
PWMU.CO — Pondok Pesantren Al Furqon Muhammadiyah (PPAM) Batu menggelar kegiatan Stadium General atau Ta’aruf bersama wali santri pada Kamis (29/05/2025).
Kegiatan ini dipandu langsung oleh Pimpinan Pondok, KH Rahmad Azhar Lc, dengan tujuan memperkenalkan visi, misi, serta sistem pendidikan pondok kepada para orang tua santri baru.
Dalam pemaparannya, Azhar menyampaikan bahwa santri diibaratkan seperti pohon kurma, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis: seluruh bagian dari pohon kurma memiliki manfaat.
Hal ini menjadi cerminan harapan pondok terhadap para santri, agar kelak mereka menjadi pribadi yang bermanfaat sesuai potensi masing-masing.
PP Al-Furqon Muhammadiyah yeng berlokasi di Jalan Mbah Joyo nomor 51 Dusun Banara, Bumiaji, Kota Batu ini berada di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah dengan fokus utama pada hafalan al-Quran.
Namun demikian, pondok ini tidak hanya menekankan pada aspek hafalan semata, tetapi juga pada pembinaan akhlak dan perilaku santri.
Mengacu pada surat al-Jumu’ah ayat 2, Azhar menjelaskan bahwa urutan pendidikan yang ideal adalah membacakan ayat-ayatNya (mengajarkan membaca al-Quran), mensucikan jiwa (pembinaan adab dan perilaku), mengajarkan Kitab (ilmu al-Quran), dan hikmah (as-Sunnah).
Oleh karena itu, pendidikan dasar seperti membaca al-Quran dan pembentukan adab idealnya sudah selesai di jenjang SD, sehingga ketika memasuki pondok, para ustadz tinggal melanjutkan pendalaman ilmu dan hafalan.
Dalam sesi tersebut, Azhar juga menyitir pernyataan Direktur Al-Manarat di Madinah, Syaikh Muhammad Siddiq, tentang pentingnya dua kunci utama dalam hubungan antara sekolah/madrasah dengan rumah, yaitu kepercayaan dan sinergi.
Beliau menekankan pentingnya komunikasi positif antara wali santri dengan pihak pondok. Jika muncul permasalahan, sebaiknya disampaikan langsung kepada pimpinan agar solusi dapat ditemukan secara bijak dan cepat.
“Seringkali kegagalan dalam pendidikan anak terjadi karena tidak adanya sinergi antara rumah dan sekolah. Jika di pondok anak dibiasakan shalat berjamaah, maka di rumah pun seharusnya demikian, orang tua juga harus melaksanakan shalat secara berjamaah, sehingga ketika santri pulang ke rumah, kebiasaan di rumah juga sama dengan kebiasaan di pondok, keduanya beriringan,” ungkap Azhar.
Ia juga menekankan bahwa memilih pondok pesantren ibarat mencari jodoh. Tidak semua pondok cocok untuk setiap anak, karena setiap lembaga memiliki fokus dan metode masing-masing. Oleh sebab itu, calon wali santri hendaknya sudah mempertimbangkan dengan matang saat memilih PPAM ini.
“Kita sedang berupaya ‘menjodohkan’ santri dengan pondok ini. Semoga cocok, kalau tidak cocok, tentu masih terbuka kesempatan untuk menemukan pondok yang cocok untuk anak,” kata Azhar.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa di PPAM, santri ditargetkan menghafal 15 juz dalam tiga tahun, namun pencapaian akhir tentu bergantung pada kemampuan individu.
Selain pelajaran diniyah, santri juga tetap mengikuti pelajaran umum melalui kerja sama dengan SMP Muhammadiyah 2 Batu dengan porsi yang telah disesuaikan.
Menariknya, PPAM tidak menerapkan sistem poin dalam menyikapi pelanggaran santri. Sebaliknya, pendekatan yang digunakan adalah diskusi dan penyelesaian masalah bersama.
Pemberian nasihat, hukuman edukatif, pemanggilan orang tua, hingga dialog langsung dengan pimpinan pondok menjadi langkah-langkah yang diambil dalam mencari solusi terbaik.
Menjelang akhir pertemuan, disampaikan bahwa santri baru akan mulai masuk pondok pada tanggal 16 Juli 2025. Wali santri diharapkan mulai menyiapkan perlengkapan dan kesiapan mental untuk melepas anak-anak mereka menuntut ilmu di PPAM Al Furqon Kota Batu.(*)
Penulis Khoen Eka Editor Zahrah Khairani Karim





0 Tanggapan
Empty Comments