Setiap manusia akan meninggalkan dunia, namun tidak semua meninggalkan cahaya. Ada yang padam bersama jasadnya, dan ada yang tetap menjadi lentera melalui amal yang terus mengalir setelah kematian.
Pesan mendalam itu disampaikan Ustaz Adi Hidayat (UAH), wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Dia mengingatkan agar kita memahami hakikat kehidupan dunia dan mempersiapkan diri menuju kehidupan yang sesungguhnya, yakni kehidupan akhirat.
Ceramah UAH disampaikan dengan bahasa yang mengalir dan logika yang tajam itu berpusat pada tafsir Surah Al-Hadid ayat 20, tentang hakikat dunia yang fana dan akhirat yang abadi.
Menurut UAH, seorang Muslim sejati harus berupaya menjalani kehidupan dunia dengan baik, yang dalam Al-Qur’an disebut hayatan thayyibah, dan menutupnya dengan akhir yang baik, husnul khatimah.
Namun, untuk meraih keduanya, seseorang harus memahami dengan benar makna kehidupan.
“Setiap insan beriman perlu memahami hakikat kehidupan. Dunia ini tempat tugas, bukan tujuan. Kita hidup di sini untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan yang sesungguhnya, yaitu akhirat,” tegas UAH dikutip dari dari kanal Youtube Adi Hidayat Official.
Menyelam di Laut Kehidupan
UAH mengutip ilustrasi yang terkenal dari Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Dunia, kata Al-Ghazali, diibaratkan seperti seseorang yang menyelam di lautan dalam dengan membawa tabung oksigen yang terbatas dan diberi misi untuk mencari mutiara serta permata tertentu.
“Orang yang gagal bukan karena kehabisan oksigen, tapi karena lupa dengan misinya. Ia terpukau oleh indahnya pemandangan laut, ikan-ikan dan karang-karang, lalu lupa tujuan awalnya,” jelas UAH.
Begitulah manusia di dunia, lanjutnya. Banyak yang terpesona oleh keindahan, kemegahan, dan kenikmatan duniawi, hingga lupa bahwa mereka memiliki tugas dan misi hidup dari Allah SWT.
Merujuk pada Surah Al-Hadid ayat 20, Ustaz Adi menyebut bahwa ayat ini adalah “pengumuman langsung” dari Allah SWT kepada seluruh hamba-Nya tentang hakikat dunia.
“Kalau pengumuman disampaikan oleh kepala sekolah saja penting, apalagi jika pengumuman itu langsung dari Allah, disampaikan lewat malaikat terbaik kepada Nabi terbaik. Ini berarti amat sangat penting,” ujar UAH.
Isi pengumuman itu adalah penegasan bahwa kehidupan dunia hanyalah la’ibun wa lahwun — permainan dan senda gurau, hiasan dan ajang berbangga diri, serta perlombaan memperbanyak harta dan keturunan.
Permainan yang Tidak Abadi
Dunia, kata Ustaz Adi, hakikatnya adalah permainan yang akan segera usai. Jabatan, kekuasaan, harta, bahkan kecantikan dan ketampanan, semuanya akan berakhir.
“Sekarang muda, besok tua. Sekarang presiden, besok selesai masa jabatan. Dunia itu fana, tidak ada yang abadi. Maka memperjuangkan sesuatu yang sementara dengan mengorbankan yang abadi itu tanda tidak cerdas,” katanya tegas.
Orang yang cerdas, lanjutnya, adalah mereka yang menggunakan hal-hal sementara untuk meraih yang abadi. Dunia dipakai sebagai sarana, bukan tujuan.
Dalam tafsir ayat tersebut, UAH menjelaskan beberapa tingkatan orang yang terjebak oleh dunia:
- La’ibun (permainan). Hidupnya hanya untuk bersenang-senang tanpa arah.
- Lahwun (senda gurau). Menghabiskan waktu dengan hal-hal sia-sia.
- Ziinatun (perhiasan). Mengejar penampilan dan popularitas.
- Tafakhurun (berbangga diri). Pamer kehebatan dan saling menonjolkan diri.
- Takatsur (memperbanyak harta dan keturunan). Terlena dalam perlombaan mengumpulkan dunia tanpa niat untuk akhirat.
“Banyak orang sekarang mencari harta bukan untuk ibadah, tapi untuk status. Guru mencari murid bukan untuk dakwah, tapi untuk amplop. Pebisnis bukan mencari ridha Allah, tapi keuntungan pribadi. Itu semua tanda keterperangkapannya pada dunia,” ujar UAH.
UAH menegaskan, Islam tidak melarang umatnya kaya, sukses, atau berprestasi di dunia. Namun, semuanya harus bernilai ibadah dan diarahkan untuk mencari ridha Allah.
“Gunakan dunia untuk menjemput akhirat. Jadilah dokter yang menghafal Al-Qur’an, pengusaha yang rajin bersedekah, pejabat yang adil dan amanah. Dunia boleh dimiliki, tapi jangan sampai dunia yang memiliki kita,” pesannya.
Untuk memperjelas, UAH mencontohkan sosok sahabat Utsman bin Affan. “Utsman membeli sumur untuk kepentingan umat. Sumur itu menjadi sedekah jariyah, bahkan kini di atasnya berdiri hotel dan hasilnya masih disedekahkan. Itulah kekayaan yang dibawa sampai akhirat,” tuturnya.
Tanda Dunia Menipu
Menutup ceramahnya, UAH mengingatkan bahwa dunia semakin menampakkan tipu dayanya. Fenomena kemaksiatan, gaya hidup hedonis, dan penyimpangan moral semakin marak.
“Zaman Nabi Luth hanya laki-laki dengan laki-laki. Sekarang perempuan dengan perempuan, bahkan berganti kelamin. Dunia ini sedang tidak baik-baik saja. Maka jika ingin selamat, gunakan dunia sebagai bekal menuju akhirat, bukan untuk terlena di dalamnya,” seru UAH.
Ustaz Adi juga mengajak jamaah agar menata kembali niat dan orientasi hidup, terutama menjelang Ramadan.
“Mari siapkan diri, luruskan niat, dan gunakan dunia untuk mendekat kepada Allah. Dunia ini hanya persinggahan, sementara akhirat adalah rumah abadi,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments