Muhammad Nasyat Alfaruqi, santri asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, adalah sosok muda yang memancarkan semangat belajar dan berprestasi.
Lahir di Bojonegoro pada 14 Januari 2009, putra pasangan Jamali dan Muflihah—keduanya aktivis Muhammadiyah di PCM dan PCA Sugihwaras—ini kini menempuh pendidikan di Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darul Islam Brondong, Lamongan.
Sejak kecil, Nasyat dikenal tekun dan memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap ilmu agama. Hobinya bermain badminton seolah menjadi penyeimbang dari kesehariannya yang penuh dengan kegiatan belajar dan berorganisasi.
Di pondok, ia dikenal sebagai santri yang giat, semangat, dan selalu menonjol dalam bidang akademik.
Prestasi demi prestasi berhasil ia raih. Di antaranya, Juara 1 Musabaqoh Fahmil Qur’an tingkat Kabupaten Lamongan tahun 2023, Juara 1 Lomba Qiroatul Kutub FASHMULA 2, serta Juara 1 Lomba Qiroatul Kutub FASHMU se-Jawa Timur. Tak heran, Nasyat hampir selalu menduduki peringkat pertama di kelasnya.
Keahliannya dalam penguasaan bahasa Arab dan Inggris membuatnya semakin menonjol di antara rekan-rekannya. Ia telah mempelajari berbagai kitab klasik, seperti Tafsir Ibnu Katsir, Bulughul Maram, Ulum al-Qur’an karya Manan Qothan, Musthalah Hadits, Ushul Fiqih, dan kitab-kitab dasar keislaman lainnya.
Motivasi kuatnya untuk mendalami kitab tak lain agar bisa memahami al-Qur’an dan Hadis secara mendalam. “Ia rajin dan giat belajar, selalu optimis dalam berbuat sesuatu, dan aktif di berbagai kegiatan pondok,” ujar sang ayah dengan bangga.
Cita-cita Nasyat menjadi seorang guru sekaligus pengusaha menggambarkan keseimbangan antara pengabdian dan kemandirian. Di usia muda, ia telah menunjukkan bahwa ilmu dan kerja keras adalah kunci utama menuju keberhasilan dunia dan akhirat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments