Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Otoriter ke Positif: Transisi Pola Asuh Anak di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Dari Otoriter ke Positif: Transisi Pola Asuh Anak di Era Digital
Dari Otoriter ke Positif: Transisi Pola Asuh Anak di Era Digital (Foto: Istimewa)
Oleh : Winarningsih S.Pd Gr. Ketua PDNA Kabupaten Magetan, Praktisi Parenting dan Pengajar Kelas Orang Tua
pwmu.co -

Di era digital ini, ketika informasi tentang pengasuhan anak mengalir deras melalui media sosial dan kelas parenting online, satu fenomena kerap saya jumpai, yakni orang tua muda di Indonesia berusaha beralih dari pola asuh otoriter yang mereka warisi dari generasi sebelumnya ke pendekatan yang lebih positif.

Niat ini patut diapresiasi. Namun, dalam praktiknya, transisi tersebut sering kali tidak berjalan semulus yang dibayangkan.

Berdasarkan pengamatan saya dalam berbagai kelas parenting yang saya hadiri, masih banyak ibu muda yang terjebak dalam gaya otoriter. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang rendah dan pola intergenerasional. Mereka sering mengeluh bahwa pola asuh positif “tidak mempan” pada anak-anak mereka.

Sebagai seorang pengamat dan praktisi parenting, saya yakin bahwa perubahan ini bukan hanya mungkin, tetapi juga esensial untuk membangun generasi yang lebih resilien. Mari kita telusuri lebih dalam dengan landasan teori klasik dari Diana Baumrind dan Albert Bandura.

Pola asuh otoriter, yang ditandai dengan tuntutan tinggi tetapi responsivitas rendah, sering kali mengandalkan hukuman ketat tanpa penjelasan. Hal ini menciptakan anak-anak yang rentan terhadap kecemasan, rendah harga diri, dan masalah perilaku lainnya.

Saya ingat seorang ibu di kelas saya yang bercerita bagaimana ia menerapkan aturan ketat seperti “jangan bertanya terus, cukup taat saja,” mirip dengan apa yang ia alami di masa kecil.

Sebaliknya, pola asuh positif, atau yang oleh Baumrind disebut sebagai authoritative, menyeimbangkan tuntutan dengan dukungan emosional, batas yang jelas, dan dorongan otonomi. Hasilnya, anak-anak menjadi mandiri, kompeten secara sosial, dan berprestasi lebih baik.

Penelitian terkini, seperti yang dilakukan oleh Lee et al. (2022), menunjukkan bahwa pola ini dapat memprediksi pengasuhan yang lebih lembut dan mengurangi kekerasan.

Fenomena transisi ini semakin umum di masyarakat kita. Orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, tetapi sering tersandung oleh resistensi. Anak-anak yang terbiasa dengan kontrol ketat menganggap pendekatan baru sebagai “kelemahan”, sementara orang tua sendiri kesulitan memutus siklus intergenerasional. Stres sehari-hari, kurangnya pemahaman tentang proses belajar sosial, serta inkonsistensi selama masa transisi memperburuk situasi.

Di sinilah teori Baumrind dapat digunakan untuk menerapkan peralihan dari pola asuh otoriter ke pola asuh positif. Metode ini memerlukan kehangatan dan responsivitas yang lebih tinggi untuk mencapai hasil optimal, seperti regulasi emosi anak yang lebih baik.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Teori Pembelajaran Sosial

Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) dari Bandura menjelaskan mengapa pendekatan ini kerap dianggap “tidak mempan”. Hal ini terjadi karena perilaku anak diperoleh melalui observasi dan modeling; mereka meniru apa yang mereka lihat.

Jika orang tua masih secara tidak sadar menerapkan hukuman lama, anak akan mempertahankan pola tersebut melalui reinforcement sosial. Saya percaya bahwa penerapan teori ini pada fenomena tersebut menunjukkan bahwa siklus intergenerasional dapat diputus melalui modeling yang disadari. Anak belajar self-regulation melalui contoh dari orang tua, tetapi proses ini membutuhkan waktu.

Oleh karena itu, orang tua perlu lebih sabar dan telaten dalam menerapkan pola asuh positif. Penelitian Garcia et al. (2023) mendukung hal ini dengan menekankan hubungan erat antara pola asuh dan perkembangan anak.

Tantangan memang nyata, tetapi bukan berarti tidak dapat diatasi. Berdasarkan pengalaman saya, strategi kuncinya adalah kesabaran, ketelatenan, dan konsistensi.

Berikan waktu kepada anak untuk mengamati modeling baru. Hindari reaksi impulsif yang justru memperkuat pola lama. Amati perilaku spesifik anak dan contohkan empati serta komunikasi secara konsisten. Misalnya, pujilah otonomi mereka setiap hari.

Woodhouse (2024) dalam studinya tentang authoritative parenting menegaskan bahwa pendekatan ini mampu membangun kepercayaan jangka panjang.

Pada akhirnya, saya optimis bahwa transisi ini akan membawa manfaat besar, yakni anak-anak yang lebih resilien dan orang tua yang lebih efektif dalam pengasuhan. Di Indonesia, tempat nilai keluarga masih sangat kuat, perubahan ini berpotensi menjadi sebuah gerakan kolektif.

Mari kita mulai dari diri sendiri, karena seperti kata Bandura, perubahan dimulai dari modeling yang kita tunjukkan setiap hari.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu