Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Gempolpading, Pucuk, menyelenggarakan peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah, Rabu (19/11/2025) malam hari dengan rangkaian acara yang berlangsung khidmat dan tertib.
Kegiatan dimulai tepat pukul 19.15 dan dihadiri para tokoh masyarakat, warga Persyarikatan, serta unsur Ortom Muhammadiyah.
Acara dibuka oleh Lya Wayuning Dya dari Nasyiatul Aisyiyah, dilanjutkan pembacaan tilawah dan sari tilawah QS Ali Imran ayat 104 oleh Hisyam dan Syahdan dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Selanjutnya, lantunan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah oleh Hastawati (NA) turut menambah semarak.
Memasuki sesi berikutnya, Arif dari Kokam membacakan tema dan tujuan Milad ke-113 Muhammadiyah dan berlanjut dengan pembacaan sepuluh sifat kepribadian Muhammadiyah oleh Adib Dzunnur’ain dari Tapak Suci.
Kedua sesi ini menguatkan kembali karakter ideologis Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.
Puncak acara diisi Amanat Milad oleh Ustaz Dr. Piet H. Khaidir M.A Sekretaris PDM Lamongan. Dalam pesannya, ia menegaskan bahwa usia 113 tahun merupakan karunia besar yang harus disyukuri oleh seluruh warga Muhammadiyah.
“Siapa pun yang menjadi bagian dari Muhammadiyah wajib menjaga khittah Muhammadiyah,” ujarnya mengawali tausiyah.
Ia mengajak warga Persyarikatan untuk terus menghidupkan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah, tidak hanya melalui retorika, tetapi dengan memahami dokumen resmi dan gerakan autentiknya. Menurutnya, Muhammadiyah harus terus memberi kontribusi besar bagi kemajuan umat dan bangsa.
Mengulas tema Milad ke-113, Ustaz Piet menekankan pentingnya memajukan kesejahteraan bangsa melalui pemanfaatan potensi alam dan kualitas sumber daya manusia.
“Bangsa ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa, dan SDM kita tidak kalah hebat dengan bangsa lain. Yang sering menjadi masalah adalah apakah potensi itu benar-benar dimajukan dan ditangkap peluangnya atau tidak,” jelasnya.
Ia menuturkan bahwa banyak mahasiswa Indonesia yang mampu menjadi terbaik saat menempuh studi di luar negeri, namun tidak seluruhnya mendapatkan ruang yang memadai ketika kembali ke tanah air. Di sinilah pentingnya menghadirkan sistem yang mampu memajukan dan memberdayakan.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya data yang akurat dalam pengembangan kesejahteraan. Ustaz Piet mencontohkan program pendataan warga Muhammadiyah yang sedang berlangsung.
Jika 300.000 warga Muhammadiyah berinfak seribu rupiah per hari, maka akan terkumpul sekitar 300 juta rupiah setiap harinya.
“Ini kekuatan dahsyat jika sistemnya rapi. Data harus lengkap dan valid agar kesejahteraan benar-benar bisa dimajukan,” tegasnya.
Di akhir amanat, Ustaz Piet menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak bisa bekerja sendirian. Gerakan memajukan kesejahteraan bangsa harus dilakukan secara kolaboratif—memperbanyak jaringan, membangun kawan, dan bekerja bersama.
Ia juga menekankan sikap Muhammadiyah dalam bernegara: mendukung program pemerintah yang membawa kemaslahatan, mendorong, dan mengawalnya agar benar-benar mewujudkan kesejahteraan rakyat.
“Kita harus berdiri pada posisi yang meneguhkan, mendukung program yang baik, dan memberi dorongan agar bangsa ini betul-betul menjadi bangsa yang sejahtera baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tuturnya.
Acara ditutup dengan doa keberkahan Milad yang dipimpin KH. Dhuha Isma’il, Ketua PRM Gempolpading.


0 Tanggapan
Empty Comments