan seseorang menjadi tidak murni lagi.

Salah satu yang krusial dari hal tersebut adalah munculnya kepercayaan terhadap takhayul, yaitu kepercayaan kepada sesuatu yang hanya ada di angan-angan saja yang biasanya dikait-kaitkan dengan makhluk halus dan sejenis. Muhammadiyah sebagai organisasi yang berlandaskan kemajuan dan berorientasi kepada modernisasi tentu saja tidak mentoleransi hal tersebut. Banyak seni tradisi di Indonesia, utamanya Jawa, masih dihubung-hubungkan dengan takhayul yang berlawanan dengan semangat Muhammadiyah secara umum. Secara umum kebudayaan tradisional sering dimasukkan ke dalam dikotomi yang pernah dibuat oleh Clifford Geertz dalam bukunya yang berjudul Religion of Java, yaitu sebagai bagian dari kelompok abangan. Abangan sering dianggap sebagai oposisi biner dari santri.

Pada periode sejarah tertentu, seni tradisional (Jawa) oleh salah satu partai politik digunakan untuk menghantam golongan Islam. Muhammadiyah menjadi salah satu korban dari situasi yang tidak menguntungkan tersebut. Suasana dramatis dan menegangkan yang terjadi pada tahun 1960-an telah menjadi trauma tersendiri bagi Muhammadiyah. Seni tradisi dianggap sebagai media yang mudah disusupi untuk kepentingan politik dan ideologis yang bisa merugikan Muhammadiyah.

Hal lain yang juga turut memengaruhi sikap Muhammadiyah terhadap seni tradisi adalah karena aspek ini ternyata sangat dekat dengan organisasi keagamaan lain yang dalam hal tertentu terasa bersaing dengan Muhammadiyah. Tidak bisa dipungkiri bahwa Muhammadiyah yang telah mengklaim dirinya sebagai organisasi modern tidak ingin terlihat sebaliknya karena memanfaatkan hal-hal yang bersifat tradisional. Sebagian warga Muhammadiyah mungkin merasa bahwa biarlah hal-hal yang berbau tradisi menjadi identitas organisasi lain. Muhammadiyah fokus saja di ranah modern.

Perasaan semacam itu tidak bisa disalahkan karena sudah sejak kelahirannya, organisasi ini mengusung tema berkemajuan yang menjadi salah satu simbol dari modernisasi. Implementasi berkemajuan itu salah satunya adalah penggunaan seni atau budaya modern sebagai media dakwah, bukan budaya tradisional. Hal tersebut menjadi bukti bahwa sejatinya Muhammadiyah tidak membenci kebudayaan, namun secara umum masih terbatas pada budaya modern. Cerita tentang kepandaian Kyai Ahmad Dahlan bermain biola menjadi salah satu argumen bahwa Muhammadiyah tidak membenci seni dan kebudayaan pada umumnya.

Jika kita membuka-buka dokumen lama Muhammadiyah, kita akan banyak disuguhi berbagai bentuk kesenian modern yang dimainkan oleh aktivis organisasi ini. Drum band merupakan salah satu kesenian yang sangat diakrabi oleh Muhammadiyah dari berbagai level. Drum band bahkan menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler wajib yang dilaksanakan di sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Upaya Muhammadiyah memanfaatkan elemen kebudayaan sebagai media dakwah, salah satunya dengan dibentuknya Lembaga Seni Budaya dan Olah Raga (LSBO). Namun sampai saat ini Muhammadiyah terkesan masih sangat hati-hati untuk terlibat dalam berbagai aktivitas kebudayaan tradisional. Sifat kehati-hatian itu tentu saja dapat dimaklumi mengingat anggota atau kader Muhammadiyah sangat beragam dengan pemikiran dan keyakinan yang berbeda-beda pula. Upaya Muhammadiyah menjadikan kebudayaan sebagai ladang dakwah perlu diapresiasi.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu