Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjadi Rabbaniyin, Bukan Ramadaniyyin

Iklan Landscape Smamda
Menjadi Rabbaniyin, Bukan Ramadaniyyin
Husni Abadi Emha,saat mengisi kajian Ramadhan di Masjid Dakwah Tanggul. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Safari Ramadan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tanggul kembali digelar pada Rabu (25/02/2026) di Masjid Dakwah Tanggul, Kabupaten Jember. Dalam kesempatan tersebut, Husni Abadi Emha, S.Sos., menyampaikan pentingnya menjadi hamba Allah yang konsisten beribadah sepanjang tahun, bukan hanya saat Ramadan.

Husni menegaskan bahwa ibadah tidak semestinya dilakukan sesaat atau hanya pada waktu tertentu. Para ulama bahkan memberikan peringatan bagi mereka yang rajin shalat hanya pada bulan Ramadan, namun meninggalkannya di bulan-bulan lain.

“Karena sesungguhnya orang yang shalih adalah yang rajin ibadah dan rajin shalat malam sepanjang tahun,” ujarnya seraya mengutip firman Allah dalam QS. Al-Hijr: 99, “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin (yakni ajal).”

Ia menjelaskan bahwa Allah lebih menyukai hamba yang bersifat Rabbaniyin, yaitu mereka yang beramal secara konsisten sebelum, selama, dan setelah Ramadan. Hal ini berbeda dengan Ramadaniyyin, yakni mereka yang bersemangat beramal hanya selama bulan suci, tetapi kembali seperti semula setelah Ramadan berlalu.

“Seakan-akan training Ramadan tidak berbekas,” ujarnya.

Rabbani

Menurut Husni, seorang Rabbani mempersiapkan diri sebelum Ramadan, meningkatkan kualitas iman selama Ramadan, dan merasakan dampaknya hingga setelah Ramadan berlalu. Ia juga mengingatkan bahwa amal sedikit tetapi dikerjakan terus-menerus lebih dicintai Allah SWT.

Hal ini sesuai hadis yang diriwayatkan dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.” Beliau tidak menentukan waktu khusus untuk beramal.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Husni turut menyampaikan nasehat Al-Hasan Al-Bashri yang mengatakan bahwa seseorang hendaknya rutin dalam beramal, karena Allah tidak menjadikan akhir dari amal seseorang kecuali kematiannya. Konsistensi ini pula yang membuat setan menjauh.

“Jika setan melihatmu kontinyu dalam amalan ketaatan, ia akan menjauh. Tetapi jika engkau beramal lalu berhenti, setan akan semakin tamak menggoda,” ucap salah satu peserta Sekolah Kepemimpinan Nasional di Yogyakarta yang pernah disampaikan kepada Husni.

Ia juga menekankan bahwa memutus suatu amalan, meskipun sunnah, bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dari penjelasan tersebut, terdapat beberapa hikmah dari keistiqamahan dalam beribadah. Pertama, amalan sedikit namun kontinyu akan membuat amalan itu langgeng. Kedua, amalan yang konsisten akan terus mengalirkan pahala, berbeda dengan amalan yang besar namun hanya dilakukan sesekali.

“Amalan yang sedikit tetapi kontinu juga mencegah datangnya virus ‘futur’ atau rasa jenuh dalam beramal. Jika seseorang beramal sesekali dalam jumlah banyak, rasa malas bisa muncul. Namun jika beramal sedikit secara ajeg, rasa malas itu hilang dan semangat beribadah tetap terjaga,” jelas Husni yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Muhammadiyah Malang. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu