Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mazhab dan Politik: Menjaga Keadilan Umat di Tengah Perang Narasi

Iklan Landscape Smamda
Mazhab dan Politik: Menjaga Keadilan Umat di Tengah Perang Narasi
Asruri Muhammad, Pemerhati Sosial Keagamaan
Oleh : Asruri Muhammad Pemerhati sosial Keagamaan

Di tengah konflik antara Iran dan aliansi Israel Amerika sejak awal 2026, suasana umat Islam ikut memanas. Ledakan tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di ruang percakapan mimbar, grup chat, hingga media sosial.

Perang ini membawa dampak besar: serangan udara, balasan rudal, korban jiwa, dan ketegangan global yang meningkat. Namun, yang tak kalah mengkhawatirkan adalah perang narasi di tengah umat sendiri.

Setiap pihak berlomba menyajikan versinya. Potongan sejarah dipelintir, emosi digerakkan, dan identitas mazhab dijadikan garis pemisah. Akibatnya, umat yang seharusnya bersatu justru terpecah, bahkan saling menyesatkan atau mengkafirkan.

Gelombang Narasi dan Kebingungan Umat

Narasi menjadi sangat menentukan. Sayangnya, yang paling cepat tersebar bukanlah yang paling jernih, tetapi yang paling menggugah emosi. Potongan sejarah dibagikan tanpa konteks, pernyataan dipotong dari sumbernya, lalu dijadikan alat menguatkan posisi masing-masing.

Banyak orang ikut arus, bukan karena memahami, tetapi karena terbawa gelombang.

Kerancuan Mendasar: Mencampur Mazhab dan Politik

Masalah utama adalah ketidakmampuan membedakan mazhab sebagai ajaran dan negara sebagai pelaku politik. Ketika dicampur, lahirlah kesimpulan terburu-buru: seolah setiap tindakan negara mewakili mazhab.

Padahal, mazhab berbicara tentang iman, ibadah, dan hukum—hidup dalam ruang ideal. Sementara negara bergerak dalam realitas yang penuh tekanan: kekuasaan, keamanan, strategi, dan kepentingan. Bertemunya keduanya menimbulkan kompleksitas, bukan penyederhanaan.

Agama yang Ideal, Politik yang Realistis

Identitas mazhab memberi warna, tetapi tidak semua kebijakan negara mencerminkan ajaran agama. Keputusan politik sering hasil kompromi, bukan doktrin tunggal.

Kesalahpahaman muncul ketika peristiwa politik dibaca sebagai doktrin, dan konflik kekuasaan ditafsirkan sebagai konflik akidah. Hal ini menimbulkan bias dan kesimpulan tergesa-gesa.

Sejarah yang Kompleks, Bukan Hitam-Putih

Sejarah Islam menunjukkan konflik tidak sesederhana label mazhab. Dinamika kekuasaan, kepentingan politik, aliansi strategis, dan kondisi sosial selalu berperan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Bahkan dalam satu mazhab yang sama, konflik tetap terjadi. Ini membuktikan masalah bukan semata perbedaan teologis, tetapi faktor manusiawi yang melekat dalam perebutan kekuasaan.

Dari Narasi ke Takfir: Bahaya yang Mengintai

Ketika umat lebih banyak mengonsumsi narasi daripada ilmu, yang tumbuh adalah kebencian. Pertanyaan bergeser dari “apa yang benar?” menjadi “siapa yang salah?”.

Batas kritik dan permusuhan menjadi kabur. Perbedaan yang seharusnya ruang diskusi berubah menjadi alasan menyerang, bahkan mengkafirkan orang lain. Nabi pun memperingatkan, tuduhan tanpa dasar bisa berbalik kepada diri sendiri.

Jalan Tengah: Jernih dalam Berpikir, Adil dalam Menilai

Yang dibutuhkan adalah kejernihan. Nilai sesuatu dengan adil, tidak tergesa-gesa, dan jangan terbawa generalisasi.

  • Tidak semua kebijakan negara mencerminkan ajaran mazhab.
  • Tidak semua perbedaan harus menjadi permusuhan.
  • Tidak semua narasi pantas diterima tanpa verifikasi.

Keadilan menuntut pengakuan kesalahan di berbagai sisi, tetap objektif, dan menjaga adab dalam perbedaan.

Penutup: Menjaga Umat dengan Kejernihan

Menjaga umat bukan sekadar membela kelompok, tetapi menjaga cara berpikir tetap lurus. Umat yang jernih tidak mudah diadu domba. Umat yang adil tidak mudah diprovokasi. Umat yang memahami perbedaan dengan benar tidak jatuh pada permusuhan tak perlu.

Di tengah bisingnya narasi hari ini, yang paling dibutuhkan bukan suara lebih keras, tetapi pikiran lebih jernih dan hati lebih adil. Dari situlah persatuan sejati bisa dijaga.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡