
PWMU.CO – Ada yang menarik dan menginspirasi dari salah satu potret kebersamaan peserta Kemah Besar Hizbul Wathan Jawa Timur yang digelar di Pusdiklat HW Purwosari, Pasuruan (26/6/2025). Dalam suasana santai namun penuh semangat, tampak sebuah keluarga lengkap mengenakan seragam Hizbul Wathan dengan senyum ceria dan gaya khas anak muda.
Namun bukan sekadar gaya, di balik foto ini tersimpan kisah luar biasa tentang pendidikan karakter sejak dini. Keluarga ini bukan hanya aktif di Kepanduan Hizbul Wathan, tapi juga membina anak-anak mereka dalam Tapak Suci Putera Muhammadiyah serta aktif berdakwah melalui komunitas BikersMu (Bikers Muhammadiyah).
Tak heran, anak-anak mereka bahkan sudah dibiasakan mengikuti kegiatan organisasi sejak masih dalam kandungan.
“Waktu anak-anak masih di perut, dari anak pertama hingga ke empat sudah kami ajak ikut kegiatan kegiatan HW, pertandingan Tapak Suci, sampai perjalanan dakwah bareng BikersMu,” ujar orang tuanya.
Semangat untuk membentuk generasi tangguh dan berakhlak memang menjadi visi keluarga ini. Bagi mereka, menanamkan nilai-nilai kepemimpinan, kedisiplinan, dan keberanian tidak bisa menunggu hingga anak besar. Justru sejak dini, anak harus dibiasakan mengenal lingkungan, tantangan, dan kehidupan sosial.
Tak hanya menjadi peserta pasif, putra-putri mereka terlihat aktif dalam kegiatan. Mulai dari membantu menata perlengkapan, mengikuti simulasi kepanduan, hingga tampil di kegiatan seni dan bela diri. Bahkan si kecil yang masih balita pun tampak antusias dan akrab dengan suasana kemah.
Keterlibatan mereka dalam tiga pilar gerakan kepanduan, bela diri, dan dakwah jalanan menjadi bukti bahwa pendidikan keluarga dapat menjadi benteng utama dalam membangun peradaban.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas di sekolah, tapi juga kuat secara mental, fisik, dan spiritual. Ini bekal hidup yang sesungguhnya,” tambah sang ayah, yang juga aktif di komunitas BikersMu dengan moto “Melaju Bersama Dakwah.”
Kisah keluarga ini menjadi inspirasi di tengah kemah besar. Banyak peserta dan pembina yang terkesan melihat harmoni keluarga dalam satu visi gerakan. Mereka bukan sekadar datang untuk mengikuti kegiatan, tetapi benar-benar menjadikan setiap momentum sebagai sarana pendidikan dan penguatan nilai-nilai Islam dan kebangsaan.
Dari foto keluarga yang menginspirasi ini, kita belajar bahwa membentuk kader bukan soal menunggu usia, tapi soal komitmen, keteladanan, dan cinta yang terus ditumbuhkan sejak dini. (*)
Penulis Alexs Mac Editor M Tanwirul Huda






0 Tanggapan
Empty Comments