Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menyemai Energi Positif di Awal Tahun

Iklan Landscape Smamda
Menyemai Energi Positif di Awal Tahun
Najib Sulhan. Foto: Dok/Pri
Oleh : Najib Sulhan Ketua PCM Mulyorejo
pwmu.co -

Awal tahun selalu menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi sekaligus menata ulang arah kehidupan.

Di titik inilah penguatan energi positif menjadi sangat relevan. Energi bukan sekadar konsep fisika, tetapi juga kekuatan batin yang memengaruhi sikap, perilaku, dan bahkan takdir seseorang.

Dalam ilmu pengetahuan dikenal Hukum Kekekalan Energi, yang menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, melainkan hanya berubah bentuk.

Prinsip ini sejatinya juga berlaku dalam kehidupan manusia. Energi positif yang ada dalam diri seseorang tidak akan hilang, ia hanya akan bertransformasi dan memantul kembali dalam bentuk lain.

Islam menegaskan hal ini dengan sangat jelas. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat 7:

“Jika kamu berbuat baik, maka (kebaikan itu) untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat buruk, maka (keburukan itu) kembali kepada dirimu sendiri.”

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, akan kembali kepada pelakunya. Energi positif yang ditanam akan berbuah kebaikan, sementara energi negatif akan berujung pada kesulitan.

Kisah tiga pemuda yang terperangkap di dalam gua menjadi contoh nyata bagaimana energi positif mampu mendatangkan pertolongan Allah.

Batu besar yang menutup pintu gua tidak bisa digeser dengan tenaga, tetapi akhirnya bergeser karena doa yang disertai amal saleh.

Pemuda pertama bertawassul dengan baktinya kepada orang tua. Ia terbiasa memberi minum susu kepada ibunya. Suatu malam, sang ibu tertidur sebelum meminumnya.

Pemuda itu memilih menunggu, tanpa meminumnya lebih dulu, hingga ibunya bangun. Keikhlasan dan pengorbanan itu menjadi energi positif yang luar biasa.

Pemuda kedua menyebutkan amalnya saat menahan diri dari perbuatan zina. Padahal kesempatan terbuka dan tidak ada seorang pun yang melihat.

Namun, ingatannya kepada Allah membuatnya mundur. Integritas moral ini menjadi energi kebaikan yang menyelamatkan.

Pemuda ketiga mengisahkan kejujurannya sebagai majikan. Ia mengembangkan upah karyawannya yang belum sempat diambil hingga usahanya berkembang pesat.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ketika karyawan itu datang, seluruh hasil usaha diserahkan tanpa dikurangi sedikit pun. Amanah dan keadilan itu menjadi energi positif yang menembus langit.

Ketika ketiga pemuda itu berdoa dengan menyebut amal terbaik mereka, batu besar itu bergeser dan jalan keluar pun terbuka. Masalah besar dapat diselesaikan karena energi positif yang mereka miliki.

4 Jalan Allah “Mencairkan” Energi Positif

Setiap energi positif yang dimiliki seseorang tidak akan dibiarkan mengendap. Allah akan “mencairkannya” melalui empat jalan utama, yang dapat dirangkum dalam empat kata berakhiran “TA”.

Pertama, Cinta. Energi positif melahirkan cinta yang tulus. Anak mencintai orang tua, suami dan istri saling menyayangi, keluarga dipenuhi kehangatan. Guru pun akan dicintai murid-muridnya karena ketulusan dan keteladanannya.

Kedua, Kata. Energi positif membuat kata-kata mudah diterima. Nasihat orang tua didengar anak, komunikasi dalam keluarga berjalan dengan saling menghargai. Begitu pula guru, ucapannya dipahami dan membekas karena disampaikan dengan niat baik.

Ketiga, Tahta. Bukan sekadar jabatan, tetapi kemuliaan. Allah memuliakan keberadaan seseorang, dan manusia pun menghargainya. Semua itu terjadi karena kehadirannya membawa manfaat dan kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Keempat, Harta. Allah melimpahkan rezeki dari arah yang kadang tidak disangka-sangka. Rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi juga kesehatan, ketenangan batin, dan rasa cukup dalam hidup—semuanya adalah nikmat yang luar biasa.

Memasuki tahun 2026, penguatan energi positif menjadi kebutuhan mendesak. Dunia boleh berubah cepat, tantangan boleh semakin kompleks, tetapi energi positif yang terpelihara akan menjadi bekal utama dalam menjalani kehidupan.

Semakin besar energi positif yang kita tanam—dalam niat, sikap, dan perbuatan—semakin besar pula dampak kebaikan yang akan kita rasakan.

Dan pada akhirnya, kita yakin bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu