Suasana khidmat menyelimuti lantai dua Gedung Dakwah Perguruan Muhammadiyah Kota Blitar di Jalan Cokroaminoto Nomor 3, Selasa (31/03/2026).
Sejak pukul 07.30 WIB, ratusan guru dan karyawan dari berbagai jenjang pendidikan di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah berkumpul dalam satu bingkai silaturahmi.
Kegiatan Halalbihalal ini bukan sekadar seremoni pasca-Lebaran, melainkan momentum penguatan komitmen ideologis di tengah tantangan dunia pendidikan yang kian dinamis.
Perhelatan akbar ini mempertemukan seluruh elemen pendidik, mulai dari tingkat Kelompok Bermain (KB/TK), SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA Muhammadiyah se-Kota Blitar.
Termasuk di dalamnya, kehadiran penuh jajaran guru dari SMP Muhammadiyah 1 Blitar yang turut melebur dalam kehangatan ukhuwah bersama rekan sejawat se-kota.
Sinergi Antarlembaga
Acara terbuka dengan kumandang lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang bergema kuat, disusul dengan “Mars Muhammadiyah” (Sang Surya).
Perpaduan dua lagu ini menegaskan posisi pendidikan Muhammadiyah yang senantiasa berdiri di atas pilar keislaman dan kebangsaan.
Setelah pembukaan dan pembacaan doa yang menyentuh relung hati, suasana menjadi teduh saat ayat-ayat suci Al-Qur’an terlantunkan secara tilawah, memberikan fondasi spiritual sebelum memasuki inti acara.
Ketua Majelis Dikdasmen PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar Drs.Sugeng Harjanto MPd menekankan pentingnya sinergi antarlembaga.
Dalam sambutannya, ia menyoroti bahwa di era kompetisi global, sekolah Muhammadiyah tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
”Kita adalah satu tubuh. Keberhasilan satu sekolah adalah keberhasilan persyarikatan, dan tantangan yang dihadapi satu unit merupakan tanggung jawab kita bersama untuk menyelesaikannya” ujarnya.
Momentum utama kegiatan ini terletak pada sesi pengarahan dari Wakil Ketua PDM Kota Blitar H Rusdi Riyanto SAg.
Pilihan Ideologis
Dalam sambutannya, ia menggarisbawahi bahwa guru di lingkungan Muhammadiyah bukan sekadar pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan mujahid pendidikan.
”Menjadi guru di Muhammadiyah adalah pilihan ideologis. Kita tidak hanya mencetak siswa yang pintar secara akademik, tapi juga generasi yang memiliki tauhid yang murni dan akhlakul karimah” tegas Ketua PDM.
Lebih lanjut, ia turut mengingatkan bahwa gedung-gedung sekolah yang megah hanyalah benda mati tanpa kehadiran guru yang memiliki “ruh” perjuangan KH Ahmad Dahlan.
Lebih lanjut, agenda berlanjut pada sesi pembinaan khusus mengenai Soliditas, Komitmen, dan Loyalitas oleh H Rusdi Riyanto SAg.
Sesi ini menjadi sangat krusial mengingat tantangan eksternal dalam dunia pendidikan yang semakin kompleks. Ada tiga poin utama yang ditekankan dalam pembinaan tersebut:
- Soliditas Organisasi: Setiap guru dan karyawan harapannya menjaga kekompakan tim di internal sekolah masing-masing maupun dalam jaringan pendidikan Muhammadiyah Kota Blitar. Friksi kecil harus diselesaikan dengan musyawarah mufakat demi menjaga nama baik institusi.
- Komitmen Profesi: Guru diminta untuk terus meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesionalnya. Komitmen ini diwujudkan dengan dedikasi penuh dalam mendidik siswa, bukan sekadar memenuhi jam kerja.
- Loyalitas terhadap Perjuangan: Loyalitas yang dimaksud bukan hanya kepada pimpinan, melainkan kepada visi besar Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui jalur dakwah pendidikan. Hal ini termasuk konsistensi dalam mengamalkan prinsip-prinsip persyarikatan di kehidupan sehari-hari.
Oase di Tengah Kesibukan
Bagi para guru SMP Muhammadiyah 1 Blitar dan sekolah lainnya, kegiatan ini menjadi oase di tengah kesibukan mengajar.
Pertemuan lintas jenjang ini memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan dan pengalaman. Guru TK bisa berdiskusi dengan guru SMA, menciptakan jembatan pemahaman tentang proses pendidikan anak yang berkelanjutan.
Acara yang berlangsung hingga siang hari tersebut tertutup dengan sesi ramah tamah. Di sinilah esensi Halalbihalal benar-benar terasa.
Prosesi berjabat tangan dan saling memaafkan mengalir secara natural, mencairkan segala ketegangan kerja yang mungkin terjadi selama setahun ke belakang.
Gedung Dakwah di Jalan Cokroaminoto itu menjadi saksi bisu bagaimana semangat pembaruan pendidikan masih menyala terang di Kota Blitar.
Melalui kegiatan ini, harapannya seluruh tenaga pendidik Muhammadiyah pulang dengan semangat baru, siap kembali ke ruang kelas dengan energi positif untuk mendidik tunas-tunas bangsa.
Keberlanjutan pendidikan Muhammadiyah di Kota Blitar tidak hanya bergantung pada fasilitas fisik, namun pada teguhnya komitmen para pendidiknya.
Sebagaimana pesan penutup dalam acara tersebut: “Muhammadiyah adalah rumah besar kita, dan pendidikan adalah cara kita merawat masa depan Indonesia dari kota ini.”





0 Tanggapan
Empty Comments