Roda waktu seakan berputar lebih cepat di awal Januari itu.
Di saat kalender baru saja berganti, kami di Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Kota Malang seharusnya sudah mulai mengeksekusi konsep Pelatihan Kader Madya Taruna Melati II (PKMTM II).
Namun, realita seringkali tak seindah rencana di atas kertas. Tim kefasilitatoran baru benar-benar terbentuk dan bergerak efektif tepat sebulan sebelum genderang acara ditabuh.
Di bawah tekanan waktu dan arahan bidang perkaderan serta bantuan beberapa pakar, kami merumuskan sebuah visi besar: “Regenerasi Gerakan Pelajar: Building Sustainable Leadership”.
Ini bukan sekadar tema panggung, melainkan kegelisahan kami tentang bagaimana kepemimpinan pelajar harus terus berkelanjutan, bukan sekadar estafet jabatan yang kering makna.
Ketegangan mencapai puncaknya pada H-1. Saat pengumuman peserta yang lolos tahap screening diunggah, rasa tidak enak hati merayap di dada.
Antusiasme pelajar se-Malang Raya (dan sekitarnya) begitu meledak.
Mengeliminasi nama-nama calon kader satu per satu adalah pekerjaan emosional yang berat.
Namun, demi efektivitas, kami menetapkan 55 nama.
Meski angka ini melampaui batas ideal pelatihan madya, kami percaya 12 fasilitator di lapangan mampu menjadi dirigen yang baik bagi orkestra energi para peserta ini.
Keluar dari Menara Gading: Laboratorium Realita
Terinspirasi dari penuturan senior dan diskusi hangat dengan Kepala Bidang Perkaderan tentang pentingnya kader membaca isu terkini, muncul ide liar: membawa AI keluar dari sekat ruangan.
Kami memetakan minat peserta ke dalam tiga ranah besar: Literasi, Lingkungan, dan Kewirausahaan.
Panitia bergerak secepat kilat menjalin kerja sama dengan tiga lokasi strategis di Malang sebagai laboratorium praktik.
Tibalah kami di hari ketiga, saat teori mulai berbenturan dengan realita.
Kami membagi tim ketiga titik nadi kreativitas Malang: “Rumah Budaya Ratna” untuk para pecinta literasi, “Edu Park UMM” bagi aktivis lingkungan, dan “Batik Soendari” bagi mereka yang ingin menyelami kewirausahaan.
Di sana, dalam waktu yang sempit, peserta dipaksa melakukan “Laga Appreciative Inquiry“.
Mereka menerapkan empat unsur inti: Discovery, Dream, Design, dan Destiny.
Mereka tidak datang sebagai turis, tapi sebagai pengamat yang mengidentifikasi potensi, memimpikan perubahan, hingga merancang langkah nyata.
Hasilnya? Luar biasa. Saat sesi presentasi, gagasan segar bermunculan.
Ada yang bertekad membentuk komunitas baru, merancang forum diskusi, hingga ide unik melestarikan budaya melalui “Museum Pelajar”.
Di titik ini, saya menyadari satu hal: gagasan hebat tidak lahir dari isolasi pemikiran, melainkan dari kelompok yang solid dan rasa memiliki dalam satu keluarga besar IPM yang utuh.
Membangun “Ashabiyah” Pelajar Muhammadiyah
Di balik teknis pelatihan, ada satu ruh yang saya rasakan mengalir kuat: Ashabiyah.
Dalam sosiologi Ibnu Khaldun, Ashabiyah adalah solidaritas sosial atau kesadaran kelompok yang menjadi pendorong peradaban.
Dalam konteks IPM, Ashabiyah bukan berarti fanatisme buta, melainkan menjadikan IPM sebagai “Rumah Bersama”.
Esensi PKMTM II bukan sekadar mencetak kader yang hafal AD/ART, melainkan memperkuat pondasi rumah yang mulai retak dimakan zaman.
Tiga hari dua malam adalah waktu yang singkat untuk belajar teori, namun waktu yang cukup untuk membangun ikatan yang lebih dari sekadar teman organisasi.
Banyak hal di IPM yang sangat berbeda dengan organisasi kampus atau organisasi lainnya.
Saya merasakannya sendiri. Disini, cara senior mendidik junior seperti kakak yang membimbing adiknya dengan kasih sayang, bukan senioritas yang menindas.
Bahkan, tak jarang yang lebih tua justru belajar dari kejernihan pikiran adiknya.
Di IPM, kita tidak sedang berebut posisi, melainkan beradu loyalitas dan kompetensi.
Di pikiran kader IPM, pertanyaannya bukan “Siapa aku di organisasi?“, melainkan “Bagaimana IPM menjadi lebih baik dengan kehadiranku?“.
Epilog: Organisasi adalah Perasaan Saling Memiliki
Seringkali kita terjebak pada struktur dan lupa pada esensi.
Kita lupa bahwa tujuan bersama tidak bisa dibungkus oleh kepentingan pribadi.
Jika tujuannya adalah kejayaan ikatan, maka kita harus memiliki frekuensi perasaan yang sama: kebersamaan dan satu keluarga.
Pemahaman Ashabiyah adalah kunci baik buruknya sebuah organisasi.
Ciri-cirinya sederhana: jika kita bisa berjuang, berkorban, menangis, tertawa, kecewa, dan bermimpi bersama tanpa pernah menghitung apa yang telah kita berikan.
Kita justru hanya mengingat momen-momen yang membuat kita tersenyum sendiri di kala malam yang sunyi.
PKMTM II Kota Malang tahun ini mungkin telah usai secara seremonial.
Namun, api yang tersulut di Rumah Budaya Ratna, Edu Park UMM, dan Batik Soendari harus tetap menyala.
Karena bagi saya, organisasi yang berhasil bukanlah yang paling banyak kegiatannya, melainkan yang paling berhasil membuat anggotanya merasa memiliki rumah untuk pulang.
Di IPM, kita tidak hanya belajar memimpin, kita belajar mencintai rumah kita sendiri.
Dan dari rumah kecil inilah, kepemimpinan berkelanjutan itu akan kita bangun untuk masa depan peradaban.***






0 Tanggapan
Empty Comments