Search
Menu
Mode Gelap

Menjadi Pemuda Muhammadiyah Sebagai Pilihan

Menjadi Pemuda Muhammadiyah Sebagai Pilihan
pwmu.co -
Oleh Ahmad Fathullah, MPd – Bidang Dakwah PCPM Semampir, Surabaya

PWMU.CO – Di era ketika kata “aktivis” kerap terdengar dan menghiasi media sosial, forum-forum diskusi, hingga aksi-aksi di jalanan, kita sering lupa bahwa menjadi aktivis bukan sekadar ikut ramai, tampil vokal, atau hadir dalam agenda-agenda besar. Lebih dari itu, menjadi aktivis adalah menjadi pewaris perjuangan yang menuntut keteladanan, keteguhan prinsip, dan kerja nyata yang berkelanjutan. Lebih-lebih menjadi aktivis — yang notabene kader — Pemuda Muhammadiyah berarti harus memikul tanggung jawab ideologis yang besar.

Saya masih ingat, suatu malam ba’da Isya di pojok aula kecil panti, seorang anak panti bertanya dengan polos: “Pak Ahmad, Muhammadiyah itu artinya apa sih?” Pertanyaan itu sederhana, tapi menggelitik nurani. Sebab saat itu saya sadar. Ternyata kita terlalu sering bicara yang muluk-muluk, tapi lupa menjelaskan dasar-dasar gerakan kepada mereka yang paling dekat dengan kita. Padahal Muhammadiyah itu sebagai gerakan yang tidak lahir dalam ruang hampa. Muhammadiyah tumbuh dari etos pembaruan, dari semangat bertauhid yang membebaskan, dari ilmu yang mencerahkan, dan dari kepedulian terhadap nasib umat. 

Kini, saat dunia bergerak sebegitu cepat dan nilai-nilai etik kian kabur, maka saatnya kini mengulang kesadaran untuk menancapkan kembali Lima Pilar Gerakan Pemuda Muhammadiyah milenial. Tentu penyadaran ini bukan sekedar slogan, tapi arah gerakan. Apa kelima pilar itu?

1. Menjadikan tauhid sebagai pusat keyakinan dan kompas dalam kehidupan. Tauhid harus mampu menjadikan kita terbebas dari ketergantungan pada manusia, membebaskan dari rasa takut terhadap makhluk, dan membebaskan dari pencarian-pencarian eksistensialis semu. Di tengah gempuran budaya instan dan kultus terhadap tokoh-tokoh tertentu, Pemuda Muhammadiyah harus berani berdiri dengan prinsip: “hasbiyallahu laa ilaaha illa huwa”.

Pernah suatu ketika kami menolak proposal bantuan dari pihak luar karena disertai syarat mencantumkan logo mereka di spanduk qurban kami. Itu tidak seberapa bagi mereka, tapi prinsip independensi harus dijaga. Tauhid dalam gerakan berarti tidak gampang dibeli. Bahkan ketika dana tipis, prinsip tetap harus tebal.

Pernah suatu ketika, kami menolak bantuan dari pihak luar karena mereka mensyaratkan untuk mencantumkan logo mereka di spanduk kegiatan kurban yang kami laksanakan. Bagi mereka mungkin itu hal sederhana, tetapi bagi kami merupakan prinsip independensi yang harus dijaga. Tauhid dalam pengertian gerakan ini berarti tidak mudah dibeli. Dana boleh saja menipis, tapi prinsip ideologis harus tetap tebal.

2. Menjadikan ilmu bukan sekadar untuk hafalan, tapi harus menjadi cara pandang. Harus dipahami bahwa ajaran Islam sangat memuliakan ilmu. Memuliakan ilmu bukan hanya menghafalnya, tetapi memahaminya. Bukankah kita diperintahkan untuk iqra’ ? Iqra yang maknanya membaca itu bukan sekadar membaca huruf, tapi jauh lebih subsantif yaitu fenomena atau realitas. Karena itu Pemuda Muhammadiyah harus memiliki sikap kritis dan reflektif, tidak sekadar mengutip pendapat orang lain. Pemuda Muhammadiyah juga harus mampu melahirkan karya tulis sebagai buah dari kerja-kerja pemikirannya.

Saya masih menyimpan majalah Suara Muhammadiyah edisi lama. Dari majalah tersebut saya menjadi tahu dan paham bahwa pendiri-pendiri pergerakan ini tidak sekadar membaca teks, tapi bahkan membentuk narasi. Maka hari ini, kader kita harus punya suara. Di media sosial, di kelas, di panggung dakwah, bahkan di komunitas gamer sekalipun—kita harus menyampaikan nilai Islam dengan cara yang cerdas.

3. Melakukan gerakan sosial dengan turun tengah-tengah umat. Pemuda Muhammadiyah jangan hanya kelihatan aktif saat di forum musyawarah pemilihan dan rapat-rapat internal. Kita juga harus hadir di lorong-lorong kampung, di bantaran sungai, di posyandu, dan di rumah-rumah yatim. Tidak hanya menjadi aktivis “powerpoint”— yang hebat di presentasi, tapi hilang saat di lapangan.

Suatu siang, saat membagikan paket sembako ke warga kampung nelayan, saya melihat seorang ibu memeluk kardus yang berisi beras dan mie instan. Dengan mata berkaca-kaca,  si ibu berkata, “Ndak seberapa, tapi rasanya kayak dapat hadiah dari Allah.” Di situlah saya menjadi tersadarkan bahwa dakwah sosial walau tidak mewah, tapi harus nyata.

4. Ekonomi mandiri melalui kemampuan berdikari. Banyak organisasi besar yang tumbang bukan karena krisis kader, tapi karena selalu bergantung pertolongan sponsor. Sebagai contoh usaha berdikari, PCPM Semampir menginisiasi berdirinya “Warung Kader”. Meski tampak kecil dan sederhana, faktanya justru mampu mensupport biaya administrasi untuk kegiatan. Dengan kata lain, berani berkegiatan tanpa harus mengemis.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Mewujudkan gerakan ekonomi mandiri bukan dalam pengertian bahwa semua harus jadi pengusaha. Yang utama adalah tumbuhnya kesadaran untuk tidak menjadikan uang sebagai kendali atas prinsip. Bukankah Nabi Muhammad memulai peradaban dengan berdagang ? —dan kita tahu, kejujuran dalam bisnis adalah dakwah yang berjalan.

5. Menumbuhkan rasa solidaritas antar kader. Seringkali kegiatan-kegiatan organisasi tersendat karena kendala miskomunikasi kecil. Ego yang tumbuh saat rapat dan komentar yang menyinggung di grup WhatSapp ternyata dapat menggerus ukhuwah. karena itu, kita harus lebih dewasa dan saling menguatkan, bukan justru saling menjatuhkan.

Saya yakin, setiap kader punya potensi berbeda. Yang pandai menulis, biarlah jadi corong media dakwah. Yang pandai desain, mari perkuat identitas visual. Tidak perlu semua berebut jadi ketua, tapi tidak ada yang mau jadi pelaksana. Kekuatan kita justru pada kolaborasi, bukan dominasi.

Kita tidak lahir untuk diam

Mari kita renungkan, bukankah generasi terdahulu hidup dengan fasilitas yang jauh lebih terbatas, namun tetap mampu bergerak dan berkontribusi? Jika dibandingkan dengan era sekarang—di mana internet, smartphone, ruang diskusi, bahkan akses pendanaan begitu mudah—apakah semangat kita sudah sebanding dengan semangat mereka?

Menjadi Pemuda Muhammadiyah bukan sekadar berada dalam struktur organisasi. Kita harus mampu hadir di akar rumput—di tengah-tengah umat dan masyarakat—berpeluh sebagai relawan, mengetuk pintu rumah para dhuafa. Mari terus bergerak, karena diam adalah bentuk kemunduran, sementara gerakan tanpa nilai hanyalah kekosongan.

Memilih bergabung dengan Pemuda Muhammadiyah hari ini merupakan pilihan berani. Berani untuk idealis di tengah-tengah gempuran mentalitas pragmatis. Keberanian untuk mencintai masyarakat dalam sunyi, dan membela kebenaran meski tidak populer.

Mari kita tanamkan lima pilar itu dalam keseharian kita. Bukan untuk pamer, tapi untuk menegaskan arah. Menjadi Pemuda Muhammadiyah bukan soal siapa kita hari ini, tapi tentang siapa yang tercerahkan karena gerakan kita. Semoga setiap langkah kita, sekecil apapun, menjadi bagian dari gerakan peradaban yang mencerahkan.***

Editor Notonegoro

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments