Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. KH M. Saad Ibrahim, MA, menekankan pentingnya menjaga kesehatan jiwa sebagai pondasi kesehatan fisik. Hal ini disampaikannya dalam acara Halal Bihalal Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Balongbendo di halaman Masjid Namiroh, Desa Balongbendo, Sidoarjo, Ahad (29/3/2026).
Dalam tausiyahnya, Kiai Saad menyebut Ramadan sebagai Madrasah Al-Ruhiyah atau sekolah kejiwaan. “Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan kecerdasan emosional untuk menunda kenikmatan demi sesuatu yang lebih besar di akhirat.”
Kiai Saad mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam fenomena “puasa balas dendam” saat berbuka. Menurutnya, makan berlebihan saat maghrib justru merusak lambung dan mencederai esensi pengendalian diri.
“Hidup itu pada dasarnya adalah menahan diri. Kalau kita langsung meneguk semua kenikmatan tanpa kendali, itu bukan memberikan kesehatan. Islam mengajarkan takjil yang manis seperti kurma, lalu salat, baru makan secukupnya,” jelasnya.
Mengutip Alqur’an, Kiai Saad menjelaskan bahwa kata Syifa’ (penyembuh) muncul sebanyak empat kali. Menariknya, tiga di antaranya merujuk pada Alqur’an sebagai penyembuh jiwa, sementara hanya satu yang merujuk pada madu (fisik).
Di Al-Quran itu ada empat kata syifa. Dari Al-Fatihah sampai Annas itu, kata syifa ada empat. Ia juga menyebutkan sejumlah surat yang di dalamnya ada kata Syifa’.
Pertama, Surat Yunus ayat 57. Ayat ini menekankan bahwa Alqur’an adalah pelajaran dan penyembuh bagi penyakit hati. Kedua, Surat An-Nahl ayat 69, yang kata “Syifa” merujuk pada madu.
Ketiga, Surat Al-Isra’ ayat 82. Kata Syifa’ di sini menjelaskan Alqur’an sebagai penawar secara umum. “Keempat, surat Fushshilat ayat 44 yang menegaskan fungsi Alqur’an bagi orang yang beriman.
“Menariknya, dari ke empat surat tadi itu, tiganya kata syifa’ sebagai salah satu fungsi Alquran. Sedangkan satu di An-Nahl dihubungkan dengan fungsi madu,” terangnya.
Alqur’an memang diposisikan bukan hanya sebagai bacaan, tapi juga sebagai terapi mental, spiritual, dan fisik bagi pembacanya.
“Ini maknanya, usaha kita untuk menjaga jiwa harus tiga kali lipat dibandingkan menjaga fisik. Sekitar 75 persen untuk jiwa, dan 25 persen untuk fisik. Karena seringkali sakit fisik hanyalah implikasi dari pikiran atau jiwa yang sakit,” tegasnya.
Ia juga mengutip pemikiran Ibnu Sina yang menolak filosofi Yunani kuno. Menurut Ibnu Sina, fisiklah yang mengikuti jiwa, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, menjaga pikiran positif dan niat yang kuat (Man Jadda Wajada) menjadi kunci vitalitas manusia.
Di usianya yang menginjak 72 tahun, Kiai Saad berkelakar bahwa jiwanya masih terasa seperti usia 27 tahun. Ia membedakan antara Sinnun (angka usia) dan umur (keberkahan perbuatan).
“Sebaik-baik kalian adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. Fisik boleh menua, tapi jiwa harus tetap produktif dan berproyeksi ke depan,” tambahnya.
Mengakhiri ceramahnya, ia mengajak warga Muhammadiyah untuk terus berinteraksi dengan Alqur’an di luar bulan Ramadan, karena mengelola jiwa membutuhkan petunjuk Allah secara kontinu agar tetap sehat dan tangguh.





0 Tanggapan
Empty Comments