Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mengukur Kepantasan Masuk Surga

Iklan Landscape Smamda
Mengukur Kepantasan Masuk Surga
Oleh : Hasanuddin, S.Pd.I, M.Si Aktivis Muhammadiyah Kangean
pwmu.co -

Seseorang yang ingin lulus ujian akan belajar mati-matian demi mewujudkan impiannya. Ia rela berulang kali begadang dan menunda kesenangan sementara demi kesuksesan jangka panjang.

Demikian pula seorang pedagang penanggung beban keluarga. Ia harus merelakan waktu istirahatnya, bangun lebih pagi dari ayam jantan, dan segera datang ke pasar untuk menjajakan dagangannya.

Jika tidak, siapa yang akan membiayai kebutuhan hidup dan sekolah kedua anaknya?

Perjuangan ini menuntut pengorbanan waktu, tenaga, dan kesabaran luar biasa, menunjukkan betapa dedikasi dan kegigihan sangat penting untuk mencapai tujuan dan menafkahi keluarga.

Seorang pedagang penanggung beban keluarga harus merelakan waktu tidurnya, bangun bahkan lebih pagi dari ayam jantan, untuk segera ke pasar menjajakan dagangannya.

Jika tidak, kebutuhan hidup dan sekolah kedua anaknya tidak akan terpenuhi.

Di Iran, siswa yang ingin masuk universitas bergengsi harus melewati seleksi ketat.

Di sana, dunia pendidikan tak mengenal kompromi uang pelicin.

Semua peserta, baik anak pejabat maupun rakyat biasa, harus berjibaku memeras otak dan belajar ekstra keras.

Peluang masuk universitas tersebut sangat kecil, nyaris seperti melewati lubang jarum.

Menjadi pribadi sukses bukan dengan mengandalkan jurus aji mumpung, jalan pintas, atau cara haram seperti menyontek dan jual beli jawaban.

Semua harus berkompetisi secara fair. Kita adalah hamba Tuhan yang wajib menaati aturan dalam segala kondisi, karena kesuksesan sejati lahir dari usaha jujur, kerja keras, dan integritas.

Pembaca yang budiman, anggaplah impian-impian tersebut sangat kecil. Walau demikian, aroma persaingan begitu ketat.

Mereka semua harus bekerja keras dan bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Bahkan mungkin terpaksa harus mengorbankan segalanya, bukan hanya raga namun juga nyawa.

Nah, bagaimana dengan kita yang memiliki cita-cita lebih besar: menginginkan surga, suatu tempat yang gambarannya seluas langit dan bumi, penuh kenikmatan abadi?

Tentu pengorbanan untuk meraihnya jauh lebih besar dari sekadar ambisi duniawi.

Kita tidak cukup hanya mengatakan ingin masuk surga tanpa adanya pengorbanan, tanpa menjalani ujian dan ridha terhadap cobaan.

Allah mengingatkan bahwa manusia tidak bisa hanya mengaku “kami telah beriman” lalu membiarkannya tanpa ujian.

Atau, apakah kita mengira akan masuk surga dengan mudah tanpa mengalami penderitaan seperti umat terdahulu, yang saking beratnya cobaan sampai bertanya, ‘Kapan datang pertolongan Allah?‘ Surga membutuhkan perjuangan, kesabaran, dan ketaatan luar biasa.

Jika kita mengimpikan surga, maka jiwa raga harus siap menghadapi penderitaan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Bukankah orang yang bertekad kuat akan melintasi laut berapi?

Bukankah anjing pemburu yang berazam kuat rela melewati kubangan bara demi mangsanya?

Kita harus terbiasa bangun malam, walau tubuh didera keletihan. Mata harus akrab dengan bacaan ayat suci Al-Qur’an, meski terasa perih.

Perut harus dibiasakan berpuasa, baik wajib maupun sunah, meski tersiksa lapar.

Seluruh anggota badan mesti dijaga dari gempuran syahwat yang terus mengintai.

Sejarah mencatat pengorbanan luar biasa. Abu Bakar Ash-Shiddiq rela dipukuli hingga wajahnya berdarah usai berdakwah di Masjidil Haram.

Abdullah bin Mas’ud tabah menghadapi siksaan kaum kafir. Bilal bin Rabah tegar saat di lehernya dikalungkan tali lalu diseret dan dipanaskan di tanah membara serta ditindih batu besar.

Umaiyah mengikhlaskan badannya terkelupas oleh didihan air. Begitu pula kisah sahabat lain yang tak kalah mengharu biru penderitaannya, semua demi meraih ridha dan surga-Nya.

Rentetan penderitaan yang dialami para sahabat Nabi membuat mereka pantas masuk surga, karena kesabaran dan keteguhan iman mereka diuji dalam kehidupan dunia yang penuh cobaan.

Wajar bila kemuliaan mereka di sisi Allah begitu tinggi, hingga ada yang dijanjikan surga tanpa hisab, dan leluasa memilih tingkatan surga manapun yang dikehendaki.

Kita yang mendambakan surga juga harus siap menghadapi ujian dan tantangan dalam hidup.

Kita harus siap diuji oleh Allah, bersedia mengerjakan kebajikan apapun dengan penuh kesungguhan.

Membaca, mengkaji, apalagi menghafal Al-Qur’an membutuhkan perjuangan melawan rasa lelah fisik dan pikiran.

Bersedekah itu melatih melawan penyakit kikir dan cinta dunia. Menghadiri majelis ilmu itu menguji kesabaran raga yang harus berkorban waktu dan kenyamanan.

Sebaliknya, ada godaan untuk mencari kenyamanan sesaat yang melalaikan dari kewajiban.

Tidur saat subuh menawarkan kenyamanan ranjang, dan scrolling HP tanpa batas seringkali membuat kita terlena dan melupakan tanggung jawab.

Menjalani jalan kebaikan seringkali terasa berat dan penuh tantangan, sementara mengikuti hawa nafsu terasa menyenangkan.

Namun, perjuangan di jalan kebaikan membawa kemuliaan abadi, sedangkan kenikmatan sesaat yang melalaikan dapat menjauhkan kita dari rahmat Allah.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡