Format Dakwah Kebudayaan
Manusia secara keseluruhan adalah makhluk berbudaya dan memanfaatkan berbagai produk kebudayaan untuk kepentingannya. Dakwah Muhammadiyah tentu saja bisa memanfaatkan berbagai aspek kebudayaan sebagai alatnya. Dakwah secara umum bermakna mengajak atau menyerukan. Dalam konteks Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan, dakwah dimaknai sebagai usaha menyebarluaskan dan mewujudkan ajaran Islam sehingga melahirkan perubahan ke arah yang lebih baik, unggul, dan utama dalam kehidupan pemeluknya.
Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan tentu saja memiliki konsepsi ideal mengenai masyarakat Islam yang dikehendaki. Dalam Kepribadian Muhammadiyah, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat Islam yang dikehendaki adalah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yang menjalankan syariat Islam sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan As-Sunnah yang shahihah/maqbulah.
Jalan menuju masyarakat Islam yang sebenarnya tentu saja sangat beragam, dengan kata lain, media dakwah untuk hal tersebut juga beragam. Muhammadiyah memiliki saluran dakwah yang cukup banyak yang disebut sebagai usaha Muhammadiyah. Mengacu kepada Anggaran Dasar Muhammadiyah, disebutkan bahwa Usaha Muhammadiyah diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatan. Metode mengimplementasikan Usaha Muhammadiyah sangat beragam. Dalam Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah disebutkan, paling tidak ada 16 bentuk amal usaha, program, dan kegiatan, yang jika satu per satu dirinci lagi akan menghasilkan puluhan bentuk teknis.
Dari keseluruhan bentuk amal usaha, program, dan kegiatan, terdapat penegasan perlunya memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan serta seni. Mengacu kepada hal tersebut, sejatinya Muhammadiyah tidak perlu gamang untuk memanfaatkan kebudayaan sebagai salah satu media dakwah. Saat ini yang harus segera dilakukan adalah mencari format yang tepat agar dakwah melalui jalur kebudayaan bisa segera diimplementasikan. Mengingat bahwa budaya memiliki akar kelokalan yang kuat, maka perlu dicarikan sebuah formula yang tepat yang tidak bertentangan dengan keyakinan, visi, dan misi Muhammadiyah.
Pertama, memanfaatkan unsur kebudayaan lokal yang bersih dari unsur-unsur takhayul, bid’ah, dan khurafat untuk secara langsung digunakan sebagai alat (tool) untuk berdakwah. Muhammadiyah harus membuka diri bahwa yang disebut sebagai kebudayaan bukan sekedar slametan atau seni pertunjukan semisal wayang kulit. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, mengelempokkan objek pemajuan kebudayaan menjadi sepuluh, yaitu: tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, permainan rakyat, olah raga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan ritus.
Objek pemajuan kebudayaan di masing-masing daerah memiliki varian yang khas dan berbeda-beda. Jumlahnya tentu saja ribuan sehingga. Muhammadiyah tinggal memilih, mana kira-kira objek pemajuan kebudayaan yang cocok dijadikan alat berdakwah. Seni merupakan salah satu objek kebudayaan yang sangat fleksibel digunakan sebagai media dakwah. Seni wayang kulit sejak lama merupakan alat dakwah yang efektif karena unik. Dalang sebagai narator yang bersifat monolog bisa menyampaikan pesan-pesan keagamaan serta keorganisasian secara langsung.
Saat ini banyak anak muda yang melakukan inovasi seni yang bisa disesuaikan dengan pangsa pasar. Hal yang sama juga bisa dilakukan oleh Muhammadiyah, dengan cara merekrut para seniman untuk kepentingan dakwah Muhammadiyah. Ludruk yang merupakan salah satu seni dengan penikmat yang masih banyak di kawasan Surabaya dan sekitarnya, bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan yang sama. Jika sampai saat ini ludruk belum populer sebagai alat dakwah, menjadi tugas Muhammadiyah untuk memanfaatkannya.
Masyarakat secara umum sangat suka dengan guyonan atau humor. Dai-dai Muhammadiyah dikenal sebagai juru dakwah yang kaku dan tidak suka humor. Ceramahnya dianggap membosankan. Dakwah dengan seni ludruk yang lucu dan segar diharapkan bisa menjadikan dai Muhammadiyah disenangi oleh masyarakat sehingga efektif untuk menyampaikan pesan keagamaan dan keorganisasian. Dakwah melalui seni budaya bisa dilakukan dengan cara santai, humanis, tetapi dengan tetap menyampaikan tema-tema yang serius.
Muhammadiyah dulu diidentikkan sebagai organisasi yang perkembangannya terbatas di perkotaan, namun pada saat ini basis organisasi ini sudah tersebar di berbagai tempat tanpa membedakan desa dan kota. Berbagai aspek kebudayaan yang berkategori tradisional bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah di pedesaan karena pada umumnya masyarakat setempat masih menyukainya. Sementara itu unsur kebudayaan modern bisa lebih dimanfaatkan di perkotaan, walaupun hal tersebut tidak bisa diberlakukan secara kaku.
Kedua, kita bisa mengambil inspirasi dari budayawan terkemuka Muhammadiyah, Kuntowijoyo. Dalam bukunya Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, Kuntowijoyo menyatakan bahwa dikotomi budaya populer Islam santri dan abangan sudah tidak realistis lagi. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa proses perubahan sosial selama beberapa puluh tahun terakhir telah menyebabkan jarak budaya antara santri dan abangan makin lama makin lenyap. Saat ini tinggal bagaimana Muhammadiyah memosisikan diri dalam melihat aspek kebudayaan tradisional, apakah masih memosisikannya sebagai sesuatu yang ada di luar, ataukah justru akan memanfaatkannya sebagai alat untuk berdakwah dengan berbagai modifikasi agar sesuai dengan visi dan misi Muhammadiyah.
Selain sebagai alat, kebudayaan juga bisa diposisikan sebagai ladang dakwah. Para penggiat kebudayaan tradisional yang belum tercerahkan dan belum membawa misi kemajuan model Muhammadiyah bisa dijadikan sasaran dakwah. Muhammadiyah yang memiliki berbagai perangkat modern untuk mengubah format kebudayaan tradisional menjadi lebih ramah terhadap Islam bisa menawarkan kerjasama dengan para penggiat kebudayaan tersebut. LSBO yang telah diberi amanah untuk pekerjaan tersebut hendaknya mulai bekerja dengan lebih giat agar dakwah Muhammadiyah melalui jalur kebudayaan bisa membawa kemaslahatan yang lebih luas dan humanis.
Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments