Suasana khusyuk dan penuh semangat kembali menyelimuti pelaksanaan shalat Tarawih hari kesembilan di Musholla Al-Jihad Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Giri Gajah, PCM Kebomas, Rabu (25/02/2026).
Jamaah hadir dengan antusias, mengikuti rangkaian ibadah dengan tertib dan penuh kekhidmatan. Pada kesempatan tersebut, jamaah mendapatkan siraman rohani dari dai muda Muhammad Yusuf Siddiqi yang sekaligus bertindak sebagai imam shalat Tarawih.
Yusfi, demikian ia akrab disapa, merupakan seorang santri di Ma’had Umar bin Khattab Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Tentang Ikhlas
Yusfi menyampaikan tausiyahnya yang bertema “Ibadah dengan Ikhlas Mengharap Ridho Allah SWT”.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa ikhlas adalah memurnikan niat hanya karena Allah semata, bukan karena ingin dipuji, dilihat manusia, atau mengharapkan balasan dunia.
Ikhlas berarti menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap amal yang dilakukan. Ia mengingatkan firman Allah dalam QS. Az-Zumar ayat 11 yang menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya.
Sebab tanpa keikhlasan, amal yang tampak besar bisa kehilangan nilainya di hadapan Allah.
Lebih lanjut, Yusfi menjelaskan bahwa keikhlasan dapat terlatih melalui beberapa langkah sederhana namun mendalam.
Setiap ibadah hendaknya berawal dengan meluruskan niat, menanamkan kesadaran bahwa semua dilakukan untuk mencari ridho Allah.
Saat beribadah, pikiran diarahkan sepenuhnya kepada Allah dengan melupakan sejenak berbagai urusan dunia, sehingga hati benar-benar hadir dalam setiap doa dan munajat.
Ia juga mengajak jamaah untuk menghadirkan rasa bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui apa yang ada di dalam hati, sebagaimana makna ihsan dalam hadits Rasulullah SAW.
Selain itu, seseorang perlu membiasakan diri untuk tidak terpengaruh oleh pujian ataupun celaan manusia, serta senantiasa memohon kepada Allah agar diberi hati yang bersih dari riya’ dan kesombongan.
Lebih dari Sekadar Ritual
Sebagai penguat pesan, Yusfi mengutip QS. Al-An’am ayat 162–163 yang mengajarkan bahwa shalat, ibadah, hidup, dan mati seorang hamba hendaknya dipersembahkan hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa keikhlasan bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan.
Ramadhan, menurutnya, adalah momentum terbaik untuk melatih ketulusan hati melalui puasa, shalat, sedekah, dan berbagai amal kebaikan yang diniatkan semata-mata karena Allah.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW bahwa setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.
Tausiyah yang tersampaikan dengan bahasa yang sederhana dan menyentuh hati tersebut memberikan ketenangan sekaligus motivasi bagi jamaah untuk memperbaiki kualitas ibadah. Tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi juga dari kedalaman niat dan ketulusan hati.
Kegiatan Tarawih beserta kajian rutin ini menjadi bagian dari upaya PRM Giri Gajah dalam menghidupkan Musholla Al-Jihad sebagai pusat pembinaan keimanan dan penguatan spiritual masyarakat selama bulan suci Ramadhan.
Sehingga setiap langkah ibadah yang dilakukan semakin mendekatkan diri kepada ridho Allah SWT.






0 Tanggapan
Empty Comments