Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Milad ke-113 Muhammadiyah: Pentingnya Meneguhkan Ideologi AUM

Iklan Landscape Smamda
Milad ke-113 Muhammadiyah: Pentingnya Meneguhkan Ideologi AUM
Oleh : Abdul Rhosid Sekretaris MPKSDI PDM Ponorogo
pwmu.co -

Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tumbuh dengan pesat menjadi entitas besar yang keberadaannya memperoleh pengakuan —baik di internal internal persyarikatan maupun di lingkungan sosial yang lebih luas.

Dalam lintasan sejarah, AUM telah bertransformasi dari gerakan sosial keumatan menjadi sebuah lembaga yang profesional dan adaptif terhadap tantangan modern.

Rumah Sakit, Sekolah, Universitas, hingga lembaga keuangan Muhammadiyah kini menjadi contoh konkret bagaimana nilai-nilai Islam berkemajuan diwujudkan dalam tata kelola profesional.

Persoalannya kini, menjaga keberlangsungan AUM bukanlah perkara mudah. Di balik kesuksesan dan reputasi besar yang terbangun selama lebih dari satu abad, tersimpan sebuah tanggung jawab moral dan ideologis yang tidak ringan.

Keberadaan AUM tidak hanya menjadi simbol kemajuan organisasi, tetapi juga representasi dari cita-cita dakwah Islam berkemajuan sebagai rintisan Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Di sinilah letak tantangan utama: bagaimana memastikan bahwa di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, semangat perjuangan dan nilai keikhlasan tetap terjaga sebagai roh dari seluruh aktivitas amal usaha tersebut.

Di era modern dan persaingan global ini, AUM harus terus bekerja lebih baik dan efisien, sama seperti perusahaan atau lembaga profesional lainnya.

Namun, AUM juga harus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dasar agama dan sosial yang menjadi dasar berdirinya.

Ketegangan antara mengejar keuntungan atau efisiensi kerja dengan menjalankan misi dakwah inilah yang membuat pengelolaan AUM berbeda dari perusahaan biasa atau organisasi sosial pada umumnya.

Pengelolaan AUM harus menggunakan prinsip manajemen modern, seperti: bertanggung jawab (akuntabilitas), terbuka (transparansi), inovatif, dan mampu bersaing.

Di saat yang sama, semua kegiatannya harus berdasarkan niat ikhlas, rasa persaudaraan, dan tujuan untuk mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.

Oleh karena itu, membutuhkan komitmen dan loyalitas yang tinggi dari Sumber Daya Insani (SDI) atau para pekerjanya.

Komitmen ini tidak cukup hanya diukur dari hasil kerja atau produktivitas semata, melainkan juga dari sejauh mana para pekerja mampu menginternalisasi nilai-nilai Muhammadiyah dalam sikap dan cara kerjanya.

Loyalitas ideologis menjadi kunci agar AUM tidak salah arah di tengah tuntutan profesionalisme yang terkadang terlalu fokus pada hasil materi.

Penting dipahami bahwa AUM adalah lembaga yang unik. Ia tidak sepenuhnya bisa disebut perusahaan pencari laba, tetapi juga tidak murni organisasi sosial biasa.

AUM berada di titik temu antara keduanya: sebuah amal usaha yang produktif sekaligus mengandung makna dakwah.

Keseimbangan inilah yang menjadi inti dari keberlanjutan AUM. Tanpa manajemen ekonomi yang baik, AUM tidak akan bertahan di era modern ini.

Namun, tanpa tujuan dakwah dan nilai keikhlasan, AUM akan kehilangan jati diri perjuangan Muhammadiyah.

Menjaga keberlangsungan AUM berarti memastikan kedua dimensi tersebut berjalan seimbang secara bersamaan.

Profesionalisme harus didasari oleh keikhlasan, dan keikhlasan harus diwujudkan dalam kerja yang profesional.

Di sinilah pentingnya manajemen SDI yang kuat, proses rekrutmen yang teliti, pembinaan nilai-nilai yang berkelanjutan, serta kepemimpinan yang mampu menyatukan visi ekonomi dan misi dakwah secara harmonis.

Hanya dengan cara itu, AUM dapat terus tumbuh menjadi lembaga yang unggul sekaligus konsisten menyebarkan nilai-nilai Islam berkemajuan di masyarakat.

Pendayagunaan kader berkualitas

Rekrutmen dan penataan SDI di lingkungan AUM harus mengedepankan dua sisi: profesionalitas dan ideologis Kemuhammadiyahan.

AUM tidak bisa hanya dikelola dengan bermodal semangat sosial yang tinggi, tetapi juga mengharuskan adanya kemampuan manajerial dan kompetensi profesional.

Sebaliknya, AUM juga tidak sepatutnya hanya bertumpu pada profesionalitas tapi miskin visi ideologis Muhammadiyah.

AUM tidak boleh kehilangan roh dakwahnya, karena berubah menjadi lembaga kapitalistik semata.

Karena itu, pendayagunaan atau pelibatan kader pilihan —yang teruji secara ideologis, sekaligus kompetensinya— dalam AUM merupakan langkah cerdas untuk menjaga proses kaderisasi secara berkelanjutan.

Kader merupakan aset strategis persyarikatan —karena sudah ditempa dengan pemahaman nilai dan visi gerakan yang mendalam.

Dalam konteks gerakan Muhammadiyah, ideologi merupakan fondasi moral dan spiritual yang menuntun setiap kader dalam mengambil keputusan, bertindak, dan berkontribusi.

Profesionalitas dapat diajarkan melalui pendidikan dan pelatihan teknis, tetapi membentuk keikhlasan, komitmen, dan militansi gerakan hanya dapat diproses melalui ideologisasi yang mendalam.

Pendek kata, pentingnya mengutamakan memperkuat basis ideologis terlebih dahulu, berikutnya mengembangkan kompetensi profesionalitasnya.

Hal ini merupakan langkah strategi yang realistis untuk menciptakan kader persyarikatan yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Logikanya sebenarnya sederhana: AUM bisa saja mengalokasikan dana besar untuk penguatan ideologi kepada SDI yang sudah ada. Meskipun dalam praktiknya, hal ini tidak semudah itu.

Sebab, sebagian dari mereka bergabung dengan AUM bukan karena panggilan ideologi, melainkan semata-mata untuk bekerja dan mencari nafkah.

Orientasi kerja yang pragmatis ini sering kali membuat proses penanaman nilai-nilai Muhammadiyah berjalan lambat dan kurang efektif.

Akibatnya, meski secara administratif mereka bagian dari AUM, secara ideologis belum tentu mereka memahami. Apalagi mengamalkan semangat tajdid (pembaharuan), dakwah, dan keikhlasan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.

Sebaliknya, jika dana yang sama digunakan untuk membina dan mendidik kader yang sudah punya dasar ideologi Muhammadiyah agar menjadi profesional, hasilnya akan jauh lebih nyata, berdaya guna, dan berkelanjutan.

Proses ini tidak hanya membentuk tenaga kerja yang cakap teknis, tetapi juga melahirkan insan yang bekerja dengan kesadaran ideologis, integritas, dan loyalitas tinggi terhadap misi organisasi.

Kader seperti inilah yang tidak hanya bekerja untuk menggugurkan kewajiban, tetapi juga berjuang melalui profesinya, menjadikan amal usaha sebagai ladang dakwah dan pengabdian.

Profesionalisme sekaligus ideologis

Model pengembangan SDI seperti ini sejalan dengan prinsip dasar kaderisasi Muhammadiyah: membangun manusia yang utuh—berilmu, beramal, dan berakhlak.

Profesionalitas tanpa ideologi akan menghasilkan pekerja yang mungkin kompeten, tetapi rapuh dalam komitmen.

Sebaliknya, ideologi tanpa profesionalitas berisiko melahirkan semangat besar tanpa daya saing.

Maka, keseimbangan keduanya harus menjadi orientasi strategis AUM di masa depan.

Dengan demikian, investasi terbaik bagi AUM bukan sekadar memperbanyak pelatihan sesaat, melainkan mencetak kader ideologis yang profesional.

Kader seperti ini akan menjadi penggerak sejati amal usaha: profesional dalam kinerja, ideologis dalam visi, dan berkomitmen penuh pada perjuangan Muhammadiyah.

Mereka bukan hanya bekerja di bawah nama Muhammadiyah, tetapi hidup dan berjuang bersama ruh gerakannya.

Kini, pilihan strategis sepenuhnya berada di tangan para pimpinan AUM. Apakah mereka akan terus mempertahankan sikap semu—berulang kali menyerukan pentingnya kaderisasi, namun enggan memberi ruang nyata bagi kader muda untuk belajar, berproses, dan tumbuh?

Ataukah mereka berani mengambil langkah berani: menjadi pemimpin visioner yang tidak sekadar memelihara sistem yang ada, tetapi menyiapkan pondasi kokoh bagi lahirnya generasi penerus yang kuat, tangguh, dan berjiwa Muhammadiyah sejati?

Kaderisasi bukan slogan yang cukup sebagai ucapan di forum-forum resmi, melainkan komitmen moral dan strategis yang harus terwujud dalam kebijakan, kesempatan, dan kepercayaan.

Pimpinan AUM perlu menyadari bahwa kader muda tidak akan tumbuh hanya dengan menyuruh “mengabdi”. Lebih utama dari itu adalah memberinya ruang untuk berkontribusi, bereksperimen, dan bahkan melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.

Pemimpin visioner bukanlah yang takut kehilangan posisi, melainkan yang berani mempersiapkan pengganti yang lebih baik darinya.

Sesungguhnya, keberlanjutan AUM tidak ditentukan oleh seberapa besar laba dalam laporan keuangan hari ini.

Namun, seberapa kuat nilai, ideologi, dan semangat tajdid diwariskan kepada generasi berikutnya.

AUM bisa saja makmur secara material, tetapi akan kehilangan ruh perjuangan jika para pemimpinnya abai terhadap proses kaderisasi ideologis.

Sebaliknya, jika AUM menanamkan nilai dan membangun manusia. Kekuatan moral dan spiritual akan menjadi sumber keberkahan dan daya tahan jangka panjang.

Dengan demikian, masa depan AUM bergantung pada keberanian para pemimpinnya hari ini—berani memilih antara kepentingan jangka pendek atau visi peradaban yang lebih besar.

Sejarah hanya akan mencatat mereka yang berpihak pada nilai, pada kader, dan pada cita-cita besar Muhammadiyah untuk menegakkan dan menjayakan Islam yang berkemajuan.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu