Di balik deretan medali internasional yang kini tersusun rapi, Dizzo Violeta tak pernah tumbuh sebagai anak yang merasa istimewa. Dia pendiam. Lebih sering mengamati daripada berbicara, dan nyaris tak pernah membayangkan namanya akan terpanggil di panggung-panggung inovasi dunia.
Dunia teknologi, yang kini menjadi jalur berkaryanya, dahulu hanyalah ruang asing yang ia masuki dengan ragu.
Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu lahir di Madiun pada 2004. Namun, sejak kecil, hidup membawanya jauh dari kota kelahiran. Orang tuanya merantau ke Banten, mengikuti roda industri.
Ayahnya bekerja sebagai supervisor di sebuah pabrik kertas, sementara ibunya—yang sebelumnya sempat bekerja di pabrik sepatu—kini memilih fokus mengurus rumah tangga.
“Kami pindah waktu saya masih kecil. Lingkungan pendidikan di tempat saya tinggal bisa dibilang minim akses kompetisi,” tutur Dizzo mengenang, akhir Desember lalu.
Di wilayah kabupaten tempatnya tumbuh, kompetisi akademik bukanlah sesuatu yang lumrah. Tak banyak ruang bagi siswa untuk bermimpi menembus ajang bergengsi. Namun justru dari ruang yang serba terbatas itulah, daya tahan dan kemandirian Dizzo perlahan terbentuk.
Belajar Mandiri di Tengah Keterbatasan
Dizzo memilih menempuh pendidikan menengah di SMKN 1 Kragilan, Banten, jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Pilihan itu bukan semata karena tren, melainkan kesadaran praktis: teknologi memberi peluang kerja yang lebih luas.
Proses belajarnya jauh dari kata ideal. Fasilitas terbatas, pembinaan lomba nyaris tak ada. Dizzo lebih banyak belajar secara otodidak—mengulik sendiri, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Ia tidak tumbuh dalam kultur kompetisi, bahkan cenderung menghindarinya.
Hingga suatu hari, kesempatan datang dengan cara yang tak terduga.
Sekolahnya harus mengirim perwakilan untuk Lomba Kompetensi Siswa (LKS) 2022 tingkat Provinsi Banten, cabang pembuatan web. Kandidat utama—kakak kelasnya—mengundurkan diri mendadak. Dizzo, yang dikenal memiliki nilai akademik cukup baik, ditunjuk sebagai pengganti.
Tanpa persiapan matang, tanpa pengalaman lomba sebelumnya, ia berangkat dengan rasa cemas. Hasilnya pun jauh dari harapan.
“Saya kalah. Dan itu lomba pertama saya,” ujarnya singkat.
Namun, kekalahan itu justru menjadi titik balik. Alih-alih trauma, Dizzo menemukan sesuatu yang baru: lomba ternyata tidak semenakutkan bayangannya.
“Dari situ saya sadar, lomba itu ruang belajar. Bukan cuma soal menang atau kalah,” katanya.
Ada satu suara yang terus mengiringi langkah Dizzo: nasihat orang tuanya.
“Orang tua saya sering bilang, kerja fisik di pabrik itu berat. Mereka ingin saya punya pilihan hidup yang lebih baik,” ucapnya.
Ayahnya kerap bercerita bahwa banyak atasannya di pabrik adalah mereka yang menguasai teknologi informasi. Cerita-cerita sederhana itu menancap kuat dalam benaknya. Teknologi, bagi Dizzo, bukan sekadar keahlian—melainkan jalan keluar.
Selepas lulus SMK, Dizzo mempertimbangkan lokasi perguruan tinggi dengan matang. Ia ingin kuliah di wilayah yang dekat dengan rumah neneknya di Karanganyar. Pilihan itu membawanya ke Program Studi Teknik Informatika UMS.
Secara akademik, ia tidak benar-benar memulai dari nol. Dunia coding sudah dikenalnya sejak SMK. Namun, Dizzo merasa ada sisi lain dari teknologi yang ingin ia jelajahi—lebih visual, lebih komunikatif, dan lebih dekat dengan manusia.

Bertemu UI/UX di FOSTI UMS
Pertemuan Dizzo dengan dunia User Interface dan User Experience (UI/UX) terjadi saat ia bergabung dengan Forum Open Source Teknik Informatika (FOSTI) UMS. Organisasi ini menjadi ruang eksplorasi mahasiswa lintas minat: pemrograman, keamanan siber, hingga UI/UX.
Pilihan Dizzo jatuh pada UI/UX. “Bidang lain sudah pernah saya sentuh. UI/UX itu penuh warna, dan saya benar-benar baru di situ,” katanya, tersenyum.
Dia mulai belajar dari nol. Mengenal Figma, Canva, memahami alur pengalaman pengguna, mempelajari bagaimana desain bisa memengaruhi perilaku manusia. Semua dilakukan secara otodidak, beriringan dengan diskusi dan praktik di organisasi.
Seiring waktu, keaktifannya berbuah kepercayaan. Dizzo didapuk menjadi Kepala Bidang UI/UX FOSTI UMS. Ia tak hanya mengelola program kerja, tetapi juga mengajar kelas internal UI/UX yang terbuka untuk umum.
“Saya sengaja terlibat langsung supaya bisa belajar bareng,” ujarnya.
Organisasi membuka pintu ke dunia kompetisi. Berawal dari lomba internal kampus, Dizzo meraih juara tiga Challenge Pelatihan Himafos UMS bersama Odama Studio pada 2023. Dari sana, jejaring terbentuk, kepercayaan diri tumbuh.
Sejak semester empat, Dizzo rutin mengikuti kompetisi—terutama di bidang inovasi aplikasi dan bisnis digital. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah International Entrepreneurship Festival of Business Administration (IEFBA) Nextplay 2025.
Di ajang itu, timnya meraih juara tiga tingkat internasional. Dizzo menjadi satu-satunya mahasiswa teknik informatika di dalam tim. Seluruh tanggung jawab perancangan prototipe aplikasi berada di pundaknya: struktur, tampilan, hingga alur pengalaman pengguna.
Produk yang dikembangkan berupa aplikasi kesehatan terpadu—menggabungkan nutrisi, konsultasi, dan marketplace produk sehat.
“Kompetisi ini benar-benar head to head. Tekanannya terasa sekali,” katanya.
Nama Dizzo mulai dikenal lewat inovasi aplikasi kesehatan. Pada Global Youth Innovators Competition 2024 dan 2025, ia merancang StunApp, aplikasi screening dini stunting untuk anak usia 0–5 tahun.
Orang tua dapat memantau tumbuh kembang anak melalui input data berat dan tinggi badan, dilengkapi edukasi dan fitur konsultasi.
Inovasi itu mengantarkannya meraih berbagai penghargaan internasional:
Medali emas World Youth Invention and Innovation Award
Medali emas dan The Indonesian Young Scientist Association Grand Prize pada World Invention Competition and Exhibition 2025
Dalam ajang-ajang tersebut, Dizzo berperan sebagai perancang antarmuka dan prototipe aplikasi kesehatan terpadu, lengkap dengan fitur healthy market untuk produk UMKM, edukasi gizi, nutri planner, dan nutri impact tracker.

Beberapa aplikasi karya Dizzo bersama tim. Foto: Dok/Pri
Kembangkan AI Konsultasi Kesehatan
Kini, Dizzo dan tim tengah mengembangkan fitur baru: AI konsultasi kesehatan berbasis jurnal dan literatur ilmiah.
“Bukan untuk menggantikan dokter. Tapi memberi akses awal yang mudah dan gratis,” jelasnya.
Aplikasi itu dipersiapkan untuk Thailand Inventors’ Day 2026. Rebranding, penyempurnaan AI, serta penguatan UI/UX menjadi fokus utama agar solusi tidak hanya canggih, tetapi juga ramah bagi masyarakat luas.
Di luar kompetisi, Dizzo juga mengikuti Program Magang Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Kampus Merdeka Batch 7 tahun 2024. Ia lolos jalur Studi Independen di PT Lingkaran Edukasi Kreatif, Jakarta, memilih bidang UI/UX.
Di sana, ia terlibat langsung dalam pengembangan aplikasi layanan kesehatan digital, menjalani proses lengkap: riset pengguna, analisis kebutuhan, hingga prototipe fungsional.
Dizzo tak menutupi ambisinya. Ia ingin menjadi desainer UI/UX profesional. Front-end developer menjadi opsi kedua. Bekerja di perusahaan teknologi besar seperti Tokopedia atau Shopee adalah mimpi yang ia rawat pelan-pelan.
“Ada kepuasan sendiri kalau bisa bilang ke keluarga, ini hasil desain saya,” katanya lirih.
Dia sadar dunia desain terus berubah, terlebih dengan hadirnya AI. Namun, ia memilih melihatnya sebagai tantangan, bukan ancaman.
“Sentuhan manusia tetap penting, terutama di prototyping dan animasi,” ujarnya.
Bagi Dizzo, perjalanan ini bukan tentang cepat sampai. Ia terus menguatkan diri dengan satu prinsip sederhana: jangan minder pada karya sendiri.
“Banyak cari inspirasi. Terima masukan. Jangan berkecil hati,” pungkasnya.
Dari anak pendiam di lingkungan terbatas, Dizzo Violeta kini menemukan suaranya—bukan lewat kata-kata, melainkan melalui desain yang memberi dampak. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments