Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mentalitas Pemenang ala Pak A.R. Fachrudin

Iklan Landscape Smamda
Mentalitas Pemenang ala Pak A.R. Fachrudin
Mentalitas Pemenang ala Pak A.R. Fachrudin. Foto: Istimewa/PWMU.CO
Oleh : Alfi Saifullah Penulis kolom, buku biografi, dan sejarah
pwmu.co -

Dalam sejarah Islam Indonesia, kita mengenal banyak tokoh yang tidak sekadar menyampaikan agama dalam bentuk doktrin, tetapi menjadikannya energi moral yang melahirkan perubahan nyata. Salah satunya ialah KH Abdur Rozzaq Fachrudin, atau Pak AR, Ketua PP Muhammadiyah 1968–1990.

Pak AR dikenal memadukan kesederhanaan laku dan ketegasan nilai. Petuahnya singkat, tetapi sarat kedalaman—ibarat mutiara kecil yang memberi terang bagi siapa pun yang menapaki perjalanan hidup. Setidaknya ada empat nasihat yang patut kita simpan dalam batin.

  1. Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri

Apabila ingin memperbaiki nasib kita, maka kita harus berani mengubah keadaan kita terlebih dahulu.

Petuah ini adalah tamparan lembut bagi mereka yang menunggu perubahan datang dari luar: kebijakan, keberuntungan, atau keadaan. Bagi Pak AR, perubahan sejati justru bermula dari diri sendiri. Nasib bukan benda beku yang jatuh dari langit, melainkan sesuatu yang dibentuk dengan kesungguhan.

Perubahan juga tidak selalu berupa langkah besar. Ia bisa hadir melalui kebiasaan kecil yang konsisten: bangun lebih awal, shalat tepat waktu, bekerja sungguh-sungguh, memperbaiki akhlak, memperluas pergaulan, dan menata pikiran.

Pandangan ini sejalan dengan prinsip Al-Qur’an bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan dirinya.

  1. Tetap Tenang, Jangan Putus Asa

Jika sedang berusaha di dunia, tidak perlu putus asa. Tidak perlu terdesak oleh napas. Tidak perlu berkecil hati. Mari kita hadapi dengan jiwa besar, penuh keyakinan dan harapan.

Pak AR memahami bahwa dunia bukan panggung yang selalu ramah. Tikungan-tikungan tajam hidup kerap memicu rasa cemas, terutama ketika usaha belum menampakkan hasil.

Karena itu, kita membutuhkan jiwa besar—kelapangan batin untuk melihat persoalan dari ketinggian. Ketenangan adalah fondasi setiap proses. Kita sering terjebak dalam tekanan harian dan tuntutan serbacepat, seolah kesuksesan harus hadir seketika. Padahal, setiap ikhtiar memiliki ritme, kesukaran, dan buahnya masing-masing.

  1. Istiqamah: Tidak Berhasil? Ulangi. Masih Belum? Ulangi Lagi

Kalau belum berhasil, maka diulangi. Kalau belum berhasil, maka ulangi lagi. Jangan bosan dan putus asa.

Jika petuah sebelumnya mengajarkan ketenangan, maka nasihat ini meneguhkan ketekunan. Mengulang bukan kembali ke titik nol, melainkan cara semesta menempa karakter.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Keberhasilan bukan hadiah yang jatuh begitu saja. Ia adalah hasil dari repetisi, kecerdasan memperbaiki langkah, dan kesediaan untuk terus belajar. Di era yang serba instan, pesan ini terasa semakin relevan. Banyak orang cepat letih ketika jalan sukses tidak linear—padahal justru di sanalah karakter dibentuk.

  1. Sikap Terhadap Celaan dan Kritik

Kalau dilecehkan tidak usah ditanggapi. Kalau dikritik—dikoreksi dan diperhatikan—maka terimalah dengan gembira dan berterima kasihlah.

Dalam proses bertumbuh, pendapat orang lain sering menjadi batu sandungan. Ada yang mencibir, meremehkan, bahkan menjatuhkan. Bagi Pak AR, tidak semua suara layak dijawab. Celaan yang lahir dari ketidaktahuan cukup dibalas dengan diam.

Namun kritik yang tulus justru emas. Kritik adalah cermin yang menunjukkan sisi-sisi diri yang tidak terlihat. Dalam tradisi keilmuan, kritik merupakan syarat kemajuan. Menerimanya dengan gembira adalah tanda kedewasaan; mensyukurinya adalah bukti kerendahan hati.

Tekanan hidup masa kini mungkin lebih besar dibanding era Pak AR. Namun justru karena itulah petuah-petuahnya semakin relevan. Empat nasihat tersebut membentuk alur yang saling berkait:

  • keberanian mengubah keadaan,
  • ketenangan menghadapi proses,
  • ketekunan mengulang, dan
  • kerendahan hati menerima kritik.

Inilah mentalitas bertumbuh—mentalitas pemenang—yang membuat manusia tidak mudah kecil hati dan tetap teguh melangkah.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita meraih sesuatu, melainkan seberapa bermakna perjalanan yang kita tempuh. Dan dalam perjalanan itu, pesan-pesan Pak AR akan selalu menjadi penerang.

Wallahu a‘lam.

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu