Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyelamatkan Korban Perundungan

Iklan Landscape Smamda
Menyelamatkan Korban Perundungan
Zainal Arifin Emka. Foto: Dok/Pri
Oleh : Zainal Arifin Emka Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik
pwmu.co -

Berita dari Korea Selatan mengingatkan kembali pada masih maraknya kasus perundungan atau bullying di negeri awak. Sepanjang 2025 saja, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat setidaknya 25 anak bunuh diri. Sebagian besar kematian ini diduga terkait dengan perundungan.

Bukan hanya karena bunuh diri. Sebagian meregang nyawa akibat kekerasan fisik. Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) mengungkap data kasus perundungan meningkat tajam. JPPI mencatat 573 kasus kekerasan di sekolah sepanjang 2024, lebih dari 100 persen naik dibanding 2023. Sekitar 31 persen dari kasus itu adalah perundungan.

Berita dari seberang itu mengabarkan tindakan tegas beberapa universitas terkemuka di Korea Selatan. Mereka menolak calon mahasiswa yang memiliki riwayat perundungan atau bullying di sekolah. Meski memiliki nilai akademik tinggi, 45 calon mahasiswa di enam kampus nasional dihadang langkah masuknya oleh kebijakan ini.

Bagaimana dengan Indonesia? Langkah Indonesia belum seekstrem Korea Selatan. Hingga saat ini (November 2025), Indonesia belum memiliki aturan spesifik yang memblokir akses universitas bagi pelaku perundungan. Meski kesadaran akan bahaya bullying telah mencapai tingkat “sangat serius”.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua yang cemas akan pendidikan putra-putrinya biasanya menoleh pada hilangnya pendidikan budi pekerti. Seolah merindukan mata didik di masanya.

Wajar. Sebab sebagian orang tua melihat eratnya kaitan perundungan dengan hilangnya mata didik budi pekerti yang dipandang sebagai salah satu akar masalah paling mendasar.

Di masa lalu, budi pekerti diajarkan sebagai nilai hidup, bukan pelajaran teori. Pendidikan budi pekerti bukan sekadar mata pelajaran. Ia adalah kultur sekolah: cara guru berbicara, cara murid diminta saling menghormati, cara konflik diselesaikan, bahkan cara disiplin dilakukan.

Kehilangan Ruang

Ketika pendidikan budi pekerti kemudian dilebur menjadi bagian kecil dari mata pelajaran lain, nilai-nilainya kehilangan ruang hidup. Anak tidak lagi mendapatkan pembiasaan etis. Tentang bagaimana menahan diri untuk tidak mempermalukan orang, menghargai yang lebih lemah, mengendalikan emosi, meminta maaf dengan tulus, atau merasa bersalah ketika menyakiti.

Tanpa pembiasaan semacam ini, relasi sosial anak tumbuh tanpa fondasi moral yang kuat. nKetika sekolah lebih fokus pada ranking, nilai, capaian kurikulum, persiapan ujian nasional, waktu untuk pembinaan karakter semakin menipis. Anak tanpa sengaja belajar bahwa kecerdasan lebih penting daripada kebaikan. Bahwa prestasi lebih berarti daripada empati.

Dalam situasi seperti itu, perundungan mudah muncul karena struktur sosial di sekolah mendorong kompetisi tanpa menyediakan literasi emosi yang memadai.

Figur Panutan

Pendidikan budi pekerti sudah seharusnya menciptakan guru-guru yang bukan hanya mengajar pengetahuan, tapi juga menuntun perilaku. Guru dihormati bukan karena jabatan, tapi karena keteladanan.

Ketika budi pekerti tidak lagi menjadi inti, peran guru sebagai “penjaga moral ruang kelas” ikut melemah. Guru sibuk administrasi. Waktu mengobrol dengan murid berkurang. Relasi guru–murid menjadi fungsional, bukan emosional.

Padahal perundungan paling mudah dicegah jika ada figur dewasa yang dipercaya dan menjadi rujukan moral.

Ketika budi pekerti hilang, sekolah kehilangan roh kemanusiaannya. Ia berubah menjadi ruang teknis: masuk–belajar–pulang.

Tidak ada mekanisme internal yang kuat untuk mengontrol relasi kuasa, membangun kesadaran etis, menormalisasi empati, mengajarkan cara menyelesaikan konflik dengan damai.

Akhirnya, anak-anak membentuk “hukum sosialnya sendiri”. Dan hukum sosial remaja tanpa nilai adalah: yang kuat menang, yang lemah tertindas. Kondisi seperti inilah yang menjaditanah subr bagi tumbuhnya perundungan.

Para orang tua masa lalu tentu masih ingat, budi pekerti mengajarkan empati. Tanpa empati, kekerasan mudah dianggap wajar. Empati adalah rem moral utama dalam interaksi sosial. Pendidikan budi pekerti mengajarkan empati melalui cerita, teladan, dan pembiasaan. Di situ anak belajar melihat dari sudut pandang orang lain.

Ketika empati tidak diajarkan secara sistematis, anak tidak punya sensor moral untuk memahami bahwa perkataan bisa menyakiti, lelucon bisa merendahkan, diam bisa berarti membiarkan, dan kekerasan adalah kegagalan etika, bukan gaya hidup.

Tanpa empati, bullying menjadi mudah, ringan, bahkan lucu bagi pelaku. Hilangnya budi pekerti membuat sekolah gagal membangun budaya anti–perundungan. Tantangan terbesar perundungan bukan menindak pelaku, tapi menciptakan budaya yang membuat merundung menjadi tidak mungkin.

Budi pekerti mengajarkan budaya itu. Budaya saling menghormati, menegur dengan sopan, membela yang lemah, malu jika menyakiti orang, bangga ketika berbuat baik. Ketika nilai-nilai ini hilang dari sistem, sekolah tidak punya pagar moral yang kokoh. Yang tersisa hanya aturan. Padahal aturan tanpa budaya hanya melahirkan ketakutan, bukan kebaikan.

Budi pekerti adalah jantung pendidikan; hilangnya jantung membuat tubuh tak berfungsi. Pendidikan tanpa budi pekerti adalah bangunan indah tanpa fondasi. Jam belajar panjang, ruang kelas lengkap, teknologi tersedia — tetapi anak-anak berinteraksi tanpa etika, tanpa kepekaan, tanpa rasa tanggung jawab pada sesama.

Di sinilah kita melihat hubungan paling jelas dengan perundungan. Ketika nilai-nilai kemanusiaan berhenti diajarkan, kekerasan menjadi bahasa yang paling mudah dipakai.

Sederhanya kata, maraknya perundungan bukan semata karena anak-anak berubah. Tapi karena ekosistem sekolah kehilangan nilai yang dulu menuntun perilaku: budi pekerti. Di tempat nilai hilang, kekerasan mengambil alih.

Julaibib

Iklan Landscape UM SURABAYA

Akhirnya izinkan saya mengakhiri naskah ini dengan mengangkat kisah Julaibib. Julaibib adalah nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya.
Julaibib pun tersisih.

Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil.

Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Julaibib pun menjadi korban perundungan.

Abu Barzah, seorang pemimpin kabilah, sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Meski hampir semua orang memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur Nabi,. “Julaibib……, tidakkah engkau menikah?”

“Siapakah orangnya Ya Rasulallah yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?” kata Julaibib.

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib.

Hari berikutnya, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin,” kata Rasulullah pada si empunya rumah,

“Menikahkan puteri kalian. Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”
Singkat cerita, orang tua sang putri menolak. Namun sang putri menerima karena ketaatannya pada Rasululloh.

Ini bagian petingnya. Saat Julaibid syahid di medan perang, Sang Nabi begitu kehilangan. Di momen ini beliau mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya di akhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?!”

“Tidak Ya Rasulallah!” serempak. Di kalangan mereka, sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?!” Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasulullah!”

Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri. Rasulullah menghela nafasnya.

“Tetapi aku kehilangan Julaibib!” kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di sekitarnya tergeletak tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid, Julaibib! Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam mensalatkannya secara pribadi. Dan kalimat beliau untuk Julaibib akan membuat iri semua makhluk hingga hari berbangkit.

“Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku.

Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Kisah itu mengirimkan pesan: Sang Teladan seharusnya hadir di samping korban perundungan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu