Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menguak Rahasia Ketenangan Jiwa: Kisah Praktik Memandikan Jenazah Murid SMP Muhammadiyah 1 Blitar

Iklan Landscape Smamda
Menguak Rahasia Ketenangan Jiwa: Kisah Praktik Memandikan Jenazah Murid SMP Muhammadiyah 1 Blitar
pwmu.co -
Bapak Widjianto SPd (bertopi) selaku guru mata pelajaran Ibadah Praktis sedang memandu murid kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Blitar dalam kegiatan praktik memandikan jenazah di halaman SMP Muhammadiyah 1 Blitar (Nur Aji/PWMU.CO).


PWMU.CO – (4/6/2025) Halaman SMP Muhammadiyah 1 Blitar hari ini tidak seperti biasanya. Di bawah terik matahari pagi yang cerah, belasan murid tampak serius mengikuti sebuah kegiatan yang mungkin terdengar tidak lazim bagi sebagian orang: praktik memandikan jenazah.

Bukan karena ada peristiwa duka, melainkan sebagai bagian integral dari mata pelajaran Ibadah Praktis (IP) yang bertujuan membekali mereka dengan keterampilan fundamental dalam tata cara penyelenggaraan jenazah sesuai syariat Islam.

Kegiatan ini merupakan salah satu implementasi nyata dari Kurikulum Merdeka yang menitikberatkan pada pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman langsung.

Didampingi oleh guru mata pelajaran IP, Bapak Widjianto SPd para murid diajak untuk memahami secara mendalam seluk-beluk memandikan jenazah, mulai dari niat, alat-alat yang dibutuhkan, hingga langkah-langkah praktis yang harus dilakukan.

Kepala SMP Muhammadiyah 1 Blitar, Ibu Siti Muhibbah SAg yang turut hadir mengawasi jalannya kegiatan, menyatakan kebanggaannya terhadap antusiasme siswa.

“Kami melihat praktik memandikan jenazah ini sebagai salah satu bentuk pembelajaran yang sangat relevan dan kontekstual. Di era digital ini, banyak hal yang bisa diakses melalui internet. Namun, untuk urusan ibadah dan sosial kemasyarakatan seperti ini, pengalaman langsung sangatlah penting,” ujar Ibu Siti Muhibbah SAg.

Beliau menambahkan bahwa kurikulum di SMP Muhammadiyah 1 Blitar tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai kepedulian sosial, tanggung jawab, serta pemahaman yang benar tentang syariat Islam sejak dini. Ini adalah bekal penting bagi mereka kelak ketika terjun di masyarakat,” tegasnya.

Menurut Ibu Siti Muhibbah SAg praktik semacam ini juga melatih mental siswa untuk berani menghadapi realitas kehidupan, termasuk kematian, dengan persiapan dan pemahaman yang memadai.

Bapak Widjianto SPd guru mata pelajaran Ibadah Praktis (IP) yang mendampingi langsung para murid, menjelaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah agar siswa memiliki pemahaman yang komprehensif tentang tata cara memandikan jenazah, yang merupakan salah satu fardhu kifayah dalam Islam.

“Memandikan jenazah itu bukan sekadar mengguyur air. Ada niat, ada urutan, ada adab yang harus dijaga. Semua ini kami ajarkan secara detail,” jelas Bapak Widjianto SPd.

Ia juga menekankan bahwa praktik ini tidak hanya tentang aspek teknis, tetapi juga spiritual dan sosial.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Saat memandikan jenazah, kita sedang berhadapan dengan amanah terakhir dari almarhum. Ada penghormatan, ada doa, ada keikhlasan. Ini semua adalah bagian dari pendidikan karakter yang ingin kami tanamkan,” tuturnya.

Bapak Widjianto berharap, setelah praktik ini, siswa tidak lagi merasa asing atau takut ketika dihadapkan pada situasi nyata di mana mereka diminta untuk membantu penyelenggaraan jenazah.

“Kami menggunakan manekin sebagai media praktik, tentu saja, untuk menjaga etika dan juga sebagai simulasi yang aman. Namun, setiap langkah yang kami ajarkan adalah persis sama dengan tata cara memandikan jenazah yang sebenarnya,” imbuh Bapak Widjianto.

Ia juga mengapresiasi semangat belajar para siswa yang begitu tinggi, aktif bertanya, dan mencoba mempraktikkan setiap tahapan dengan cermat.

Para siswa tampak antusias mengikuti setiap instruksi yang diberikan oleh Bapak Widjianto. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok mendapatkan giliran untuk mempraktikkan secara langsung di “jenazah” manekin. Suasana serius namun penuh rasa ingin tahu terpancar dari wajah-wajah muda tersebut.

“Awalnya agak takut, tapi setelah dijelaskan dan praktik langsung, jadi lebih paham,” ungkap Raffa Febrian Al Qorny, salah seorang murid kelas VII. “Ternyata tidak seseram yang dibayangkan, malah ada banyak hal yang harus diperhatikan agar jenazah bersih dan terhormat,” tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Adelaine Kusuma Citra Prawesti, murid lainnya.

“Penting banget sih pelajaran ini. Kalau di keluarga atau tetangga ada yang meninggal, kita jadi tahu harus berbuat apa. Ini bekal yang sangat berguna,” kata Citra, sapaan akrab Adelaine Kusuma Citra Prawesti, dengan wajah serius. (*)

Penulis Nur Aji Editor M Tanwirul Huda

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu